Akurat

Bursa Karbon Masih Sepi Peminat, Apa Yang Salah? Begini Kata OJK

Aris Rismawan | 10 Oktober 2023, 09:21 WIB
Bursa Karbon Masih Sepi Peminat, Apa Yang Salah? Begini Kata OJK

AKURAT.CO Bursa karbon resmi diluncurkan sejak 26 September 2023. Namun, peluncuran bursa karbon masih di luar ekspektasi. Hingga hari ini, bursa karbon terpantau masih sepi dibandingkan dengan pasar saham.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Inarno Djajadi menyampaikan, tidak perlu membandingkan pasar bursa karbon dengan pasar saham di Indonesia.

“Tidak perlu untuk membandingkan bursa karbon dengan pasar saham, ini karakternya beda dan bukan perdagangan yang spekulasi yang dalam satu hari akan keluar. Tapi kalau kita lihat perdagangannya yang ada dan kita evaluasi, ini menunjukkan perkembangan yang cukup baik,” kata Inarno dalam konferensi pers RDK Bulanan OJK September 2023, Senin (9/10/2023).

Baca Juga: Presiden Jokowi Resmikan Peluncuran Bursa Karbon Indonesia

Lebih merinci, Inarno menjelaskan, perdagangan bursa karbon di Indonesia secara berkala akan dievaluasi oleh pihak otoritas, dan selama ini menunjukkan perkembangan yang cukup baik dibandingkan dengan bursa karbon negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

“Bursa karbon Malaysia butuh waktu lebih dari satu tahun, bursa karbon Indonesia telah terjadi transaksi sebesar Rp29,2 miliar dan unit karbon yang diperdagangkan hampir 460 ribu ton CO2 dan ada 16 pelaku, 1 penjual yaitu PGEO dan 15 perusahaan pembeli,” ucap Inarno.

Sementara, Inarjo juga mengungkapkan, OJK akan terus mengkaji terhadap perkembangan bursa karbon dan akan terus berkolaborasi dengan lembaga yang terkait untuk memperbanyak supply dan demand perdagangan bursa karbon.

Baca Juga: Perdana, Bursa Karbon RI Transaksikan 459.914 tCO2e Kredit Karbon

“Kami akan terus berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hingga Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dan Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi dengan harapannya supply unit karbon makin banyak dan juga transaksinya,” ungkap Inarno.[]

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.