Sri Mulyani: WTO Melemah, Dunia Dihadapkan Risiko Konflik Dagang

AKURAT.CO Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati, menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap dampak perang tarif yang dipicu Amerika Serikat terhadap stabilitas perekonomian global.
Dirinya menegaskan bahwa kebijakan resiprokal berupa tarif dagang yang diberlakukan secara sepihak telah menimbulkan respons beragam dari berbagai negara dan memperburuk kondisi ekonomi dunia yang rapuh sejak awal tahun.
"Respons negara-negara terhadap kebijakan tarif AS beragam, dari negosiasi bilateral hingga retaliasi dalam bentuk tarif balasan," kata Sri Mulyani saat ditemui di Jakarta, Selasa (20/5/2025).
Baca Juga: Sri Mulyani Ungkap Penyebab Mandeknya Transisi Energi di Dunia
Dirinya menambahkan, lembaga global seperti World Trade Organization (WTO) yang semestinya menjadi forum penyelesaian konflik dagang tidak lagi berfungsi secara efektif.
"WTO de facto tidak berjalan, sehingga dunia dibayangi oleh ketidakpastian akibat perang dagang, perang keuangan, bahkan potensi konflik militer," ujarnya.
Situasi ini, lanjut Sri Mulyani, menyebabkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global direvisi ke bawah oleh Dana Moneter Internasional (IMF).
Untuk tahun 2025, pertumbuhan global diperkirakan hanya mencapai 2,8%, turun 0,5% dari proyeksi sebelumnya. Sementara pada 2026, pertumbuhan diperkirakan sebesar 3%, juga lebih rendah 0,3% dari prediksi awal sebelum kebijakan perang tarif diberlakukan.
Dalam ketidakpastian tersebut, sejumlah negara mulai menunjukkan tanda-tanda kontraksi ekonomi. Korea Selatan tercatat mengalami pertumbuhan negatif 0,1% secara tahunan pada kuartal pertama 2025, menandai kontraksi pertama sejak pandemi COVID-19 tahun 2020.
Baca Juga: Gejolak Ekonomi Global Hambat Transisi Energi, Sri Mulyani Wanti-wanti Ancaman Krisis Iklim
Dari kawasan Asia Tenggara, perlambatan juga terjadi. Pertumbuhan ekonomi Malaysia turun dari 4,9% pada kuartal keempat 2024 menjadi 4,4% di kuartal pertama 2025. Singapura bahkan mengalami penurunan tajam dari 5% menjadi 3,8% year on year.
Amerika Serikat, negara pemicu kebijakan tarif, juga tak luput dari dampaknya. Pertumbuhan ekonomi negeri Paman Sam turun dari 2,5% menjadi 2%.
"AS bahkan sempat tumbuh hingga 3 persen pada kuartal kedua tahun lalu, namun kini mengalami kontraksi karena lonjakan impor," jelas Sri Mulyani.
Negara-negara dengan ketergantungan ekspor tinggi ke AS mengalami tekanan besar. Meksiko harus menerima pemangkasan proyeksi pertumbuhan sebesar 1,7%, Thailand 1,1%, Vietnam 0,9%, dan Filipina 0,6%.
Indonesia pun terkena dampaknya, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 dan 2026 yang diturunkan oleh IMF menjadi 4,7%, atau turun 0,4% dari proyeksi sebelumnya.
Untuk mengantisipasi dampak negatif tersebut, pemerintah Indonesia terus mengupayakan reformasi ekonomi melalui berbagai strategi.
"Kami mendorong penyederhanaan regulasi dan peningkatan investasi agar pertumbuhan tetap mendekati 5 persen," ujar Sri Mulyani.
Dirinya menegaskan bahwa fundamental perekonomian, khususnya iklim investasi dan perdagangan, terus diperkuat melalui deregulasi dan diplomasi ekonomi.
Selain itu, penggunaan instrumen fiskal melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga dioptimalkan. Pemerintah memberikan insentif kepada dunia usaha dan perlindungan kepada masyarakat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
"Semua langkah ini dijalankan dengan menjaga APBN agar tetap sehat, kredibel, dan efektif," tegasnya.
Sri Mulyani menyampaikan pernyataan tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, yang menurutnya menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat bangsa menghadapi tantangan global.
"Hari ini, 20 Mei, kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Ini adalah momen reflektif untuk melawan ketidakpastian global dengan reformasi dan semangat kebangsaan," tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










