Investor Kripto Tembus 10,16 Juta per April 2024, Naik Signifikan
Demi Ermansyah | 29 Mei 2024, 14:18 WIB

AKURAT.CO Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi mencatat adanya pertumbuhan signifikan terhadap jumlah investor kripto di Indonesia. Per April 2024, jumlahnya mencapai 20,16 juta.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Berjangka Komoditi Bappebti Tirta Karma Sanjaya. "Industri kripto terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. Per April 2024 lalu, jumlah investor kripto di Indonesia telah mencapai 20,16 juta orang. Di periode yang sama, transaksi kripto di Indonesia juga menyentuh Rp158,84 triliun," katanya di Jakarta, Selasa (28/5/2024).
Meskipun alami pertumbuhan yang signifikan, industri kripto Indonesia masih menghadapi banyak tantangan. Chief Compliance Officer (CCO) Reku dan Ketua Umum Asosiasi Pedagang Kripto Indonesia (Aspakrindo) Robby bahwa industri kripto Indonesia masih menghadapi tantangan besar yakni kurangnya literasi tentang inklusivitas aset kripto.
Meskipun alami pertumbuhan yang signifikan, industri kripto Indonesia masih menghadapi banyak tantangan. Chief Compliance Officer (CCO) Reku dan Ketua Umum Asosiasi Pedagang Kripto Indonesia (Aspakrindo) Robby bahwa industri kripto Indonesia masih menghadapi tantangan besar yakni kurangnya literasi tentang inklusivitas aset kripto.
Baca Juga: Soal Risiko Investasi Kripto, Bappebti: Investor Harus Riset Mandiri Sebelum Investasi
Hal itu tercermin dalam riset yang diadakan Reku kepada 300 responden di Jawa-Bali tentang alasan masyarakat belum berinvestasi kripto. Berdasarkan hasil riset tersebut, alasan utama masyarakat belum berinvestasi kripto adalah tingginya risiko sebanyak 44%, disusul dengan tidak memahami fundamental sebanyak 40%, tidak familiar dengan aset kripto sebesar 35%, banyaknya isu negatif 34%, dan fluktuasi harga yang tajam 31%.
"Ini menunjukkan aset kripto masih dianggap sebagai instrumen yang hanya cocok untuk investor dengan profil risiko yang tinggi. Padahal, setiap aset kripto memiliki karakteristiknya masing-masing," ujar Robby.
Ia menambahkan terdapat aset kripto dengan fluktuasi yang tergolong landai, sehingga cocok untuk investor dengan profil risiko menengah. Ada juga strategi yang bisa dimanfaatkan oleh investor jangka panjang, misalnya staking.
"Sehingga, ini tergantung bagaimana kita menemukan kecocokan aset kripto dengan profil risiko dan tujuan investasi," imbuhnya.
Hal itu tercermin dalam riset yang diadakan Reku kepada 300 responden di Jawa-Bali tentang alasan masyarakat belum berinvestasi kripto. Berdasarkan hasil riset tersebut, alasan utama masyarakat belum berinvestasi kripto adalah tingginya risiko sebanyak 44%, disusul dengan tidak memahami fundamental sebanyak 40%, tidak familiar dengan aset kripto sebesar 35%, banyaknya isu negatif 34%, dan fluktuasi harga yang tajam 31%.
"Ini menunjukkan aset kripto masih dianggap sebagai instrumen yang hanya cocok untuk investor dengan profil risiko yang tinggi. Padahal, setiap aset kripto memiliki karakteristiknya masing-masing," ujar Robby.
Ia menambahkan terdapat aset kripto dengan fluktuasi yang tergolong landai, sehingga cocok untuk investor dengan profil risiko menengah. Ada juga strategi yang bisa dimanfaatkan oleh investor jangka panjang, misalnya staking.
"Sehingga, ini tergantung bagaimana kita menemukan kecocokan aset kripto dengan profil risiko dan tujuan investasi," imbuhnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










