Penyelidikan Qualcomm oleh China Picu Perang Dagang dengan AS Memanas

AKURAT.CO Pemerintah China angkat bicara mengenai langkah otoritasnya terhadap perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Qualcomm. Hal ini dilakukan sebelum Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan tarif tambahan sebesar 100 persen terhadap produk asal Tiongkok.
Pada 10 Oktober, regulator pasar China, State Administration for Market Regulation (SAMR), resmi meluncurkan penyelidikan anti-monopoli terhadap Qualcomm. Perusahaan semikonduktor asal AS itu dituding melanggar aturan karena tidak melaporkan akuisisinya terhadap perusahaan chip asal Israel, Autotalks.
Kesepakatan akuisisi antara Qualcomm dan Autotalks sebenarnya telah selesai pada Juni 2025. Namun, SAMR menilai Qualcomm gagal memenuhi kewajiban pelaporan yang menjadi bagian dari peraturan persaingan usaha di China.
Dikutip dari Times of India, Rabu (15/10/2025), SAMR menjelaskan bahwa sejak Maret 2024, pihaknya telah memberitahu Qualcomm mengenai kewajiban untuk mendapatkan izin dari otoritas China. Qualcomm kala itu mengonfirmasi tidak akan melanjutkan proses akuisisi tersebut.
Meski begitu, pada Juni 2025, Qualcomm justru menyelesaikan kesepakatan tanpa memberi tahu regulator China. Hal ini kemudian memicu peluncuran penyelidikan resmi oleh otoritas pasar Tiongkok.
Regulator China menegaskan bahwa Qualcomm telah mengakui kelalaian administratif tersebut. Pengakuan itu menjadi dasar kuat bagi Beijing untuk menindaklanjuti kasus ini melalui mekanisme hukum yang berlaku.
Kasus ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan hubungan perdagangan antara AS dan China. Situasi tersebut kembali memanas menjelang pertemuan penting antara Presiden Xi Jinping dan Donald Trump.
Pada hari yang sama dengan pengumuman penyelidikan, Trump memposting pernyataan keras di media sosialnya. Ia mengancam akan memberlakukan tarif tambahan hingga 100 persen terhadap produk-produk yang diimpor dari China.
Kebijakan tarif baru itu dianggap sebagai langkah politis untuk memperkuat posisi Trump menjelang pemilu 2024. Banyak analis menilai bahwa kebijakan tersebut ditujukan untuk menarik simpati kelompok industri dalam negeri AS.
Sementara itu, langkah penyelidikan terhadap Qualcomm juga dipandang sebagai respons strategis Beijing terhadap tekanan ekonomi Washington. China tampaknya berupaya menunjukkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam terhadap kebijakan dagang yang dianggap tidak adil.
Selain kasus Qualcomm, China juga mulai memberlakukan kebijakan baru terhadap sektor pelayaran Amerika. Kementerian Transportasi Tiongkok mengumumkan rencana untuk mengenakan biaya tambahan pada kapal yang dimiliki perusahaan dan individu asal AS.
Biaya ini juga berlaku untuk kapal buatan Amerika yang beroperasi di perairan China mulai 14 Oktober mendatang. Kebijakan tersebut bertepatan dengan waktu penerapan biaya baru dari Washington untuk kapal besar asal China di pelabuhan AS.
Upaya ini memperlihatkan semakin tajamnya aksi saling balas antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia itu. Masing-masing negara tampak berusaha menekan pihak lain untuk mendapatkan posisi tawar yang lebih kuat dalam negosiasi perdagangan.
Tak berhenti di situ, Beijing juga memperketat kontrol ekspor terhadap tanah jarang dan bahan mentah penting lainnya. Komoditas tersebut memiliki peran strategis dalam industri teknologi global yang sangat bergantung pada pasokan dari China.
Selain itu, pemerintah China juga menghentikan pembelian kedelai dari Amerika Serikat. Keputusan ini dinilai menyasar langsung komunitas pertanian AS yang menjadi basis dukungan utama Donald Trump.
Sebagai tanggapan, Trump mengancam akan menghentikan seluruh kerja sama bisnis yang berkaitan dengan minyak goreng asal China. Ia menyebut tindakan Beijing sebagai upaya untuk melemahkan sektor ekonomi AS menjelang pemilihan umum.
Selama ini, China merupakan salah satu pembeli utama kedelai Amerika Serikat. Namun, perang dagang yang berkepanjangan telah membuat perdagangan kedua negara di sektor ini nyaris terhenti dalam beberapa bulan terakhir.
Rangkaian kebijakan yang saling berbalas antara AS dan China menunjukkan meningkatnya eskalasi ekonomi global. Kedua negara kini tampak berupaya memperkuat posisi masing-masing menjelang pembicaraan diplomatik tingkat tinggi dalam waktu dekat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









