Akurat

China Kian Unggul dalam Perang Dagang, AS Kehilangan Pengaruh di Pasar Teknologi

Petrus C. Vianney | 15 Oktober 2025, 15:16 WIB
China Kian Unggul dalam Perang Dagang, AS Kehilangan Pengaruh di Pasar Teknologi

 

AKURAT.CO China kembali memperlihatkan ketangguhannya dalam persaingan perdagangan melawan Amerika Serikat. Selama beberapa tahun terakhir, satu-satunya produk yang benar-benar dibutuhkan Beijing dari Washington hanyalah chip semikonduktor.

Kini, ketergantungan itu pun mulai berkurang seiring langkah tegas pemerintah China yang melarang perusahaan domestiknya membeli chip AI dari Nvidia. Kebijakan ini menjadi sinyal kuat bahwa Beijing semakin percaya diri menghadapi tekanan teknologi dari AS.

Kebijakan ini menegaskan bahwa Beijing tak lagi bergantung pada teknologi Amerika. Keputusan itu sekaligus melemahkan posisi tawar Presiden AS Donald Trump yang sempat mengancam menaikkan tarif hingga 100 persen dan membatalkan pertemuan dengan Xi Jinping di KTT APEC Seoul.

Kebijakan pembatasan teknologi yang diterapkan Washington sejak 2019 justru memicu ambisi China untuk mencapai kemandirian teknologi. Raksasa seperti Huawei berhasil bangkit melalui penguatan riset dan inovasi dalam negeri.

Di bidang kecerdasan buatan, startup seperti DeepSeek menunjukkan kemajuan luar biasa dengan menciptakan model AI sekelas ChatGPT berbiaya lebih efisien. Kini, perusahaan tersebut bahkan mulai beralih sepenuhnya menggunakan chip buatan lokal.

Meski para ahli menilai China masih tertinggal sekitar lima tahun dalam produksi chip berteknologi tinggi, berbagai langkah strategis yang diambil Beijing menunjukkan bahwa jarak itu semakin menyempit. Hal ini menjadi bukti nyata komitmen China untuk mengejar ketertinggalan di sektor semikonduktor.

Produsen seperti Huawei kini mampu menggabungkan chip berdaya rendah menjadi supernode yang dapat menyaingi performa produk Nvidia. Bahkan pihak Nvidia sendiri mengakui bahwa persaingan dengan pembuat chip asal China kini semakin ketat dan tidak bisa diabaikan.

Sementara itu, strategi 'tongkat dan wortel' yang diterapkan Donald Trump terbukti tidak efektif dalam menghadapi Beijing. Pendekatan tersebut gagal memberikan tekanan berarti terhadap kebijakan ekonomi China, sebagaimana dikutip dari South China Morning Post, Selasa (14/10/2025).

Tarif impor besar-besaran yang diberlakukan AS justru dibalas dengan tarif serupa oleh China. Akibatnya, muncul siklus ketegangan baru yang membuat kedua negara semakin sulit mencapai kesepakatan dagang yang stabil.

Di sisi lain, Beijing membatasi ekspor logam tanah jarang yang penting bagi industri pertahanan dan otomotif AS sebagai respons atas kebijakan tarif Washington. Akibatnya, produsen mobil Amerika kesulitan mempertahankan kelancaran rantai pasok mereka.

China mengurangi ketergantungannya pada produk pertanian dan energi asal AS, termasuk menghentikan impor kedelai yang dulu menyumbang lebih dari setengah ekspor pertanian Amerika. Sebagai gantinya, Beijing memperkuat hubungan dagang dengan negara-negara di Global Selatan yang dinilai lebih stabil dan bersahabat.

Dengan kontrol ekspor yang ketat dan kemajuan teknologi yang pesat, China membuktikan bahwa posisinya dalam perdagangan global semakin kuat. Sementara itu, AS tampak kehilangan pengaruh, sedangkan Beijing kini berada di atas angin dalam perang dagang yang kian memanas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.