Akurat

Harga Minyak Dunia Melonjak 8% Usai Serangan AS-Israel ke Iran

Fitra Iskandar | 2 Maret 2026, 09:55 WIB
Harga Minyak Dunia Melonjak 8% Usai Serangan AS-Israel ke Iran
Para nelayan bekerja di depan kapal tanker minyak di selatan Selat Hormuz pada 19 Januari 2012, di lepas pantai kota Ras Al Khaimah di Uni Emirat Arab.. Foto: AP

AKURAT.CO Harga minyak dunia melonjak tajam hingga sekitar 8 persen pada awal perdagangan Minggu malam waktu setempat. Lonjakan harga minyak ini terjadi terkait dengan situasi konflik di kawasan Teluk setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada Sabtu (28/2).

Lonjakan harga dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Serangkaian serangan di kawasan, termasuk terhadap dua kapal yang melintas di Selat Hormuz, memperbesar risiko terhambatnya distribusi energi global.

Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI), acuan Amerika Serikat, diperdagangkan di kisaran USD72 per barel pada Minggu malam, naik sekitar 8 persen dibandingkan posisi USD67 pada Jumat, berdasarkan data CME Group.

Sementara itu, minyak mentah Brent yang menjadi standar internasional naik ke level sekitar USD79 per barel, dari sebelumnya USD72,87 pada akhir pekan lalu, menurut data FactSet.

Selat Hormuz, Jalur Vital 20% Pasokan Minyak Dunia

Sekitar 15 juta barel minyak mentah per hari—atau hampir 20 persen pasokan minyak global—dikirim melalui Selat Hormuz, menjadikannya jalur distribusi energi paling krusial di dunia, menurut lembaga riset energi Rystad Energy.

Selat sempit di mulut Teluk Persia itu berbatasan langsung dengan Iran di sisi utara dan menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, hingga Iran sendiri.

Sebelumnya, Iran sempat menutup sementara sebagian jalur Selat Hormuz pada pertengahan Februari dengan alasan latihan militer. Gangguan lanjutan di jalur ini berpotensi menekan pasokan global dan mendorong harga minyak serta bensin semakin tinggi.

“Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Pasar kini lebih khawatir apakah barel minyak bisa benar-benar dikirim, bukan sekadar kapasitas produksi di atas kertas,” kata Jorge León, Senior Vice President Rystad Energy.

Ia menambahkan, jika arus distribusi melalui Teluk terganggu, peningkatan produksi tidak akan langsung meredakan tekanan harga karena akses jalur ekspor menjadi faktor kunci.

OPEC+ Naikkan Produksi

Di tengah ketegangan tersebut, delapan negara anggota aliansi OPEC+ mengumumkan peningkatan produksi minyak mentah mulai April. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyatakan produksi akan ditambah sebesar 206.000 barel per hari—lebih tinggi dari perkiraan analis sebelumnya.

Negara-negara yang menaikkan produksi antara lain Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.

Namun para analis menilai tambahan produksi itu mungkin belum cukup untuk menstabilkan pasar jika konflik di kawasan Teluk berlanjut.

Ekspor Iran Terancam

Iran sendiri mengekspor sekitar 1,6 juta barel minyak per hari, sebagian besar ke China. Jika ekspor Iran terganggu akibat konflik, negara-negara pengimpor diperkirakan harus mencari sumber alternatif, yang berpotensi semakin mendorong kenaikan harga energi global.

Dengan meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah, pelaku pasar kini mencermati perkembangan di kawasan Teluk, terutama keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.

Sumber: Npr.org

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.