Akurat

Hari Nyamuk Sedunia, Teknologi Digital Jadi Andalan Melawan Ancaman Penyakit

Petrus C. Vianney | 20 Agustus 2025, 13:55 WIB
Hari Nyamuk Sedunia, Teknologi Digital Jadi Andalan Melawan Ancaman Penyakit

AKURAT.CO Setiap 20 Agustus, dunia memperingati Hari Nyamuk Sedunia untuk mengenang penemuan Sir Ronald Ross pada 1897. Peringatan ini mengingatkan bahwa nyamuk masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia.

Dikutip dari World Health Organization (WHO), Rabu (20/8/2025), malaria menimbulkan lebih dari 200 juta kasus setiap tahun di seluruh dunia. Selain itu, nyamuk juga menyebarkan penyakit berbahaya seperti demam berdarah, chikungunya, hingga virus Zika.

Di era modern, perlawanan terhadap nyamuk tidak lagi hanya mengandalkan cara tradisional. Berbagai inovasi digital kini dimanfaatkan untuk memantau, mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit akibat nyamuk.

Kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu teknologi utama yang digunakan dalam pemantauan. AI dapat menganalisis data iklim, curah hujan dan mobilitas manusia untuk memprediksi potensi wabah penyakit nyamuk di suatu wilayah.

Beberapa negara Afrika seperti Ghana dan Sierra Leone sudah memanfaatkan drone berbasis AI untuk mencari dan menghancurkan tempat berkembang biak nyamuk. Cara ini terbukti lebih cepat dan efektif dibandingkan penyemprotan manual yang selama ini digunakan.

Dikutip dari Times of India, India meluncurkan program Smart Mosquito Surveillance System (SMoSS) yang memanfaatkan IoT, sensor dan drone. Sistem ini memantau populasi nyamuk secara real-time dan menyemprotkan larvasida dengan lebih tepat sasaran.

Sementara itu, di Singapura dikembangkan robot 'Dragonfly' yang dilengkapi teknologi deep learning. Robot ini mampu mengidentifikasi spesies nyamuk dengan akurasi lebih dari 80 persen dalam uji lapangan.

IoT juga semakin banyak digunakan untuk mendukung riset nyamuk, salah satunya melalui perangkat MosquIoT. Alat ini bisa menghitung telur nyamuk Aedes aegypti secara otomatis, menggantikan metode manual yang memakan waktu lama.

Citra satelit turut berperan penting dalam pemetaan habitat nyamuk di kawasan yang sulit dijangkau. Dengan bantuan Convolutional Neural Network (CNN), sistem ini dapat mengidentifikasi potensi tempat berkembang biak dalam skala luas.

Untuk melibatkan masyarakat, hadir pula aplikasi mAedesID yang membuat pengguna dapat memotret nyamuk dan mengidentifikasinya secara otomatis. Teknologi ini memberi edukasi sekaligus memperkaya data kesehatan masyarakat melalui partisipasi langsung warga.

Riset robotika juga melahirkan MosquitoMiner, sebuah rover autonom yang mampu mendeteksi sarang nyamuk lalu melakukan penyemprotan secara mandiri. Teknologi ini dapat membantu mengurangi ketergantungan pada tenaga manusia di lapangan.

Lebih futuristik lagi, peneliti tengah mengembangkan mosquito laser berbasis LiDAR yang dapat menargetkan nyamuk secara presisi. Teknologi ini diharapkan menjadi solusi baru dalam mengurangi populasi nyamuk di daerah endemis.

Hal ini membuktikan bahwa digitalisasi berperan penting dalam melawan penyakit yang ditularkan nyamuk. Hari Nyamuk Sedunia bukan hanya tentang kesehatan, tetapi juga ajakan untuk menguatkan kolaborasi teknologi dan sains demi masa depan yang lebih aman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.