Trump dan DeepSeek Jadi Sorotan di Forum AI Terbesar Tiongkok

AKURAT.CO Ribuan pelaku teknologi, investor dan pejabat Tiongkok berkumpul di Shanghai untuk menghadiri World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2025.
Forum ini menjadi ajang strategis untuk membahas ambisi Tiongkok menyaingi dominasi Amerika Serikat dalam kecerdasan buatan.
WAIC dikenal sebagai pameran teknologi AI tercanggih di Tiongkok dan telah menampilkan tokoh besar seperti Elon Musk dan Jack Ma di masa lalu. Tahun ini, forum digelar di tengah persaingan teknologi AS-Tiongkok yang semakin memanas.
Presiden AS Donald Trump baru saja meluncurkan AI Action Plan untuk mempertahankan dominasi negaranya dalam era AI pasca-ChatGPT. Upaya ini sekaligus menjadi sinyal bahwa Amerika tidak ingin kalah dalam perlombaan AI global.
Di sisi lain, Tiongkok mendapat suntikan semangat baru dari kemunculan DeepSeek pada awal tahun. Startup ini mencuri perhatian dengan model AI murah dan andal yang mulai menyaingi pemain besar seperti OpenAI dan Google.
Meskipun tidak tercantum dalam agenda resmi WAIC, DeepSeek diprediksi akan menjadi topik hangat di konferensi. Pendiri DeepSeek, Liang Wenfeng, dikenal tertutup namun mendapat pujian langsung dari Presiden Xi Jinping atas kontribusinya.
Dikutip dari Bloomberg, Jumat (25/7/2025), DeepSeek dianggap membawa pendekatan baru dalam pengembangan AI di Tiongkok. Fokus mereka pada efisiensi dan biaya rendah menantang pendekatan mahal yang umum di Silicon Valley.
Namun, perkembangan DeepSeek tidak tanpa hambatan. Rilis model terbaru R2 belum juga terjadi, memicu spekulasi di industri tentang kendala teknis hingga gaya kepemimpinan Liang yang perfeksionis.
Sementara itu, Trump memperkuat posisinya dengan menandatangani perintah eksekutif untuk memperluas pusat data dan melonggarkan regulasi AI. Ia menegaskan bahwa Amerika akan melakukan apa pun untuk tetap memimpin di bidang AI.
Kebijakan Trump ini berpotensi mendorong Tiongkok mempercepat ekspansi global teknologi mereka. Beijing sendiri menargetkan nilai industri AI mencapai $100 miliar (sekitar Rp1,6 triliun) pada 2030.
Pemimpin teknologi Tiongkok seperti Tencent, ByteDance, Zhipu AI dan Moonshot dijadwalkan tampil dalam konferensi. Perusahaan ini diharapkan menampilkan kemajuan terbaru dan rencana ekspansi mereka di pasar global.
Bidang robotika juga akan mendapat sorotan dalam WAIC tahun ini. Beberapa perusahaan seperti UBTech dan Unitree siap memamerkan humanoid canggih buatan mereka.
Salah satu demo yang mencuri perhatian adalah robot Walker S2 milik UBTech yang bisa mengganti baterai sendiri. Meski masih dikoreografi, video tersebut memperlihatkan pesatnya kemajuan teknologi robotik di Tiongkok.
Investor global juga ikut mengincar peluang dari gelombang inovasi ini. Sejumlah modal ventura Tiongkok tengah menggalang dana hingga $2 miliar (sekitar Rp32 triliun) untuk mendukung startup lokal.
Enam perusahaan VC ternama seperti Lightspeed China Partners dan Monolith Management meluncurkan dana dalam dolar AS. Ini menunjukkan minat asing terhadap teknologi AI Tiongkok kembali meningkat pasca pandemi dan tekanan regulasi.
Meski begitu, keterlibatan perusahaan Amerika di WAIC 2025 tampak berkurang. Tidak seperti tahun sebelumnya, tokoh seperti Elon Musk absen dari daftar pembicara.
Namun beberapa tokoh internasional tetap hadir, seperti Eric Schmidt dan ilmuwan AI Geoffrey Hinton. Mereka akan membahas tantangan global dalam pengembangan dan tata kelola AI.
Salah satu fokus WAIC adalah diskusi tingkat tinggi mengenai tata kelola AI global. Forum ini menjadi upaya Beijing untuk memimpin pembentukan standar internasional dalam penggunaan AI secara bertanggung jawab.
Sejak 2018, Tiongkok menggunakan WAIC sebagai alat diplomasi teknologi untuk memperkuat posisi globalnya di bidang AI. Kini, dengan persaingan AS-Tiongkok yang makin intens, peran konferensi ini menjadi semakin penting.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









