Bikin Bangga! Mahasiswa UGM Berhasil Kembangkan ESDS Berbasis AI, Apa Itu?

AKURAT.CO - Kecerdasan Buatan (AI) merupakan salah satu teknologi yang menjanjikan karena memiliki potensi besar untuk memecahkan segala masalah kognitif. Dengan bantuan ini, seseorang dapat meningkatkan produktivitas sehari-hari bahkan mampu mengembangkan sebuah inovasi baru.
Dikutip dari laman resmi UGM, lima mahasiswa berhasil mengembangkan sebuah alat AI yang diberi nama Electronic Stunting Detection System (ESDS). Alat ini berguna untuk mendeteksi dini masalah stunting yang seringkali terjadi pada anak-anak.
Sebagai informasi, stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Biasanya ditandai dengan panjang dan tinggi badan berada di bawah standar.
Mengenal ESDS
ESDS adalah alat AI hasil pengembangan dari produk yang telah ada sebelumnya dengan modifikasi pada framework sistem informasi yang digunakan (codeigniter). Alat ini dikembangkan oleh A. A Gede Yogi Pramana (ketua tim pengembang / IUP Elektronika dan Instrumentasi), Haidar Muhammad Zidan (IUP Elektronika dan Instrumentasi), Fariz Ihza Permana (Teknik Biomedis), Ichsan Dwinanda Handika (Teknik Biomedis) dan Salsa Novalimah (Gizi Kesehatan).
ESDS dirancang untuk dapat melakukan pengukuran massa dan panjang tubuh bayi secara cepat melalui sistem informasi dan aplikasi smartphone. Sehingga, alat ini mudah dipantau untuk mendeteksi gejala stunting pada anak di bawah umur dua tahun dengan bantuan machine learning.
“Alat ESDS berbasis AI ini dibuat agar dapat menghemat waktu serta meminimalkan kesalahan pengukuran karena faktor kesalahan manusia yang masih menggunakan alat ukur secara konvensional,” kata ketua tim pengembang.
Produk ESDS terintegrasi dengan sistem informasi yang tersedia dalam bentuk website application dan mobile application yang menampilkan informasi tumbuh kembang anak, status gizi pada bayi dua tahun, indikasi stunting, edukasi sederhana terkait gizi dan menampilkan riwayat tumbuh kembang anak.
Awal mula dibuatnya alat ESDS dari rasa keprihatinan terhadap tingginya kasus stunting yang terjadi di Indonesia. Hal ini disebabkan karena masih ditemukan kesalahan terhadap keakuratan dalam mengukur dan mengevaluasi pertumbuhan anak.
Pengukuran anak di bawah dua tahun biasanya menggunakan infantometer board dan timbangan. Sementara, beberapa posyandu yang tidak menyediakan hanya diukur menggunakan alat seadanya sehingga hasil pengukuran menjadi kurang akurat karena alat tidak sesuai standar persyaratan antropometri.
Cara Kerja ESDS
Saat balita ditimbang pada permukaan alat atau area yang telah disediakan, maka sensor high precision load cell akan membaca besaran yang diukur atau ditimbang. Kemudian, hasil pembacaan tersebut akan dikalibrasi dengan metode regresi linear untuk mendapatkan calibration factor. LCD akan menampilkan hasil pengukuran berupa data kuantitatif yang terinterpretasi dari massa dan panjang tubuh bayi yang diukur.
Keberadaan ESDS disebut akan memudahkan pengguna dalam melakukan deteksi dini stunting dan pemantauan mandiri bagi orang tua yang memiliki bayi dua tahun. Sehingga mampu membantu pemerintah dalam mempercepat penurunan angka prevalensi stunting di Indonesia menjadi 14%.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









