Berupaya Bangkit di Tengah Tekanan, Ini Sumber Cuan Telegram

AKURAT.CO Telegram, platform media sosial yang dikenal karena minimnya moderasi, kini menghadapi berbagai tekanan.
Pendiri sekaligus pemiliknya, Pavel Durov, ditangkap di Prancis pada Agustus 2024 atas dugaan keterlibatan dalam aktivitas ilegal di platform tersebut.
Di tengah situasi ini, Telegram meyakinkan para investornya bahwa perusahaan mampu bertahan dengan memperketat pengawasan konten dan melunasi sebagian besar utangnya.
Pada tahun 2024, Telegram menjadi sorotan global karena dianggap sebagai tempat beredarnya konten ilegal, mulai dari eksploitasi anak hingga aktivitas kriminal lainnya.
Selain itu, Telegram menghadapi tantangan untuk membuktikan kelayakan bisnisnya.
Berbeda dengan platform lain, Telegram tidak mengandalkan iklan berbasis data atau pendanaan dari investor besar.
Sebaliknya, perusahaan bergantung pada reputasi Durov, utang dan inovasi di bidang mata uang kripto.
Telegram telah memperkenalkan berbagai cara untuk menghasilkan pendapatan, termasuk iklan, layanan berlangganan dan fitur video.
Dikutip dari Straitstimes.com, Selasa (31/12/2024), langkah ini disertai dengan upaya moderasi lebih ketat, melibatkan lebih dari 750 kontraktor yang mengawasi konten.
Perusahaan juga memanfaatkan aset kripto untuk melunasi utang dan memperkuat keuangan.
Hasilnya, Telegram diperkirakan mencetak keuntungan pertama pada 2024, dengan pendapatan melebihi US$1 miliar (Rp15,5 triliun), naik tajam dari US$350 juta (Rp5,39 triliun) pada 2023.
Sebagian besar pendapatan ini berasal dari iklan, termasuk kerja sama dengan merek besar seperti Samsung.
Selain itu, Telegram memiliki sekitar satu miliar pengguna aktif, dengan 12 juta di antaranya berlangganan layanan premium seharga US$5 (sekitar Rp77 ribuan) per bulan.
Mata uang kripto menjadi elemen penting dalam strategi Telegram.
Perusahaan menjual aset digital senilai ratusan juta dolar, termasuk toncoin, mata uang virtual yang awalnya dikembangkan dalam ekosistem Telegram.
Telegram juga mengeksplorasi fitur berbasis kripto, seperti penambangan dan pertukaran mata uang melalui aplikasi pihak ketiga.
Meskipun telah menunjukkan kemajuan, Telegram menghadapi dilema besar.
Di satu sisi, perusahaan berusaha menarik pengiklan dengan moderasi lebih ketat. Di sisi lain, Telegram harus menjaga citra sebagai ruang kebebasan berbicara untuk para penggunanya.
Nasib Pavel Durov juga menjadi faktor penentu. Jika terbukti bersalah atas tuduhan di Prancis, ia berisiko menghadapi hukuman penjara.
Sebagai satu-satunya pemilik Telegram, absennya Durov dapat memengaruhi stabilitas perusahaan, yang hingga kini belum memiliki dewan independen atau rencana suksesi yang jelas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 7Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 8Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi








