KPK Buka Peluang Terapkan Pasal Suap dalam Kasus Dugaan Korupsi CSR BI–OJK

AKURAT.CO Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka peluang penerapan pasal suap, dalam pengusutan dugaan korupsi program tanggung jawab sosial (CSR) Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Langkah ini menjadi kemungkinan setelah mantan anggota Komisi XI DPR RI, Satori dan Heri Gunawan, lebih dulu dijerat dengan dugaan gratifikasi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).
"Kemungkinan tentu selalu terbuka karena ini kan masih jadi pintu awal dari dua orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka," ujar Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, kepada wartawan, Jumat (12/12/2025).
Baca Juga: KPK Periksa Tenaga Ahli Heri Gunawan, Dokter hingga Mahasiswa dalam Pengusutan Kasus CSR BI
Kendati demikian, Budi menegaskan bahwa penerapan pasal tambahan harus mempertimbangkan sejumlah aspek, termasuk fakta persidangan setelah kedua legislator itu ditahan dan berkas perkaranya dilimpahkan.
"Dari sana kita bisa melihat apakah kemudian juga ada fakta-fakta yang bisa menjadi bukti baru untuk kemungkinan pengembangan penyidikan," ujarnya.
Dalam keterangan terpisah, Budi menyampaikan bahwa penyidik KPK tengah mendalami motif dan tujuan pemberian CSR dari BI dan OJK kepada anggota Komisi XI. Namun, dia belum bersedia merinci lebih jauh temuan tersebut.
"Ini yang masih terus didalami termasuk dalam proses-proses BI–OJK ini sebagai mitra dari Komisi XI DPR RI. Nah, ini kaitannya (pemberian, red) seperti apa," katanya.
Sebelumnya, KPK secara resmi menetapkan Satori, legislator DPR Fraksi NasDem, dan Heri Gunawan dari Fraksi Gerindra sebagai tersangka dugaan korupsi dana CSR BI–OJK. Keduanya diduga menerima gratifikasi dengan nilai fantastis dan melakukan pencucian uang.
Baca Juga: KPK Sita Ambulans Bantuan BPKH, Satori Diduga Tidak Hanya Terima Dana CSR BI dan OJK
Satori diduga menerima total Rp12,52 miliar, dengan rincian Rp6,30 miliar dari BI, Rp5,14 miliar dari OJK melalui program Penyuluhan Keuangan, Rp1,04 miliar dari mitra kerja Komisi XI lainnya
Dana tersebut digunakan untuk keperluan pribadi, seperti deposito, pembelian tanah, pembangunan showroom, pembelian kendaraan roda dua, serta aset lain.
Sementara Heri Gunawan diduga menerima Rp15,86 miliar, terdiri atas Rp6,26 miliar dari BI, Rp7,64 miliar dari OJK melalui kegiatan Penyuluhan Keuangan, Rp1,94 miliar dari mitra kerja lainnya
Dana itu kemudian ditampung dalam satu rekening sebelum dipakai untuk membangun rumah makan, mengelola outlet minuman, membeli tanah dan bangunan, serta kendaraan roda empat.
KPK memastikan proses penyidikan akan terus berlanjut, dan tidak menutup kemungkinan adanya tersangka baru maupun penerapan pasal yang lebih berat apabila ditemukan bukti tambahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai






