Akurat

Tanda-tanda Awal Anak Mulai Coba Narkoba dan Cara Orang Tua Menghadapinya

Eko Krisyanto | 1 November 2025, 11:05 WIB
Tanda-tanda Awal Anak Mulai Coba Narkoba dan Cara Orang Tua Menghadapinya

AKURAT.CO Kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja Indonesia semakin mengkhawatirkan.

Meskipun kampanye bahaya narkoba terus digencarkan oleh pemerintah dan lembaga pendidikan, angka pengguna justru terus meningkat.

Data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2023 mencatat bahwa lebih dari 2,5 juta pelajar dan mahasiswa di Indonesia pernah mencoba narkoba, baik karena rasa penasaran maupun pengaruh lingkungan sekitar.

Fakta ini menegaskan bahwa ancaman narkoba kini berada sangat dekat dengan kehidupan anak muda, bahkan bisa dimulai dari lingkungan sekolah atau pergaulan sehari-hari.

Mengapa Remaja Rentan Mencoba Narkoba

Masa remaja dikenal sebagai periode pencarian jati diri, di mana keinginan untuk diakui dan rasa ingin tahu sering kali mendorong mereka mengambil risiko.

Penyebab utama remaja mencoba narkoba adalah tekanan sosial, masalah keluarga, serta kondisi mental yang tidak stabil.

Dalam beberapa kasus, anak mencoba narkoba karena ingin diterima di lingkaran pertemanan tertentu. Sementara itu, sebagian lainnya menjadikannya pelarian dari rasa stres, kesepian, atau konflik dengan orang tua.

Ironisnya, mereka sering kali tidak memahami bahwa satu kali mencoba saja dapat mengubah fungsi otak dan memicu ketergantungan.

Komunikasi yang renggang di rumah bisa menjadi pintu masuk bagi pengaruh buruk dari luar. Banyak remaja yang tidak menemukan tempat bercerita di keluarga, sehingga mencari pelarian pada teman atau hal-hal yang memberikan kenyamanan instan, termasuk narkoba.

Oleh sebab itu, keluarga memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan dan keterbukaan, agar anak tidak mencari jalan keluar yang berbahaya.

Tanda-tanda Awal Anak Mulai Terjerumus

Tanda awal anak yang mulai mencoba narkoba sering kali tampak samar dan sulit dikenali. Orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan kecil dalam perilaku maupun fisik anak.

Secara emosional, mereka bisa tampak lebih tertutup, mudah marah, dan sering menghindari interaksi keluarga.

Anak yang biasanya ceria dan terbuka tiba-tiba menjadi pendiam atau sering berbohong tentang kegiatan dan keberadaannya.

Sikap tertutup ini biasanya disertai penurunan semangat belajar, menurunnya prestasi akademik, serta hilangnya minat terhadap hobi atau kegiatan sosial yang dulu digemari.

Secara fisik, beberapa tanda lain bisa muncul seperti mata yang memerah, berat badan menurun drastis, serta perubahan pola tidur yang tidak wajar sering begadang dan sulit bangun di pagi hari.

Anak juga bisa terlihat pucat, berkeringat berlebihan, atau mengalami perubahan nafsu makan secara drastis. Dari sisi psikologis, anak mungkin tampak gelisah, kehilangan fokus, bahkan sesekali berhalusinasi atau tertawa tanpa sebab.

Perubahan-perubahan ini sering kali disalahartikan sebagai gejala stres sekolah, padahal bisa jadi merupakan tanda awal penyalahgunaan narkoba.

Berapa Lama Narkoba Dapat Terdeteksi di Tubuh

Menurut hasil riset laboratorium forensik yang dirilis oleh BNN, jejak narkoba dapat bertahan di tubuh manusia selama beberapa hari hingga beberapa bulan, tergantung dari jenis zat dan frekuensi penggunaannya.

Misalnya, zat seperti ganja bisa terdeteksi melalui pemeriksaan urin selama dua hingga empat minggu setelah digunakan.

Jenis narkoba lain seperti sabu, ekstasi, atau heroin biasanya bertahan lebih singkat, sekitar dua hingga lima hari, meskipun efeknya pada otak bisa jauh lebih lama.

Sementara itu, dalam jaringan rambut, jejak penggunaan dapat terdeteksi hingga tiga bulan.

Meskipun demikian, hasil tes tidak selalu menjadi satu-satunya acuan. Banyak pengguna yang berusaha menutupi jejak pemakaian dengan berbagai cara, seperti mengonsumsi obat-obatan tertentu atau meminum cairan detoksifikasi.

Karena itu, langkah paling efektif tetaplah pencegahan dan pengawasan sejak dini. Alat tes urin sederhana memang tersedia di apotek, namun sebaiknya dikonfirmasi melalui pemeriksaan medis agar hasilnya akurat.

Dampak Narkoba bagi Kesehatan dan Kehidupan Anak

Narkoba memiliki dampak yang sangat luas dan menghancurkan, baik secara fisik maupun mental. Zat berbahaya ini merusak sistem saraf pusat yang mengatur emosi, ingatan, dan kemampuan mengambil keputusan.

Pada remaja, hal ini dapat mengganggu perkembangan otak yang masih dalam tahap pertumbuhan. Akibatnya, anak kehilangan konsentrasi, motivasi belajar menurun, dan prestasi akademik hancur.

Secara fisik, penggunaan narkoba dalam jangka panjang menyebabkan gangguan pada organ vital seperti hati, ginjal, dan jantung.

Daya tahan tubuh melemah, dan pada beberapa kasus ekstrem, pengguna mengalami kejang, gangguan pernapasan, hingga kematian.

Dari sisi sosial, dampak narkoba tak kalah memprihatinkan. Anak yang terjerumus biasanya mulai menjauh dari keluarga, kehilangan kepercayaan dari teman, bahkan terlibat dalam tindakan kriminal demi mendapatkan uang untuk membeli barang haram tersebut.

Mereka kehilangan masa depan yang seharusnya masih panjang dan penuh potensi. Lebih parah lagi, stigma masyarakat terhadap mantan pecandu sering kali menghambat proses pemulihan dan reintegrasi sosial.

Langkah Bijak Orang Tua untuk Mencegah dan Menangani

Mendeteksi sejak dini adalah langkah pertama, tetapi langkah paling penting adalah membangun komunikasi yang sehat dan terbuka antara orang tua dan anak. Hindari reaksi marah atau menghakimi ketika menemukan hal mencurigakan.

Sebaliknya, ajak anak berbicara dengan tenang dan penuh empati. Tanyakan apa yang mereka rasakan, dengan siapa mereka bergaul, dan apakah ada tekanan yang sedang mereka hadapi.

Pendekatan yang hangat akan membuat anak merasa aman untuk bercerita dan terbuka.

Selain itu, orang tua perlu aktif memantau lingkungan pergaulan anak serta mengedukasi mereka tentang bahaya narkoba dengan bahasa yang mudah dipahami, bukan dengan ancaman atau ketakutan.

Jika anak sudah terlanjur mencoba, segera cari bantuan profesional seperti psikolog, konselor sekolah, atau layanan rehabilitasi resmi dari BNN. Layanan darurat BNN Call Center 184 siap membantu keluarga yang membutuhkan pendampingan.

Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati

Pencegahan penyalahgunaan narkoba harus dimulai dari rumah. Edukasi tentang bahaya narkoba sebaiknya diberikan sejak anak masih kecil, agar mereka memiliki pemahaman yang kuat dan mampu menolak ajakan negatif.

Orang tua juga perlu menjadi teladan dengan menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan penuh kepercayaan.

Remaja yang merasa dihargai dan dicintai akan lebih kecil kemungkinannya mencari pelarian dalam narkoba.

Laporan: Mutiara MY/magang

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK