DPR Cium Aroma Politisasi dalam OTT Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah

AKURAT.CO Komisi II DPR mencium aroma politisasi dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah.
Anggota Komisi II, Ahmad Irawan, mengaku heran bahwa OTT dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjelang pemungutan suara Pilkada Serentak 2024.
"Ikut sertanya Pak Rohidin dalam pemilihan kepala daerah dan waktu penetapan tersangkanya jelang pemungutan suara pada Tanggal 27 November 2024 kecenderungannya, dan kuat dugaan sebagai upaya politisisasi," katanya, kepada wartawan di Jakarta, Selasa (26/11/2024).
Menurut Irawan, apa yang dilakukan KPK memunculkan praduga bahwa penangkapan dilakukan untuk membatasi ruang gerak calon kepala daerah.
Baca Juga: Ditangkap KPK, Kekayaan Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah Rp4,1 Miliar
Dan membangun persepsi bahwa calon terindikasi korupsi.
Ia juga menilai OTT KPK melemahkan konsolidasi menjelang pemungutan suara, yang ujungnya menghendaki Rohidin Mersyah kalah di Pilkada Bengkulu 2024.
"Pak Rohidin memiliki elektabilitas yang tinggi dan berjarak lebar dengan pesaingnya dalam pilkada. Coba saja cek elektabilitasnya dalam berbagai survei, sangat jauh," jelas Irawan.
"Tentu untuk menahan laju elektabilitas tersebut atau menggagalkannya, berbagai upaya akan dilakukan untuk menggagalkan kemenangan Pak Rohidin," lanjutnya.
Irawan juga mengingatkan bahwa terdapat kesepakatan antara KPK dan Kejaksaan untuk tidak melakukan tindakan hukum terhadap calon kepala daerah yang sedang menjalani proses pemilihan, kecuali dalam kasus yang sangat mendesak.
Baca Juga: KPK Tetapkan Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah sebagai Tersangka
"Meskipun KPK memiliki kewenangan untuk menindak tindak pidana korupsi, timing penangkapan ini bisa menimbulkan persepsi negatif dan kegaduhan di tengah proses pilkada," ujarnya.
Anggota Komisi DPR yang membidangi urusan pemerintahan dan pemilu ini khawatir penangkapan yang dilakukan jelang pencoblosan bisa mempengaruhi stabilitas politik.
Irawan pun menilai kepercayaan publik terhadap proses pilkada dapat tercederai.
"Tindakan KPK ini bisa dianggap sebagai upaya politisasi hukum jika tidak dilakukan dengan transparan dan akuntabel," tuturnya.
Baca Juga: Berhasil Bangun Bengkulu, Rohidin Mersyah Didukung Masyarakat Suku Lembak
Lebih lanjut, menurut Irawan, Rohidin Mersyah memiliki hak konstitusional.
Di mana ia dapat dianggap tidak bersalah sebelum adanya putusan berkekuatan hukum tetap, sesuai dengan prinsip presumption of innocence.
Rohidin Mersyah masih memiliki hak mengajukan upaya hukum praperadilan.
Oleh karena itu, Irawan mengimbau kepada masyarakat Bengkulu untuk terus melanjutkan proses pilkada dengan damai.
"Saya juga mengimbau kepada penyelenggara pemilu untuk terus berpegang teguh pada hukum. Untuk mewujudkan pemilu yang jujur dan adil," katanya.
Baca Juga: KPK Lakukan OTT di Bengkulu, Tangkap 7 Orang Termasuk Rohidin Mersyah
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon








