AKURAT.CO Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menggeledah kediaman Direktur Utama PT Sentosa Laju Energy, Tan Paulin, di Surabaya, Jawa Timur.
Penggeledahan tersebut dalam rangka penyelidikan kasus dugaan korupsi dan pencucian uang yang menjerat mantan Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari.
Dalam penggeledahan tersebut, tim KPK berhasil mengamankan sejumlah dokumen yang diduga terkait dengan kasus tersebut.
"Infonya sejumlah dokumen diamankan oleh tim KPK," ujar Juru Bicara KPK, Tessa Mahardika, Jumat (30/8/2024).
Baca Juga: Mengenal The Script, Band Rock Asal Irlandia yang Siap Konser di Jakarta dan Surabaya 2025
Tan Paulin sendiri diperiksa sebagai saksi pada Kamis lalu terkait kasus yang melibatkan Rita Widyasari.
Pemeriksaan dilakukan di kantor BPKP Perwakilan Provinsi Jawa Timur, di mana penyidik KPK mendalami sejumlah hal, termasuk dugaan transaksi usaha batubara di wilayah Kutai Kartanegara (Kukar).
"Diperiksa terkait transaksi batubara perusahaannya di wilayah Kukar," tambah Tessa.
Nama Tan Paulin sempat mencuat dalam dugaan konsorsium tambang yang melibatkan sejumlah petinggi polisi.
Kasus ini menjadi perhatian publik setelah diungkap oleh anggota Polres Samarinda, Ismail Bolong, meskipun Ismail kemudian membantah telah memberikan uang kepada petinggi tersebut.
Ismail justru mengungkap, dirinya sempat bekerja sama dengan Tan Paulin, yang disebutnya sebagai 'ratu batubara.'
Baca Juga: SOKSI Jakarta Utara Sinergi dengan Kejaksaan Negeri Berantas Korupsi
Tan Paulin juga sempat disinggung dalam rapat kerja Komisi VII DPR RI oleh mantan Menteri ESDM, Arifin Tasrif, yang menuduhnya terlibat dalam praktik penjualan batubara yang tidak jujur.
Sementara itu, Rita Widyasari ditetapkan sebagai tersangka bersama Komisaris PT Media Bangun Bersama, Khairudin, pada 16 Januari 2018.
Keduanya diduga mencuci uang hasil gratifikasi proyek dan perizinan di Pemprov Kutai Kartanegara dengan nilai mencapai Rp436 miliar. Rita diduga menerima gratifikasi sebesar 5 dolar AS per metrik ton batubara.
Dalam proses penyelidikan, KPK telah menyita 536 dokumen, bukti elektronik, serta 91 unit kendaraan terdiri dari motor dan mobil mewah berbagai merek seperti Lamborghini, McLaren, BMW, Mercedes Benz, dan lainnya.
Selain itu, tim penyidik juga menyita 5 bidang tanah dan bangunan, serta 30 barang mewah berupa jam tangan dari berbagai merek terkenal seperti Rolex, Hublot Big Bang, Chopard Mille, Richard Mille, dan lain-lain.
Rita Widyasari saat ini mendekam di Lapas Perempuan Pondok Bambu, Jakarta Timur, setelah terbukti menerima gratifikasi sebesar Rp110,7 miliar dan suap senilai Rp6 miliar dari para pemohon izin dan rekanan proyek.
Pengadilan Tipikor Jakarta pada 6 Juli 2018 menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara terhadapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini









