Akurat

Ramai Napi Bebas Main Judi di Lapas Rantauprapat, Pakar: Pecat Kepala dan Pegawai yang Terlibat

Atikah Umiyani | 14 Maret 2024, 10:36 WIB
Ramai Napi Bebas Main Judi di Lapas Rantauprapat, Pakar: Pecat Kepala dan Pegawai yang Terlibat

AKURAT.CO Pakar hukum pidana dari Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar, berkomentar soal beredarnya video napi atau tahanan yang bebas bermain judi hingga mengkonsumsi sabu yang diduga terjadi di lapas kelas II A Rantauprapat.

Abdul Fickar menyarankan, agar sebaiknya kepala lapas hingga pegawai yang terlibat dalam pelanggaran tersebut untuk diberi hukuman tegas dan dipidanakan.

Baca Juga: Lapas II A Rantauprapat Gelar Razia, Hanya Ditemukan Korek Gas, Sendok dan Charger

"Pecat dan hukum pidana kepala dan pegawai LP yang terlibat," kata Abdul Fickar kepada Akurat.co, Kamis (14/3/2024).

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas II A Rantauprapat, Herliadi mengatakan bahwa pihaknya telah menggelar razia dalam menyambut bulan suci ramadhan.

Razia dilakukan untuk memastikan bahwa napi atau tahanan yang ada di dalam Lapas Kelas II A Rantauprapat dalam kondisi aman terutama dari barang-barang terlarang.

"Memang benar bang, untuk memastikan kondisi aman dari barang-barang terlarang selama bukan suci ramadhan," kata Herliadi kepada Akurat.co, Rabu (13/3/2024).

Dari razia yang digelar, Herliadi mengatakan bahwa petugas menemukan sejumlah barang-barang seperti korek gas, sendok makan hingga charger handphone.

"Hasil nya hanya ditemukan beberapa korek gas, sendok dan charger," ucapnya.

Baca Juga: Napi Pakai Narkoba dan Main Judi di Lapas Rantauprapat, Pakar Hukum: Tidak Dibenarkan, Harus Dilakukan Pengusutan 

Terkait informasi dalam video yang beredar tersebut, Herliadi mengakui bahwa sempat ada informasi yang menyebut napi atau tahanan di lapasnya bebas bermain judi bahkan mengkonsumsi narkoba.

Namun setelah dilakukan pengecekan oleh anggota intelijen, Herliadi menegaskan bahwa informasi yang beredar tersebut ternyata tidak benar adanya.

"Hal itu pernah memang ada info, tapi setelah kami telusuri melalui anggota intelijen kami dalam rangka deteksi dini itu tidak benar adanya," kata Herliadi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.