Pahala Sholat Tarawih di 10 Malam Pertama: Apakah Berbeda dari Malam-Malam Terakhir?
AKURAT.CO Setiap Ramadan, umat Islam bersemangat menghidupkan malam dengan sholat Tarawih. Namun muncul pertanyaan yang jarang dibahas secara mendalam: apakah pahala sholat Tarawih di 10 malam pertama berbeda dari malam-malam terakhir? Apakah ada tingkatan pahala tertentu berdasarkan fase Ramadan?
Secara prinsip, keutamaan Tarawih bersandar pada hadis sahih berikut:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang menegakkan (shalat malam) pada bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Hadis ini bersifat umum, mencakup seluruh malam Ramadan tanpa membedakan awal, pertengahan, atau akhir. Artinya, secara dasar syariat, pahala qiyam Ramadan berlaku sejak malam pertama hingga malam terakhir selama dilaksanakan dengan iman dan keikhlasan.
Apakah Ada Perbedaan Fase Ramadan?
Di tengah masyarakat, beredar riwayat yang menyebutkan bahwa 10 malam pertama adalah rahmat, 10 malam kedua ampunan, dan 10 malam terakhir pembebasan dari neraka. Namun para ulama hadis menjelaskan bahwa riwayat tersebut berstatus lemah sehingga tidak dapat dijadikan dasar penetapan pembagian pahala secara pasti.
Yang memiliki landasan kuat justru keutamaan 10 malam terakhir. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersungguh-sungguh meningkatkan ibadah pada fase akhir Ramadan. Hal ini karena adanya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Allah berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. al-Qadr: 3)
Ayat ini menunjukkan adanya keutamaan khusus di malam tertentu pada 10 malam terakhir. Karena itu, jika Tarawih bertepatan dengan Lailatul Qadar, maka nilainya tentu jauh lebih besar dibanding malam biasa.
Baca Juga: Pahala Sholat Tarawih: Dalil Sahih, Penjelasan Ulama, dan Fakta yang Perlu Kamu Tahu
Bagaimana dengan 10 Malam Pertama?
Meskipun 10 malam terakhir memiliki keutamaan tambahan karena potensi Lailatul Qadar, bukan berarti 10 malam pertama tidak bernilai besar. Setiap malam Ramadan tetap berada dalam cakupan hadis tentang ampunan dosa bagi yang menegakkan qiyam dengan iman dan ihtisab.
Dari perspektif pendidikan spiritual, 10 malam pertama justru menjadi fondasi. Ia membentuk ritme ibadah, melatih konsistensi, dan menyiapkan jiwa untuk mencapai puncak kesungguhan di akhir Ramadan. Tanpa awal yang kuat, sulit mencapai kualitas ibadah yang optimal di fase akhir.
Prinsip umum dalam Islam menyatakan:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. an-Najm: 39)
Artinya, pahala sangat berkaitan dengan usaha dan kesungguhan, bukan sekadar posisi waktu dalam kalender Ramadan.
Perspektif Ulama tentang Pahala
Para ulama menjelaskan bahwa pahala Tarawih tidak dibedakan secara tekstual antara awal dan akhir Ramadan, kecuali jika bertepatan dengan malam yang memiliki keutamaan khusus seperti Lailatul Qadar. Dengan demikian, perbedaan pahala bukan karena fase 10 malam pertama atau terakhir secara otomatis, tetapi karena kualitas amal dan keberkahan waktu tertentu.
Karena itu, konsistensi sejak awal Ramadan sangat penting. Banyak orang bersemangat di awal tetapi melemah di akhir, atau sebaliknya. Padahal, pahala maksimal diraih oleh mereka yang istiqamah sepanjang bulan.
Baca Juga: Rasulullah Tarawih Berapa Rakaat?
QnA Seputar Tarawih dan Fase Ramadan
-
Apakah pahala Tarawih di 10 malam pertama berbeda?
Secara umum tidak berbeda. Hadis tentang ampunan berlaku untuk seluruh malam Ramadan. -
Mengapa 10 malam terakhir dianggap lebih utama?
Karena terdapat Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. -
Apakah Tarawih di awal Ramadan kurang penting?
Tidak. Ia tetap bernilai besar dan menjadi fondasi konsistensi ibadah. -
Bagaimana agar pahala maksimal sepanjang Ramadan?
Menjaga keikhlasan, mengikuti imam hingga selesai, dan istiqamah dari awal hingga akhir.
Dengan demikian, pahala sholat Tarawih di 10 malam pertama tidak berbeda secara prinsip dari malam lainnya. Namun 10 malam terakhir memiliki potensi keutamaan tambahan karena Lailatul Qadar. Yang paling menentukan bukan sekadar fase waktu, melainkan kualitas iman, keikhlasan, dan konsistensi dalam menghidupkan seluruh malam Ramadan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










