AKURAT.CO Pertanyaan tentang jumlah rakaat shalat Tarawih yang dilakukan Rasulullah ﷺ merupakan salah satu pembahasan yang kerap muncul setiap Ramadan. Perbedaan praktik di tengah masyarakat—ada yang melaksanakan 8 rakaat, ada pula 20 rakaat—sering kali memunculkan diskusi panjang. Untuk memahami persoalan ini secara jernih, perlu ditelusuri riwayat-riwayat hadis serta praktik para sahabat.
Dalam hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim, Aisyah r.a. berkata:
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
“Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah (shalat malam) di bulan Ramadan dan tidak pula di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat.”
Hadis ini menjadi dasar bagi sebagian ulama yang berpendapat bahwa Tarawih Rasulullah berjumlah 8 rakaat ditambah 3 rakaat witir, sehingga totalnya 11 rakaat. Riwayat tersebut menggambarkan konsistensi Nabi dalam qiyamullail, baik di Ramadan maupun di luar Ramadan.
Namun demikian, perlu dipahami bahwa istilah “Tarawih” pada masa Rasulullah belum dikenal sebagai istilah khusus. Yang ada adalah qiyam Ramadan, yaitu shalat malam yang dilakukan di bulan Ramadan.
Rasulullah ﷺ pernah melaksanakan shalat malam secara berjamaah beberapa malam di masjid, kemudian tidak melanjutkannya secara rutin karena khawatir diwajibkan atas umatnya.
Setelah wafatnya Nabi ﷺ, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, kaum Muslimin dikumpulkan untuk melaksanakan Tarawih berjamaah dengan satu imam. Dalam praktik yang berkembang pada masa itu, jumlah rakaat yang dilaksanakan adalah 20 rakaat, belum termasuk witir. Praktik ini kemudian menjadi tradisi di banyak wilayah kaum Muslimin.
Baca Juga: Keutamaan Tarawih bagi Anak yang Belum Baligh
Perbedaan Pendapat Ulama
Sebagian ulama berpendapat bahwa jumlah rakaat yang paling sesuai dengan praktik Nabi adalah 11 rakaat, berdasarkan hadis Aisyah. Mereka menekankan kualitas, kekhusyukan, dan panjangnya bacaan sebagai inti qiyam, bukan banyaknya rakaat.
Sebagian ulama lainnya memandang bahwa praktik 20 rakaat memiliki legitimasi kuat dari para sahabat. Mereka menilai bahwa jumlah rakaat dalam shalat sunnah bersifat fleksibel, selama tidak menyelisihi prinsip dasar syariat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى
“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat.”
Hadis ini menunjukkan bahwa shalat malam tidak dibatasi jumlah maksimalnya secara tegas. Karena itu, sebagian ulama memahami bahwa bilangan rakaat Tarawih dapat bervariasi sesuai kemampuan dan kebiasaan masyarakat, selama dilakukan dengan tata cara yang benar.
Substansi di Balik Jumlah
Perbedaan jumlah rakaat tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan. Inti Tarawih adalah menghidupkan malam Ramadan dengan iman dan harapan pahala. Allah berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. al-Baqarah: 185)
Karena itu, fokus utama Tarawih adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui shalat dan tilawah Al-Qur’an, bukan sekadar memperdebatkan angka.
Baca Juga: Niat Salat Idulfitri sebagai Makmum, Lengkap dengan Tata Caranya
QnA Seputar Jumlah Rakaat Tarawih
-
Rasulullah Tarawih berapa rakaat?
Berdasarkan hadis Aisyah, beliau melaksanakan 11 rakaat (termasuk witir). -
Mengapa ada yang melaksanakan 20 rakaat?
Karena praktik tersebut berkembang pada masa sahabat dan diterima oleh banyak ulama. -
Mana yang paling benar, 8 atau 20 rakaat?
Keduanya memiliki dasar dan dapat dibenarkan dalam kerangka ijtihad ulama. -
Apakah boleh berbeda dengan masjid lain?
Boleh, selama tetap menjaga persatuan dan saling menghormati.
Dengan demikian, Rasulullah ﷺ melaksanakan qiyam Ramadan sebanyak 11 rakaat menurut riwayat sahih. Namun, perkembangan praktik di masa sahabat menunjukkan adanya keluasan dalam jumlah rakaat. Yang terpenting bukan pada bilangan semata, melainkan pada kekhusyukan, keikhlasan, dan kesungguhan dalam menghidupkan malam Ramadan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 6Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 7Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK





