Akurat

1 Ramadhan 2026 Jatuh pada Tanggal Berapa? Ini Penjelasan Resminya

Fajar Rizky Ramadhan | 7 Februari 2026, 06:49 WIB
1 Ramadhan 2026 Jatuh pada Tanggal Berapa? Ini Penjelasan Resminya

AKURAT.CO Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, pertanyaan mengenai kepastian awal puasa kembali mengemuka di tengah masyarakat. Penentuan 1 Ramadhan memiliki makna penting karena menjadi dasar bagi pelaksanaan ibadah puasa, pengaturan aktivitas sosial, serta tradisi keagamaan umat Islam.

Di Indonesia, penetapan awal Ramadhan tidak hanya berkaitan dengan aspek astronomi, tetapi juga melibatkan otoritas keagamaan dan mekanisme resmi negara. Perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah kerap memunculkan potensi perbedaan awal puasa di tengah umat.

Berdasarkan penanggalan Hijriah, Ramadhan 2026 Masehi bertepatan dengan Ramadhan 1447 Hijriah. Kalender Hijriah sendiri menggunakan sistem qamariyah yang bergantung pada peredaran bulan, sehingga awal bulan ditentukan melalui metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyatul hilal (pengamatan bulan).

Baca Juga: Jadwal Libur dan Cuti Bersama Februari–Maret 2026 Menjelang Ramadhan

Muhammadiyah, melalui Maklumat Pimpinan Pusat Nomor 2/MLM/1.0/E/2025, telah menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal, yang menjadi pedoman resmi Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Dalam maklumat tersebut dijelaskan bahwa ijtimak terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, dan bulan baru dimulai setelah matahari terbenam pada hari tersebut.

Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menjadwalkan Sidang Isbat penentuan awal Ramadhan 1447 H pada Selasa, 17 Februari 2026. Sidang Isbat merupakan mekanisme resmi negara yang digunakan untuk menetapkan awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijjah. Proses ini melibatkan pemaparan data hisab, verifikasi hasil rukyatul hilal dari berbagai titik pengamatan di Indonesia, serta musyawarah bersama unsur pemerintah, ormas Islam, dan para ahli falak.

Pemerintah mengintegrasikan metode hisab dan rukyat sebagai upaya menjaga keseimbangan antara pendekatan ilmiah dan syar’i, sekaligus memperkuat legitimasi dan persatuan umat. Hasil Sidang Isbat kemudian diumumkan secara resmi sebagai acuan nasional.

Dengan adanya perbedaan metode tersebut, potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan 2026 tetap terbuka. Jika hasil rukyatul hilal pemerintah menyatakan hilal belum terlihat atau belum memenuhi kriteria yang ditetapkan, maka awal Ramadhan versi pemerintah bisa berbeda dengan penetapan Muhammadiyah. Situasi seperti ini bukan hal baru dan telah berulang pada tahun-tahun sebelumnya.

Pemerintah dan para tokoh agama senantiasa mengimbau masyarakat untuk menyikapi perbedaan dengan sikap saling menghormati. Perbedaan penetapan awal puasa dipandang sebagai konsekuensi dari keragaman ijtihad dalam Islam, selama dilandasi niat ibadah dan mengikuti otoritas yang diyakini masing-masing.

Baca Juga: Apa Itu Cincin Api? Fenomena Langit Jelang Ramadhan 2026 yang Jadi Perhatian Dunia

Secara global, awal Ramadhan 2026 juga diperkirakan berbeda antarnegara, bergantung pada hasil pengamatan bulan dan kriteria yang digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan awal Ramadhan merupakan fenomena yang wajar dalam sistem kalender Hijriah.

Dengan demikian, kepastian 1 Ramadhan 2026 di Indonesia tetap menunggu hasil Sidang Isbat pemerintah, meskipun sebagian umat Islam telah memiliki rujukan awal berdasarkan keputusan organisasi keagamaan. Yang terpenting, Ramadhan tetap menjadi momentum spiritual untuk memperkuat keimanan, persaudaraan, dan nilai-nilai kebersamaan di tengah perbedaan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.