Akurat

10 Amalan Isra Mi’raj 27 Rajab untuk Mempermudah Jalan Rezeki

Fajar Rizky Ramadhan | 16 Januari 2026, 07:48 WIB
10 Amalan Isra Mi’raj 27 Rajab untuk Mempermudah Jalan Rezeki

AKURAT.CO Peringatan Isra Mi’raj pada 27 Rajab tidak hanya menjadi momentum historis mengenang perjalanan agung Nabi Muhammad SAW, tetapi juga ruang refleksi spiritual bagi umat Islam. Dalam tradisi keislaman, malam dan hari Isra Mi’raj diyakini sebagai waktu yang penuh keberkahan, terutama untuk memperbaiki kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Salah satu tema yang sering dikaitkan dengan Isra Mi’raj adalah soal rezeki. Dalam perspektif Islam, rezeki tidak semata dimaknai sebagai materi, tetapi mencakup ketenangan hati, kesehatan, ilmu, keberkahan keluarga, dan kemudahan hidup. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa kedekatan spiritual merupakan kunci terbukanya pintu-pintu kebaikan, termasuk rezeki.

Berikut 10 amalan yang dianjurkan pada momen Isra Mi’raj 27 Rajab sebagai ikhtiar spiritual untuk mempermudah jalan rezeki, baik secara lahir maupun batin.

1. Memperbaiki Kualitas Shalat Lima Waktu

Isra Mi’raj adalah peristiwa ditetapkannya shalat lima waktu. Karena itu, amalan utama yang paling esensial adalah memperbaiki kualitas shalat, bukan sekadar menunaikannya. Shalat yang khusyuk, tepat waktu, dan penuh kesadaran akan melahirkan ketenangan batin, disiplin hidup, serta keberkahan rezeki.

Dalam Al-Qur’an, shalat disebut sebagai sarana pertolongan (isti‘anah) yang membantu manusia menghadapi kesulitan hidup, termasuk persoalan ekonomi.

2. Memperbanyak Shalat Sunnah

Selain shalat wajib, shalat sunnah seperti shalat Dhuha, Tahajud, dan Hajat sangat dianjurkan. Shalat Dhuha secara khusus sering dikaitkan dengan kelapangan rezeki, sementara Tahajud menjadi simbol kesungguhan hamba dalam mengetuk pintu langit pada waktu paling sunyi.

Isra Mi’raj mengajarkan bahwa kedekatan vertikal dengan Allah SWT memiliki implikasi langsung pada kemudahan urusan duniawi.

3. Membaca Istighfar dan Taubat

Istighfar bukan hanya penghapus dosa, tetapi juga pembuka pintu rezeki. Dalam banyak ayat dan riwayat, Allah SWT menjanjikan kelapangan hidup bagi mereka yang memperbanyak istighfar dan taubat dengan sungguh-sungguh.

Momentum Isra Mi’raj menjadi waktu yang tepat untuk evaluasi diri, membersihkan hati dari kesalahan, dan memperbarui komitmen hidup yang lebih lurus.

Baca Juga: Mengenal Isra Mi’raj 27 Rajab: Definisi, Sejarah, dan Hikmahnya

4. Memperbanyak Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW

Shalawat merupakan amalan yang memiliki efek spiritual dan sosial sekaligus. Dalam hadis disebutkan bahwa orang yang bershalawat akan dilapangkan urusannya dan dicukupkan kebutuhannya.

Mengingat Isra Mi’raj adalah peristiwa agung yang dialami Nabi Muhammad SAW, memperbanyak shalawat menjadi bentuk cinta sekaligus sarana mendatangkan keberkahan hidup.

5. Membaca Al-Qur’an dan Tadabbur Maknanya

Al-Qur’an adalah sumber ketenangan dan petunjuk hidup. Membaca Al-Qur’an pada malam atau hari Isra Mi’raj, disertai tadabbur makna, dapat memperkuat orientasi hidup dan membuka wawasan spiritual tentang hakikat rezeki.

Banyak ulama menegaskan bahwa rezeki sering kali tersumbat bukan karena kurang usaha, tetapi karena kaburnya arah hidup dan nilai-nilai moral.

6. Bersedekah, Meski Sedikit

Sedekah merupakan amalan paradoksal: secara logika tampak mengurangi harta, tetapi secara spiritual justru melipatgandakannya. Dalam konteks Isra Mi’raj, sedekah menjadi simbol keikhlasan dan kepercayaan penuh kepada Allah SWT sebagai pemberi rezeki sejati.

Sedekah tidak harus besar. Yang utama adalah konsistensi dan niat yang tulus.

7. Berdoa Memohon Rezeki yang Halal dan Berkah

Doa adalah inti ibadah. Pada momen Isra Mi’raj, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, khususnya memohon rezeki yang halal, cukup, dan membawa keberkahan.

Rezeki yang berkah tidak selalu identik dengan jumlah, tetapi dengan dampaknya terhadap ketenangan jiwa dan kemaslahatan hidup.

8. Menjaga Silaturahmi

Dalam ajaran Islam, silaturahmi memiliki hubungan erat dengan panjang umur dan kelapangan rezeki. Isra Mi’raj mengingatkan bahwa hubungan vertikal dengan Allah harus diiringi dengan hubungan horizontal yang sehat dengan sesama manusia.

Memperbaiki relasi keluarga, tetangga, dan rekan kerja merupakan bagian dari ikhtiar spiritual yang sering kali dilupakan.

9. Menjauhi Maksiat dan Perilaku Tidak Etis

Ulama sepakat bahwa maksiat dapat menghalangi datangnya rezeki. Isra Mi’raj, sebagai peristiwa penyucian spiritual, menjadi momentum untuk meninggalkan kebiasaan buruk, baik yang bersifat personal maupun sosial.

Dalam konteks modern, maksiat tidak hanya dimaknai secara ritual, tetapi juga perilaku tidak etis seperti kecurangan, ketidakjujuran, dan ketidakadilan.

Baca Juga: Kalender Jawa 29 Desember 2025: Weton Senin Kliwon, Watak, Rezeki, dan Hari Baiknya

10. Menata Niat dan Etos Kerja

Islam tidak mengajarkan spiritualitas pasif. Justru Isra Mi’raj menegaskan pentingnya keseimbangan antara ibadah dan ikhtiar. Menata niat bekerja sebagai bagian dari ibadah akan mengubah aktivitas duniawi menjadi bernilai akhirat.

Rezeki yang dimudahkan sering kali datang kepada mereka yang bekerja dengan niat lurus, etos yang kuat, dan tanggung jawab moral.

Penutup

Isra Mi’raj 27 Rajab bukanlah sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum transformasi diri. Sepuluh amalan di atas menunjukkan bahwa jalan rezeki dalam Islam tidak pernah dilepaskan dari kualitas hubungan manusia dengan Allah SWT dan dengan sesama.

Dengan menjadikan Isra Mi’raj sebagai titik tolak perbaikan spiritual, umat Islam diharapkan tidak hanya memperoleh kelapangan rezeki, tetapi juga keberkahan hidup yang utuh—tenang, bermakna, dan berorientasi akhirat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.