Akurat

Mengenal Isra Mi’raj 27 Rajab: Definisi, Sejarah, dan Hikmahnya

Fajar Rizky Ramadhan | 16 Januari 2026, 07:43 WIB
Mengenal Isra Mi’raj 27 Rajab: Definisi, Sejarah, dan Hikmahnya

AKURAT.CO Peristiwa Isra Mi’raj merupakan salah satu episode paling monumental dalam sejarah Islam. Ia bukan sekadar kisah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, melainkan fondasi teologis yang membentuk dimensi ibadah, keimanan, dan relasi manusia dengan Tuhan. Diperingati setiap tanggal 27 Rajab dalam kalender Hijriah, Isra Mi’raj terus menjadi ruang refleksi lintas zaman: tentang iman, rasionalitas, dan makna ketaatan dalam kehidupan modern.

Dalam konteks masyarakat Muslim hari ini—yang hidup di tengah akselerasi teknologi, krisis makna, dan fragmentasi spiritual—Isra Mi’raj tidak cukup dipahami sebagai peristiwa historis semata. Ia menuntut pembacaan yang lebih mendalam, kritis, dan kontekstual. Lalu, apa sebenarnya Isra Mi’raj itu? Bagaimana sejarah terjadinya? Dan apa hikmah yang relevan bagi umat Islam hari ini?

Definisi Isra Mi’raj

Secara etimologis, Isra berarti perjalanan malam hari, sedangkan Mi’raj berarti naik atau tangga menuju tempat yang lebih tinggi. Dalam terminologi Islam, Isra Mi’raj adalah peristiwa luar biasa yang dialami Nabi Muhammad SAW dalam satu malam, berupa perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina (Isra), kemudian dilanjutkan dengan perjalanan menembus lapisan-lapisan langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj).

Peristiwa ini disebut secara eksplisit dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 1, yang menegaskan bahwa perjalanan tersebut merupakan kehendak Allah SWT dan menjadi bagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya. Sementara detail perjalanan Mi’raj banyak dijelaskan dalam hadis-hadis sahih yang diriwayatkan oleh para sahabat, di antaranya melalui jalur Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Dalam kajian teologi Islam, Isra Mi’raj dipahami sebagai peristiwa nyata, baik secara ruhani maupun jasmani. Pandangan ini menjadi arus utama (mainstream) dalam akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, meskipun diskursus rasional-filosofis terus berkembang dalam sejarah pemikiran Islam.

Baca Juga: Sejarah Isra Miraj Lengkap: Kisah Perjalanan Nabi Muhammad SAW dan Maknanya bagi Umat Islam

Sejarah Terjadinya Isra Mi’raj

Para sejarawan Muslim sepakat bahwa Isra Mi’raj terjadi pada periode yang sangat berat dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW, yakni setelah wafatnya dua sosok penopang utama dakwah beliau: Khadijah binti Khuwailid dan Abu Thalib. Tahun itu dikenal sebagai ‘Aamul Huzn (Tahun Kesedihan).

Secara historis, peristiwa Isra Mi’raj terjadi sekitar satu tahun sebelum hijrah ke Madinah. Saat tekanan psikologis, sosial, dan politik terhadap Nabi mencapai titik maksimum, Allah SWT justru menghadirkan pengalaman spiritual tertinggi sebagai bentuk penguatan, penghiburan, sekaligus legitimasi kenabian.

Dalam perjalanan Isra, Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Malaikat Jibril menggunakan Buraq—makhluk yang digambarkan lebih cepat dari cahaya—hingga sampai di Masjidil Aqsa. Di sana, Nabi menjadi imam shalat bagi para nabi terdahulu, sebuah simbol kuat tentang kesinambungan risalah tauhid.

Selanjutnya, dalam peristiwa Mi’raj, Nabi Muhammad SAW naik ke langit, bertemu dengan para nabi di setiap lapisan langit, hingga akhirnya menerima perintah shalat langsung dari Allah SWT. Awalnya, shalat diwajibkan sebanyak 50 kali sehari, sebelum akhirnya diringankan menjadi lima waktu dengan pahala setara lima puluh.

Sejarah ini menegaskan bahwa shalat bukan sekadar ritual, melainkan produk dialog langsung antara Nabi dan Tuhan—sesuatu yang tidak dimiliki ibadah lain.

Hikmah Isra Mi’raj

Isra Mi’raj menyimpan hikmah multidimensional yang melampaui batas ruang dan waktu. Setidaknya, ada beberapa pelajaran utama yang relevan untuk umat Islam kontemporer.

Pertama, Isra Mi’raj menegaskan posisi sentral shalat dalam kehidupan Muslim. Shalat bukan sekadar kewajiban administratif agama, tetapi pilar spiritual yang menghubungkan manusia dengan Allah. Dalam konteks modern yang serba cepat dan penuh distraksi, shalat menjadi ruang jeda eksistensial—tempat manusia kembali menemukan orientasi hidupnya.

Kedua, Isra Mi’raj mengajarkan bahwa ujian berat sering kali menjadi pintu menuju kedekatan spiritual yang lebih tinggi. Peristiwa ini terjadi bukan saat Nabi berada di puncak kejayaan, tetapi justru ketika beliau berada dalam fase paling rapuh secara manusiawi. Pesan ini relevan bagi generasi hari ini yang kerap mengalami krisis mental, tekanan sosial, dan kelelahan emosional.

Ketiga, Isra Mi’raj memperlihatkan harmoni antara iman dan rasio. Meski bersifat suprarasional, peristiwa ini tidak bertentangan dengan akal, melainkan menantang batas-batasnya. Dalam sejarah Islam, Isra Mi’raj menjadi laboratorium intelektual bagi para ulama untuk mendiskusikan relasi antara wahyu, akal, dan pengalaman spiritual.

Keempat, Isra Mi’raj mengandung pesan persatuan umat. Shalat Nabi bersama para nabi terdahulu di Masjidil Aqsa menegaskan bahwa Islam adalah kelanjutan dari risalah tauhid yang universal. Ini menjadi basis teologis bagi dialog antarumat beragama dan peneguhan nilai kemanusiaan global.

Baca Juga: Naskah Khutbah Jum’at: Cara Memperoleh Keberkahan Bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan

Relevansi Isra Mi’raj di Era Kontemporer

Di tengah modernitas yang cenderung meminggirkan dimensi spiritual, Isra Mi’raj hadir sebagai kritik sunyi terhadap kehidupan yang terlalu materialistik. Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tanpa kedalaman spiritual hanya akan melahirkan kehampaan eksistensial.

Bagi umat Islam hari ini, memperingati Isra Mi’raj bukan hanya soal seremonial, tetapi momentum evaluasi kualitas ibadah, terutama shalat. Apakah shalat sudah menjadi mi’raj personal—yang mengangkat derajat moral dan spiritual—atau sekadar rutinitas tanpa makna?

Dengan demikian, Isra Mi’raj tidak berhenti sebagai peristiwa masa lalu, melainkan terus hidup sebagai energi transformasi. Ia mengajarkan bahwa dari bumi yang penuh luka, manusia bisa naik menuju langit harapan—asal tidak melepaskan iman dan ketaatan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.