Memahami Ancaman Gempa Megathrust dalam Pandangan Islam

AKURAT.CO Peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait keberadaan 13 segmen megathrust yang berpotensi memicu gempa besar di Indonesia kembali mengingatkan masyarakat bahwa wilayah Nusantara berada pada zona rawan bencana geologi.
Meski BMKG menegaskan bahwa gempa-gempa lokal yang terjadi tidak berkaitan langsung dengan peristiwa megathrust di Jepang, fakta tingginya aktivitas seismik tetap menuntut kewaspadaan kolektif.
Dalam konteks ini, penting untuk memahami ancaman gempa megathrust tidak hanya dari sisi ilmiah, tetapi juga melalui perspektif keagamaan, khususnya pandangan Islam.
Dalam Islam, gempa bumi dipahami sebagai bagian dari sunnatullah, yakni hukum alam yang ditetapkan Allah SWT bagi kehidupan di bumi.
Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa segala peristiwa alam tidak terjadi secara kebetulan, melainkan berada dalam ketetapan dan ilmu Allah.
Firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 1 menggambarkan dahsyatnya guncangan bumi sebagai peristiwa yang menggugah kesadaran manusia akan keterbatasannya.
Ayat ini tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti semata, melainkan mengajak manusia untuk merenung dan bersikap waspada.
Islam tidak mengajarkan sikap fatalistik dalam menghadapi bencana. Justru sebaliknya, manusia diperintahkan untuk melakukan ikhtiar, membaca tanda-tanda alam, dan mengambil langkah pencegahan.
Baca Juga: Sejarah Panjang Konflik Islam-Eropa dalam Pusaran Kekuasaan Dunia
Peringatan ilmiah dari BMKG mengenai potensi megathrust dapat dipahami sebagai bagian dari pengetahuan yang harus dimanfaatkan untuk melindungi kehidupan.
Dalam kerangka ini, sains dan agama tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Pengetahuan geologi membantu manusia memahami risiko, sementara nilai-nilai keimanan membentuk sikap mental yang tangguh dan bertanggung jawab.
Dalam pandangan Islam, bencana alam memiliki dimensi yang beragam. Ia bisa menjadi ujian keimanan, peringatan agar manusia tidak bersikap lalai, atau konsekuensi dari rusaknya keseimbangan alam akibat ulah manusia.
Al-Qur’an dalam Surah Ar-Rum ayat 41 menyebutkan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi karena perbuatan manusia sendiri. Ayat ini sering dipahami sebagai dorongan etis agar manusia menjaga lingkungan, termasuk tata ruang, hutan, dan ekosistem pesisir yang berkaitan langsung dengan mitigasi bencana gempa dan tsunami.
Ancaman gempa megathrust juga mengajarkan pentingnya solidaritas sosial. Islam menekankan nilai ta’awun atau saling tolong-menolong dalam menghadapi kesulitan.
Kesiapsiagaan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi juga masyarakat secara luas.
Edukasi kebencanaan, simulasi evakuasi, dan kepedulian terhadap kelompok rentan merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sosial.
Selain ikhtiar lahiriah, Islam juga menganjurkan ikhtiar batiniah berupa doa dan introspeksi diri. Doa bukan dimaknai sebagai pelarian dari tanggung jawab, melainkan sebagai penguat spiritual agar manusia tetap tenang dan tidak panik dalam menghadapi ancaman bencana.
Sikap tenang dan rasional justru sangat dibutuhkan dalam situasi darurat agar keputusan yang diambil tidak memperparah keadaan.
Baca Juga: Direktorat PAI Teguhkan Pendidikan Agama Islam sebagai Investasi Peradaban Bangsa Sepanjang 2025
Dengan demikian, memahami ancaman gempa megathrust dalam pandangan Islam berarti memadukan kesadaran ilmiah, kesiapsiagaan praktis, dan kedewasaan spiritual.
Peringatan BMKG seharusnya dibaca sebagai peluang untuk memperbaiki sistem mitigasi, memperkuat edukasi publik, serta menumbuhkan sikap rendah hati di hadapan kekuasaan Allah SWT.
Dalam perspektif ini, bencana bukan semata-mata sumber ketakutan, tetapi juga momentum untuk membangun masyarakat yang lebih sadar, tangguh, dan bertanggung jawab terhadap alam dan sesama.
Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









