Akurat

Sejarah Panjang Konflik Islam-Eropa dalam Pusaran Kekuasaan Dunia

Eko Krisyanto | 2 Januari 2026, 19:50 WIB
Sejarah Panjang Konflik Islam-Eropa dalam Pusaran Kekuasaan Dunia

AKURAT.CO Sejarah hubungan antara dunia Islam dan Eropa tidak pernah berjalan dalam satu garis lurus. Ia dibentuk oleh perjumpaan peradaban, pertukaran ilmu, kerja sama dagang, sekaligus peperangan besar yang berlangsung berabad-abad.

Perang-perang antara kekuatan Islam dan Eropa bukan sekadar konflik bersenjata, melainkan bagian dari dinamika politik, agama, ekonomi, dan perebutan pengaruh global yang membentuk wajah dunia modern.

Perang besar antara Islam dan Eropa terjadi dalam konteks zaman yang berbeda, dengan motif yang terus berubah. Pada satu masa, perang dilandasi ekspansi wilayah dan penyebaran kekuasaan.

Di masa lain, ia dibungkus legitimasi keagamaan, lalu bergeser menjadi konflik geopolitik antar-imperium.

Memahami sejarah perang ini penting untuk melihat bagaimana relasi Islam–Eropa berkembang, dari konfrontasi terbuka hingga hubungan yang lebih kompleks di era modern.

Baca Juga: Utusan Trump Dianggap Gemakan Perang Salib Terhadap Palestina

Ekspansi Islam dan Reaksi Eropa (Abad ke-7–8)

Perang besar pertama antara Islam dan Eropa bermula dari ekspansi cepat kekhalifahan Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada abad ke-7.

Dalam waktu kurang dari satu abad, pasukan Muslim telah menguasai wilayah luas dari Jazirah Arab, Afrika Utara, hingga Semenanjung Iberia.

Penaklukan Al-Andalus (Spanyol) pada tahun 711 menjadi titik penting pertemuan Islam dan Eropa Barat.

Bagi dunia Islam, ekspansi ini merupakan bagian dari pembentukan kekuasaan politik baru.

Sementara bagi kerajaan-kerajaan Kristen Eropa, kehadiran kekuasaan Muslim di wilayah yang mereka anggap sebagai jantung Eropa memicu kekhawatiran besar.

Perang dan perlawanan berlangsung dalam berbagai bentuk, mulai dari pertempuran terbuka hingga perang wilayah yang berlarut-larut. Namun, periode ini juga diwarnai koeksistensi, terutama di Al-Andalus, di mana umat Muslim, Kristen, dan Yahudi hidup berdampingan selama beberapa abad, meski di bawah ketegangan politik yang tidak pernah sepenuhnya hilang.

Baca Juga: Penyelam Temukan Pedang yang Diduga Milik Kesatria selama Perang Salib

Perang Salib, Konflik Terbuka Skala Internasional (Abad ke-11–13)

Perang Salib menjadi simbol paling kuat dari perang besar antara Islam dan Eropa. Dimulai pada akhir abad ke-11, rangkaian perang ini melibatkan kerajaan-kerajaan Kristen Eropa yang mengirim pasukan ke Timur Tengah dengan tujuan merebut Yerusalem dan wilayah suci dari kekuasaan Muslim.

Perang Salib bukan sekadar konflik agama. Di balik seruan keimanan, terdapat kepentingan politik, ekonomi, dan prestise kekuasaan.

Para bangsawan Eropa melihat Perang Salib sebagai peluang memperluas wilayah, sementara Gereja Katolik berupaya memperkuat pengaruhnya di Eropa.

Di sisi lain, dunia Islam yang awalnya terpecah akhirnya mulai membangun perlawanan terorganisasi.

Tokoh-tokoh seperti Salahuddin Al-Ayyubi muncul sebagai simbol perlawanan sekaligus kepemimpinan yang tidak hanya militer, tetapi juga politik dan moral.

Perebutan Yerusalem, jatuh bangunnya kota-kota strategis, serta penderitaan warga sipil menandai periode ini sebagai salah satu konflik paling berdarah dalam sejarah lintas peradaban.

Bangkitnya Kekaisaran Ottoman dan Ancaman ke Jantung Eropa (Abad ke-14–17)

Setelah era Perang Salib meredup, konflik Islam–Eropa memasuki fase baru dengan bangkitnya Kekaisaran Ottoman.

Berbasis di Anatolia, Ottoman berkembang menjadi kekuatan Islam terbesar yang secara langsung menantang Eropa.

Penaklukan Konstantinopel pada 1453 menjadi momen monumental.

Kota yang selama berabad-abad menjadi simbol Kekaisaran Romawi Timur jatuh ke tangan Ottoman, mengubah peta politik dan psikologis Eropa.

Bagi banyak kerajaan Eropa, ekspansi Ottoman ke Balkan dan Eropa Tengah dipandang sebagai ancaman eksistensial.

Serangkaian perang besar pun terjadi, termasuk pengepungan Wina, pertempuran laut di Mediterania, dan konflik berkepanjangan dengan kekuatan Eropa seperti Habsburg dan Venesia.

Meski Ottoman mencapai puncak kejayaan, keseimbangan kekuatan perlahan berubah seiring kemajuan militer dan ekonomi Eropa.

Pergeseran Konflik dari Agama ke Imperium (Abad ke-18–19)

Memasuki abad ke-18, perang antara Islam dan Eropa tidak lagi didominasi oleh narasi agama.

Konflik berubah menjadi persaingan antar-imperium. Kekuatan Eropa mulai memperluas kolonialisme ke wilayah mayoritas Muslim di Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan.

Wilayah-wilayah Islam tidak lagi berhadapan sebagai kekuatan setara, melainkan sebagai target ekspansi kolonial.

Perang yang terjadi sering kali bersifat asimetris, dengan perlawanan lokal melawan dominasi Eropa.

Dampaknya tidak hanya berupa kekalahan militer, tetapi juga perubahan sistem politik, ekonomi, dan sosial di dunia Islam.

Perang Dunia dan Warisan Konflik di Abad ke-20

Perang Dunia I menjadi titik balik penting. Kekaisaran Ottoman runtuh setelah berpihak pada Blok Sentral, membuka jalan bagi pembagian wilayah-wilayah Muslim oleh kekuatan Eropa.

Konflik besar antara Islam dan Eropa pada fase ini tidak lagi berupa perang langsung antarkepercayaan, melainkan konsekuensi geopolitik dari perang global.

Pembentukan negara-negara baru dengan batas buatan, intervensi politik, dan ketegangan pascakolonial meninggalkan warisan konflik yang panjang.

Banyak persoalan di Timur Tengah modern tidak bisa dilepaskan dari sejarah perang dan dominasi Eropa pada periode ini.

Mengapa Sejarah Ini Masih Relevan?

Sejarah perang besar antara Islam dan Eropa tidak berhenti sebagai catatan masa lalu. Narasi konflik ini kerap dihidupkan kembali dalam wacana politik, identitas, dan hubungan internasional masa kini.

Persepsi saling curiga, trauma sejarah, dan ingatan kolektif masih memengaruhi cara dunia Islam dan Eropa berinteraksi.

Tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa hubungan Islam dan Eropa tidak selalu diwarnai perang.

Di sela-sela konflik, terdapat periode pertukaran ilmu, perdagangan, dan diplomasi yang memperkaya kedua peradaban.

Perang besar antara Islam dan Eropa adalah bagian dari sejarah dunia yang kompleks, penuh konflik, tetapi juga sarat pelajaran. Ia mengajarkan bahwa perang tidak pernah berdiri sendiri, selalu ada konteks politik, ekonomi, dan sosial di baliknya.

Memahami sejarah ini secara utuh, tanpa simplifikasi dan prasangka, menjadi langkah penting untuk melihat hubungan Islam dan Eropa hari ini secara lebih jernih.

Bukan untuk menghidupkan kembali luka lama, melainkan untuk memahami akar persoalan dan membuka ruang dialog yang lebih konstruktif di masa depan.

Mutiara MY (Magang)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R