Akurat

Hukum Menggunakan Ramalan untuk Menentukan Finansial, Asmara, Kesehatan dan Karir dalam Islam

Lufaefi | 13 November 2025, 10:00 WIB
Hukum Menggunakan Ramalan untuk Menentukan Finansial, Asmara, Kesehatan dan Karir dalam Islam

AKURAT.CO Fenomena ramalan masih menjadi daya tarik bagi banyak orang. Dari ramalan shio, zodiak, kartu tarot, hingga prediksi karier dan jodoh, semua itu kerap muncul di media sosial maupun portal berita gaya hidup.

Tidak sedikit orang yang membaca ramalan untuk sekadar hiburan, namun sebagian lain menjadikannya panduan dalam mengambil keputusan hidup. Dalam pandangan Islam, praktik semacam ini memiliki hukum yang jelas dan tegas.

Ramalan, baik dalam bentuk shio maupun zodiak, pada dasarnya termasuk bagian dari praktek kahanah (dukun) dan ‘irafah (peramal), yang sudah dikenal sejak zaman jahiliyah. Islam menolak keras keyakinan bahwa nasib seseorang bisa diketahui melalui benda langit, tanggal lahir, atau perhitungan mistis. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِى السَّمَـٰوَٰتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Artinya: “Katakanlah: tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah.” (QS. An-Naml: 65).

Ayat ini menegaskan bahwa pengetahuan tentang masa depan, keberuntungan, dan nasib hanya dimiliki oleh Allah semata. Setiap upaya manusia untuk mengintip perkara gaib dengan cara selain wahyu merupakan pelanggaran terhadap tauhid.

Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras terhadap orang yang percaya pada ramalan. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ فَلَمْ يُصَدِّقْهُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Artinya: “Barang siapa mendatangi peramal dan menanyakannya tentang sesuatu, maka salatnya tidak diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim).

Baca Juga: MUI Jatim Nilai Aksi Gus Elham Cium Anak Perempuan Haram dan Tak Wajar

Dan dalam hadis lain yang lebih tegas:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ

Artinya: “Barang siapa mendatangi dukun atau peramal lalu membenarkan ucapannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.” (HR. Ahmad, Abu Dawud).

Ulama menjelaskan bahwa larangan ini bukan hanya untuk peramal tradisional, tapi juga berlaku untuk bentuk modern seperti astrologi, zodiak, ramalan karier, prediksi asmara, dan sebagainya. Sebab, esensinya sama: mengaitkan kejadian hidup manusia dengan hal-hal gaib yang tidak pernah Allah izinkan diketahui selain oleh-Nya.

Islam tidak menentang manusia yang berencana dan berhitung untuk masa depan. Namun, perencanaan hidup dalam Islam harus berdasarkan ikhtiar, perhitungan rasional, dan tawakal, bukan pada ramalan. Rasulullah ﷺ bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ

Artinya: “Bersemangatlah terhadap hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah lemah.” (HR. Muslim).

Hadis ini menegaskan keseimbangan antara usaha dan doa, bukan pada keyakinan terhadap hal-hal ghaib yang tidak memiliki dasar ilmiah maupun syar’i.

Adapun ramalan yang digunakan hanya untuk hiburan tanpa meyakininya sebagai kebenaran mutlak, tetap tidak dianjurkan. Ulama seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa meskipun seseorang tidak mempercayai ramalan, jika ia tetap membacanya dan menikmatinya, hal itu termasuk mendekati dosa karena dapat melemahkan tauhid dan menumbuhkan rasa penasaran terhadap hal-hal ghaib.

Dalam hal ini, Islam memberikan panduan jelas agar umat tidak menggantungkan nasib pada angka, bintang, atau prediksi manusia. Nasib dan rezeki seseorang tidak bisa dibaca melalui ramalan, melainkan ditentukan oleh usaha, doa, dan takdir Allah.

Firman Allah dalam Al-Qur’an:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Artinya: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3).

Baca Juga: Cara Cek Porsi dan Estimasi Keberangkatan Haji 2026 Secara Online

Ayat ini menjadi penegasan spiritual bahwa keberuntungan sejati lahir dari takwa, bukan dari ramalan.

Jadi, hukum menggunakan ramalan untuk menentukan arah finansial, asmara, kesehatan, dan karier adalah haram, terutama jika disertai keyakinan bahwa ramalan tersebut benar dan menentukan takdir.

Islam mengajarkan untuk mengganti keyakinan terhadap ramalan dengan optimisme, doa, dan perencanaan yang matang. Karena masa depan bukan untuk diramal, melainkan untuk diusahakan dengan iman dan amal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.