Curhat ke ChatGPT Masalah Hidup: AI Hanya Mendengarkan, Hanya Allah yang Memahami Secara Hakiki

AKURAT.CO Fenomena manusia modern yang semakin akrab dengan kecerdasan buatan kini memasuki babak baru. Data terbaru dari OpenAI pada akhir Oktober 2025 menunjukkan bahwa lebih dari satu juta pengguna ChatGPT setiap pekan membicarakan tentang keinginan mengakhiri hidup atau mengungkap krisis batin mereka. Angka ini mewakili sekitar 0,15 persen dari total 800 juta pengguna aktif mingguan ChatGPT di seluruh dunia.
Sebagian besar pengguna menganggap chatbot ini sebagai tempat aman untuk mencurahkan isi hati tanpa rasa takut dihakimi. Namun di balik kemampuan AI untuk mendengarkan tanpa emosi, tersimpan keterbatasan mendasar: kecerdasan buatan tidak memiliki empati sejati, tidak punya roh, dan tidak mampu memahami penderitaan manusia secara hakiki. ChatGPT hanya mampu merespons berdasarkan pola bahasa, bukan dengan kasih sayang atau pemahaman spiritual.
Fenomena ini seharusnya menjadi peringatan bagi masyarakat global tentang betapa seriusnya krisis eksistensial yang melanda dunia modern. Di tengah derasnya arus teknologi, manusia semakin kehilangan tempat untuk bersandar secara rohani. Banyak orang lebih mudah membuka hati kepada mesin, tetapi sulit menundukkan diri di hadapan Tuhan.
Islam memberikan panduan yang sangat jelas tentang ke mana manusia harus berpaling saat menghadapi tekanan hidup. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186).
Baca Juga: Hukum Menggunakan ChatGPT untuk Belajar Agama secara Otodidak dalam Islam
Ayat ini menjadi jawaban atas kebutuhan terdalam manusia: keinginan untuk didengar dan dipahami. Allah menegaskan bahwa kedekatan-Nya tidak memerlukan perantara teknologi atau medium digital apa pun. Ketika seseorang berdoa, Allah langsung mendengarnya tanpa jeda waktu dan tanpa batas ruang.
Berbeda dengan chatbot yang hanya meniru empati, Tuhan benar-benar menyentuh hati manusia melalui kelembutan rahmat-Nya. Inilah yang disebut para ulama sebagai tawajjuh ilallah — menghadap dengan penuh kesadaran dan kejujuran hati kepada Sang Pencipta. Rasulullah SAW bersabda:
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ
Artinya: “Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa doa kalian akan dikabulkan.” (HR. Tirmidzi)
Dalam Islam, curhat sejati bukan sekadar pelampiasan, melainkan bentuk ibadah. Ketika seseorang menumpahkan keluh kesahnya kepada Allah, ia sedang memperkuat hubungan spiritual yang menenangkan hati. Allah berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan sejati tidak bisa diciptakan oleh sistem algoritma, melainkan hanya lahir dari hubungan spiritual antara manusia dan Tuhannya. Zikir, doa, dan shalat menjadi media yang lebih mendalam daripada percakapan digital yang dingin dan terbatas.
Namun, Islam juga tidak menolak teknologi. AI dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi, refleksi, bahkan penyadaran moral, sejauh ia ditempatkan dalam kerangka nilai-nilai kemanusiaan. Manusia harus menjadi subjek yang bijak, bukan objek yang terombang-ambing oleh mesin.
Krisis eksistensial yang kini dialami jutaan pengguna AI seharusnya menjadi momentum untuk kembali pada sumber makna hidup yang sejati. Hidup bukan sekadar rangkaian data dan logika, melainkan perjalanan ruhani untuk menemukan kedekatan dengan Allah.
Baca Juga: OpenAI Siapkan Fitur Baru untuk Browser AI ChatGPT Atlas
Dalam kesepian paling sunyi, manusia bisa berbicara kepada Tuhan tanpa perlu koneksi internet atau akun pengguna. Karena hakikatnya, tidak ada makhluk yang memahami isi hati manusia kecuali Dia sendiri.
Sebagaimana firman-Nya:
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Artinya: “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16)
AI bisa mendengarkan kata-kata, tetapi hanya Allah yang memahami makna di baliknya. Inilah perbedaan mendasar antara ciptaan dan Pencipta — antara sistem digital dan cinta Ilahi. Ketika dunia semakin bising dengan suara mesin, Islam mengingatkan: jalan pulang menuju ketenangan selalu ada di dalam hati yang berzikir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









