Akurat

5 Ciri Kepribadian Orang yang Tak Bisa Berhenti Main HP di Malam Hari Menurut Islam

Fajar Rizky Ramadhan | 25 Oktober 2025, 16:36 WIB
5 Ciri Kepribadian Orang yang Tak Bisa Berhenti Main HP di Malam Hari Menurut Islam

AKURAT.CO Di era digital seperti sekarang, banyak orang sulit melepaskan ponselnya, terutama di malam hari. Saat seharusnya tubuh dan pikiran beristirahat, justru mata terpaku pada layar—scroll media sosial, nonton video pendek, atau chatting tanpa henti.

Secara psikologis, kebiasaan ini dikenal sebagai doom scrolling atau phone addiction. Tapi jika dilihat dari perspektif Islam, perilaku ini bukan sekadar masalah waktu tidur yang terganggu, melainkan juga cerminan dari kondisi spiritual dan kepribadian seseorang.

Berikut lima ciri kepribadian orang yang tak bisa berhenti main HP di malam hari menurut pandangan Islam, beserta renungan agar kita bisa memperbaikinya.

Baca Juga: 5 Alasan Mengapa Umroh Mandiri Lebih Worth It Dibanding dengan Jasa Travel

  1. Hatinya Belum Tenang (Qalbu Ghairu Muthmainnah)
    Orang yang tak bisa berhenti menatap layar hingga larut malam seringkali sedang mencari ketenangan semu. Ia mungkin merasa “kosong” di dalam hati, sehingga mencari pelarian lewat hiburan digital. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
    Ketika seseorang lebih memilih scroll media sosial ketimbang berzikir atau menenangkan diri dengan doa sebelum tidur, itu tanda bahwa hatinya belum stabil. Ia lebih sering terikat dengan dunia maya ketimbang hubungan spiritual dengan Tuhannya. Dalam perspektif psikologi Islam, ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara nafsu ammārah (dorongan ego) dan qalbu (kesadaran batin).

  2. Sulit Mengendalikan Diri (Lemah Mujahadah an-Nafs)
    Islam mengajarkan bahwa jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu. Rasulullah SAW bersabda, “Mujahid sejati adalah orang yang berjuang melawan dirinya sendiri.” (HR. Ahmad).
    Kebiasaan tak bisa berhenti main HP di malam hari menandakan lemahnya kontrol diri (self-restraint). Ini termasuk gejala isyraf (berlebihan) dalam hal waktu dan perhatian. Dalam ilmu tasawuf, orang yang kehilangan kendali atas kebiasaan kecil seperti ini biasanya juga kesulitan menjaga konsistensi dalam ibadah dan fokus hidup.

  3. Mudah Lupa Waktu dan Lalai terhadap Ibadah
    Ciri lain dari mereka yang kecanduan HP di malam hari adalah kehilangan kesadaran waktu. Ia tidak sadar jam sudah berganti dini hari, sementara Subuh terancam terlewat. Ini bentuk ghaflah (kelalaian), yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai penyakit hati. Allah memperingatkan, “Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205).
    Kecanduan layar di malam hari sering menunda tidur, lalu berdampak pada kualitas ibadah esok harinya. Dalam pandangan spiritual Islam, orang yang sering menunda-nunda tidur karena hal sia-sia akan kehilangan barakah waktu malam—masa yang justru paling dianjurkan untuk qiyamul lail, muhasabah, atau doa pribadi.

  4. Cenderung Hedonis dan Haus Pengakuan Sosial
    Scroll tanpa henti di media sosial biasanya bukan sekadar mencari informasi, tapi mencari validasi. Orang yang terus membuka HP hingga larut malam sering ingin tahu siapa yang menyukai unggahannya, siapa yang menanggapi statusnya, atau apa yang sedang viral agar tak “tertinggal.”
    Dalam Islam, ini disebut hubbud dunya—cinta dunia yang berlebihan. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan.” (HR. Baihaqi).
    Orang dengan kepribadian seperti ini cenderung menilai dirinya berdasarkan reaksi orang lain, bukan berdasarkan nilai spiritual. Ia merasa hidupnya “kosong” tanpa koneksi digital, padahal yang dibutuhkan adalah koneksi ruhani dengan Allah.

  5. Menunda Kebaikan dan Meremehkan Waktu Malam
    Malam adalah waktu yang sangat berharga dalam Islam. Allah berfirman, “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat untuk khusyuk dan bacaan pada waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Muzzammil: 6).
    Ketika seseorang malah sibuk bermain HP hingga mengabaikan kesempatan berdoa, membaca Al-Qur’an, atau sekadar merenungi hidup, itu tanda bahwa prioritasnya telah bergeser. Ia lebih fokus pada hal-hal yang fana ketimbang hal-hal yang memberi keberkahan abadi.
    Kepribadian seperti ini cenderung mudah menunda amal baik, termasuk hal-hal kecil seperti tidur lebih awal agar bisa bangun untuk shalat malam atau Subuh berjamaah. Dalam psikologi spiritual Islam, ini termasuk tanda su’ul tadbir—buruk dalam mengelola waktu yang telah diamanahkan Allah.

Baca Juga: Hari Ini Tanggal Berapa Hijriah? Cek Kalender Islam 24 Oktober 2025


Islam tidak melarang menggunakan HP atau teknologi, tapi mengingatkan agar manusia tidak diperbudak olehnya. Rasulullah SAW mengajarkan prinsip wasathiyah (keseimbangan): memanfaatkan dunia tanpa tenggelam di dalamnya. Jika seseorang sudah tidak bisa berhenti menatap layar di malam hari, berarti ia sedang kehilangan kendali atas nikmat waktu dan akal.

Mulailah dengan langkah kecil: matikan notifikasi satu jam sebelum tidur, baca doa malam, dan biasakan berdialog dengan diri sendiri sebelum menutup mata. Karena sesungguhnya, yang paling berharga di malam hari bukan cahaya dari layar ponsel, tetapi cahaya dari hati yang terhubung dengan Sang Pencipta.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.