Akurat

Perbedaan Feodalisme dan Ta’zim Murid kepada Kiai dalam Pesantren

Fajar Rizky Ramadhan | 15 Oktober 2025, 19:24 WIB
Perbedaan Feodalisme dan Ta’zim Murid kepada Kiai dalam Pesantren

AKURAT.CO Dalam konteks pendidikan Islam, terutama di lingkungan pesantren, hubungan antara murid dan kiai menjadi fondasi utama dalam proses pembelajaran. Hubungan ini dibangun atas dasar penghormatan, cinta, dan adab.

Namun, tidak jarang muncul kesalahpahaman dari kalangan luar yang menilai bahwa bentuk penghormatan santri kepada kiai menyerupai feodalisme—suatu sistem sosial yang menempatkan seseorang di posisi superior dan lainnya inferior secara kaku dan tidak rasional.

Padahal, secara konseptual dan filosofis, antara feodalisme dan ta’zim murid kepada kiai memiliki perbedaan yang mendasar, baik dari segi nilai, tujuan, maupun landasan etisnya.

Feodalisme adalah sistem sosial-politik yang berkembang di Eropa abad pertengahan, di mana masyarakat terbagi dalam kelas sosial yang sangat hierarkis.

Dalam sistem ini, tuan tanah atau bangsawan memiliki kekuasaan mutlak atas tanah dan rakyatnya, sementara rakyat bawahan harus tunduk sepenuhnya tanpa ruang dialog atau mobilitas sosial.

Feodalisme lahir dari struktur ekonomi dan kekuasaan yang menindas, bukan dari sistem nilai spiritual atau moral. Dalam feodalisme, relasi antara penguasa dan rakyat didasarkan pada ketakutan, keterpaksaan, dan kepentingan materi.

Baca Juga: Karakter Pendidikan Profesi Guru yang Ada di Pesantren

Sementara itu, ta’zim murid kepada kiai dalam tradisi pesantren berakar dari nilai-nilai adab dan spiritualitas Islam. Kata “ta’zim” berasal dari bahasa Arab yang berarti memuliakan, menghormati, atau mengagungkan dalam konteks penghormatan terhadap ilmu dan orang yang menyandangnya.

Al-Qur’an menegaskan pentingnya menghormati ulama sebagai pewaris ilmu:


يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah [58]: 11)

Ayat ini menunjukkan bahwa penghormatan terhadap orang berilmu adalah bentuk pengakuan terhadap kedudukan ilmu itu sendiri. Dalam konteks pesantren, penghormatan murid kepada kiai bukan karena status sosial atau kekayaan, melainkan karena kiai dipandang sebagai sosok pewaris Nabi, pembimbing spiritual, dan penjaga nilai-nilai keilmuan Islam.

Hubungan ta’zim antara santri dan kiai juga bersifat timbal balik dan penuh kasih. Kiai mendidik dengan cinta, sementara santri menghormati dengan adab. Dalam hadis disebutkan:


لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak ulama di antara kami.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menjadi dasar etika pendidikan di pesantren, bahwa penghormatan kepada guru adalah bagian dari penghormatan kepada ilmu dan agama itu sendiri.

Feodalisme menindas kesetaraan, sedangkan ta’zim menumbuhkan kebersamaan dalam ilmu. Dalam sistem feodal, bawahan dilarang mengkritik atau menentang penguasa. Namun, dalam pesantren, santri dididik untuk beradab dalam bertanya, berdiskusi, dan berpendapat.

Kiai tidak dianggap maksum, melainkan dihormati karena ilmunya dan keteladanannya. Dalam proses belajar, santri diajarkan bahwa ilmu tidak akan masuk ke hati yang sombong dan tidak beradab terhadap guru. Hal ini sejalan dengan pepatah ulama terdahulu:


من لم يتأدب لم يتعلم

“Barang siapa tidak beradab, maka ia tidak akan mendapatkan ilmu.”

Ta’zim di pesantren juga memiliki dimensi spiritual yang dalam. Santri percaya bahwa berkah ilmu akan datang dari adab yang benar kepada guru. Mereka mencium tangan kiai bukan karena kiai dipandang sebagai penguasa, tetapi sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu yang dibawanya.

Tradisi mencium tangan ini juga dilakukan dengan kesadaran penuh, tanpa paksaan, dan bukan karena rasa takut. Dalam banyak penelitian, seperti yang dilakukan oleh Zamakhsyari Dhofier dalam karyanya “Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai”, dijelaskan bahwa hubungan kiai dan santri bersifat paternalistik yang positif—yakni seperti hubungan ayah dan anak, yang dilandasi cinta, kepercayaan, dan pengabdian spiritual, bukan kekuasaan yang menindas.

Dalam konteks pendidikan modern, ta’zim juga berfungsi sebagai kontrol moral. Santri yang terbiasa menghormati gurunya akan lebih mudah menumbuhkan sikap disiplin, empati, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai ini tidak dapat digantikan oleh sistem pendidikan yang semata-mata berbasis kognitif.

Adab menjadi ruh yang menjaga agar ilmu tidak melahirkan kesombongan intelektual. Dalam hal ini, pendidikan pesantren menunjukkan bahwa sikap hormat tidak berarti kehilangan kebebasan berpikir, melainkan cara menjaga keseimbangan antara akal dan hati.

Baca Juga: Karakter Pendidikan Profesi Guru yang Ada di Pesantren

Feodalisme, di sisi lain, membunuh kreativitas dan mengekang kebebasan berpikir. Dalam sistem itu, kepatuhan tidak berasal dari kesadaran, tetapi dari tekanan. Sedangkan di pesantren, ketaatan kepada kiai lahir dari cinta dan penghargaan terhadap ilmu.

Santri boleh berbeda pandangan, tetapi tetap menjaga adab dalam menyampaikan pendapat. Di sinilah letak perbedaan esensial antara ketaatan yang beradab dan ketaatan yang feodalistik.

Dalam sejarahnya, banyak kiai pesantren yang justru membebaskan umat dari belenggu feodalisme dan kolonialisme. Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Ahmad Dahlan, dan para ulama perintis kemerdekaan adalah contoh nyata guru bangsa yang menolak dominasi kekuasaan dan menegakkan martabat ilmu. Mereka tidak menciptakan sistem yang menindas murid, tetapi membangun kesadaran kolektif bahwa ilmu adalah jalan pembebasan.

Dengan demikian, ta’zim dalam pesantren adalah bentuk pendidikan karakter yang mendalam. Ia menanamkan nilai penghormatan, ketulusan, dan spiritualitas yang tinggi dalam hubungan guru dan murid.

Feodalisme bersandar pada ketimpangan sosial, sedangkan ta’zim berakar pada cinta dan penghormatan terhadap ilmu. Jika feodalisme menciptakan jarak vertikal yang mematikan, maka ta’zim justru menciptakan kedekatan emosional dan spiritual yang menghidupkan.

Maka, menghormati kiai bukanlah bentuk kepatuhan buta, melainkan wujud kesadaran bahwa ilmu suci tidak akan sampai tanpa adab. Pesantren, dengan tradisi ta’zim-nya, telah berhasil menjaga keseimbangan antara otoritas moral guru dan kebebasan intelektual murid.

Inilah yang menjadikan pesantren tetap relevan di tengah modernitas—sebagai ruang pembelajaran yang menggabungkan rasionalitas, spiritualitas, dan kemanusiaan dalam harmoni yang utuh.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.