Karakter Pendidikan Profesi Guru yang Ada di Pesantren

AKURAT.CO Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang telah terbukti melahirkan banyak ulama, pemimpin masyarakat, dan guru berjiwa pengabdian tinggi.
Tradisi pendidikan di pesantren bukan sekadar transmisi ilmu agama, melainkan juga proses pembentukan karakter dan kepribadian utuh seorang pendidik.
Di lingkungan pesantren, guru atau kiai tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan, pembimbing spiritual, dan panutan moral. Dari sinilah terbentuk karakter pendidikan profesi guru yang khas, yang berpadu antara nilai keilmuan, keikhlasan, dan keteladanan.
Pertama, karakter keikhlasan dalam mengajar. Di pesantren, guru mengajar bukan karena kontrak atau imbalan, tetapi karena panggilan hati dan rasa tanggung jawab terhadap ilmu. Santri belajar dan guru mengajar dengan orientasi ibadah, bukan ekonomi.
Suasana ini menanamkan makna mendalam bahwa mengajar adalah amal saleh yang mengalirkan pahala jariyah. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan:
وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ
“Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu akan mendapat balasannya di sisi Allah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 110)
Nilai keikhlasan ini menjadi pondasi moral yang membentuk karakter guru di pesantren—sederhana dalam hidup, tulus dalam mengajar, dan istiqamah dalam membimbing santri.
Kedua, karakter keteladanan atau uswah hasanah. Pendidikan di pesantren sangat menekankan aspek contoh nyata. Seorang guru tidak hanya berbicara tentang kebaikan, tetapi memperlihatkannya dalam perilaku sehari-hari.
Santri belajar bukan hanya dari pelajaran kitab, tetapi dari cara guru berbicara, berpakaian, berinteraksi, bahkan dari cara beliau bersikap terhadap kesulitan. Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Keteladanan inilah yang menjadikan pendidikan di pesantren begitu kuat dalam membentuk karakter murid. Guru tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga mentransfer nilai dan kepribadian.
Baca Juga: Begini Pendidikan Profesi Guru yang Sesuai dengan Nilai-Nilai Islam
Ketiga, karakter kesabaran dan ketawadhuan. Pesantren adalah ruang belajar yang mengajarkan bahwa ilmu tidak bisa diperoleh secara instan. Guru di pesantren sabar dalam mengajar, dan santri pun sabar dalam menuntut ilmu. Keduanya diikat oleh sikap tawadhu’, yaitu kerendahan hati di hadapan ilmu dan guru. Dalam Al-Qur’an, Allah memuji orang-orang yang sabar dengan janji kemuliaan:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 153)
Sikap sabar dan tawadhu’ ini melatih guru dan murid untuk menghargai proses, tidak tergesa-gesa, dan selalu menghormati otoritas keilmuan. Dari sinilah muncul kultur adab yang menjadi ciri khas pesantren.
Keempat, karakter kemandirian dan tanggung jawab sosial. Pesantren mendidik para santrinya untuk hidup mandiri—baik secara ekonomi, spiritual, maupun intelektual. Guru di pesantren tidak hanya mendidik dalam ruang kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari: mengajarkan kebersihan, kerja keras, gotong royong, dan tanggung jawab terhadap sesama. Prinsipnya adalah bahwa seorang guru sejati tidak boleh hidup terpisah dari masyarakat. Allah berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2)
Melalui kehidupan bersama di pesantren, guru dan santri belajar mengamalkan nilai sosial ini dalam bentuk nyata: saling membantu, bekerja sama, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
Kelima, karakter istiqamah dan tanggung jawab moral. Di pesantren, guru dikenal dengan keteguhannya dalam menjaga nilai-nilai agama. Mereka tetap konsisten dalam ajaran dan sikap, meskipun dihadapkan pada perubahan zaman. Istiqamah menjadi cerminan dari keimanan yang kuat dan komitmen moral terhadap ilmu yang diajarkan. Rasulullah SAW bersabda:
قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
"Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian beristiqamahlah.” (HR. Muslim)
Guru yang istiqamah menjadi teladan moral bagi murid-muridnya. Ia tidak mudah tergoda oleh arus dunia, tidak terombang-ambing oleh tren, dan selalu menjaga kemurnian niat serta integritas keilmuannya.
Karakter-karakter inilah yang menjadikan pendidikan profesi guru di pesantren berbeda dari lembaga lain. Di sana, guru tidak dibentuk hanya melalui teori dan metodologi pengajaran, tetapi melalui riyādhah an-nafs (latihan jiwa), mujāhadah (kesungguhan spiritual), dan kehidupan yang penuh disiplin. Guru di pesantren tumbuh dari proses panjang, dari santri menjadi ustaz, dari ustaz menjadi pendidik yang matang secara spiritual dan intelektual.
Baca Juga: 5 Nilai Pendidikan Profesi Guru yang Disebut dalam Al-Qur’an
Pendidikan profesi guru ala pesantren sejatinya adalah pendidikan jiwa—proses memanusiakan manusia melalui ilmu dan adab. Dari pesantren lahirlah sosok guru yang tidak hanya cerdas dan kompeten, tetapi juga sabar, rendah hati, dan ikhlas dalam pengabdian. Mereka menjadi cermin nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan nyata, sekaligus benteng moral bangsa di tengah perubahan zaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










