Akurat

Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda dalam Kacamata Pendidikan Islam

Lufaefi | 10 Oktober 2025, 05:58 WIB
Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda dalam Kacamata Pendidikan Islam

AKURAT.CO Pendidikan merupakan instrumen paling mendasar dalam membentuk peradaban manusia. Di Indonesia, gagasan pembaruan pendidikan selalu menjadi isu strategis yang melekat pada dinamika kebijakan pemerintah.

Setelah peluncuran Sekolah Rakyat yang menjadi program berasrama gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin, kini pemerintah memperkenalkan Sekolah Garuda sebagai lanjutan dari upaya memperluas akses sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

Kedua program ini bukan hanya proyek sosial, melainkan refleksi dari upaya negara mewujudkan cita-cita keadilan pendidikan. Jika dilihat dalam kacamata pendidikan Islam, gagasan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda mengandung nilai-nilai yang sangat dekat dengan prinsip tarbiyah (pendidikan) dalam Islam: pembebasan, penyempurnaan akhlak, dan pembangunan manusia seutuhnya.

Program Sekolah Rakyat yang telah berjalan lebih dahulu dirancang untuk memberi akses pendidikan formal bagi anak-anak dari keluarga miskin, mulai tingkat dasar hingga menengah.

Sekolah ini berasrama, disediakan oleh pemerintah dengan fasilitas lengkap, serta berfokus pada pembentukan karakter, keterampilan hidup, dan kemandirian. Dengan kata lain, Sekolah Rakyat tidak sekadar menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga wadah pembinaan moral dan sosial.

Adapun Sekolah Garuda, yang diperkenalkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Oktober 2025, hadir dengan dua skema utama: Sekolah Garuda Baru dan Sekolah Garuda Transformasi.

Kedua skema ini diarahkan untuk memperluas akses sekaligus meningkatkan mutu pendidikan, terutama melalui pembangunan sekolah-sekolah unggul yang terintegrasi di seluruh kabupaten.

Baca Juga: Kalender Libur Nasional dan Cuti Bersama Hari Besar Islam 2026

Jika ditilik dari perspektif pendidikan Islam, kedua program ini sejalan dengan konsep “ta’dib”, yaitu upaya menanamkan adab dan pengetahuan yang benar agar manusia mengenal posisinya di hadapan Allah dan sesama.

Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan (ta’lim), tetapi juga pembinaan kepribadian (tarbiyah) dan penanaman nilai-nilai moral (ta’dib). Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menegaskan bahwa pendidikan sejati dalam Islam bertujuan membentuk manusia yang berakhlak, bukan hanya berpengetahuan. Maka, ketika Sekolah Rakyat menekankan pembinaan karakter dan kemandirian, ia sejatinya menghidupkan kembali semangat pendidikan profetik yang telah menjadi fondasi peradaban Islam sejak masa Rasulullah.

Dalam Al-Qur’an, pendidikan yang membebaskan manusia dari kebodohan dan kemiskinan juga mendapat penegasan. Allah berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu menjadi sarana peninggian derajat manusia. Dengan demikian, setiap program pendidikan yang menjangkau kaum lemah, menghapus ketimpangan sosial, dan membuka jalan bagi kemajuan, sesungguhnya sedang melaksanakan perintah Allah untuk menegakkan keadilan ilmu.

Sekolah Garuda, dalam konteks ini, berfungsi sebagai kesinambungan dari Sekolah Rakyat. Ia bukan sekadar perluasan fisik lembaga, melainkan langkah strategis untuk memastikan kualitas pendidikan yang merata. Konsep “transformasi” yang diusung dalam Sekolah Garuda Transformasi merefleksikan nilai “islah” dalam Islam—yakni upaya perbaikan yang berkelanjutan. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ

“Aku tidak bermaksud kecuali untuk melakukan perbaikan sejauh yang aku mampu.” (QS. Hud: 88)

Ayat ini menggambarkan bahwa setiap ikhtiar manusia dalam bidang pendidikan, sosial, dan budaya adalah bagian dari tanggung jawab moral untuk melakukan perbaikan (islah). Dengan membangun sekolah unggul di setiap kabupaten, pemerintah tidak hanya sedang memperbaiki mutu pendidikan, tetapi juga menghidupkan semangat keadilan sosial sebagaimana diperintahkan dalam Islam.

Dalam literatur pendidikan Islam klasik, Al-Ghazali menekankan bahwa pendidikan bertujuan membentuk “al-insan al-kamil” — manusia sempurna yang seimbang antara akal, spiritualitas, dan tindakan sosialnya.

Ia menulis bahwa seorang pendidik sejati tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga memelihara jiwa murid agar dekat dengan kebaikan dan menjauh dari keserakahan dunia.

Konsep ini sangat paralel dengan semangat Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda yang tidak hanya fokus pada pengetahuan akademik, tetapi juga pembangunan karakter dan nilai hidup.

Lebih jauh lagi, gagasan Sekolah Garuda yang berorientasi pada pemerataan akses pendidikan juga selaras dengan prinsip “ta’awun” (tolong-menolong) dalam Islam. Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Ayat ini menegaskan pentingnya solidaritas sosial. Dalam konteks pendidikan, solidaritas tersebut diterjemahkan dalam bentuk kebijakan afirmatif yang membuka peluang belajar bagi kelompok lemah. Maka, Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda menjadi wujud konkret dari nilai ta’awun di bidang pendidikan.

Dari perspektif ekonomi Islam, program pendidikan berasrama gratis juga dapat dilihat sebagai bentuk “zakat sosial” negara. Artinya, pemerintah menyalurkan sebagian kekayaan publik untuk memberdayakan kelompok yang tidak mampu melalui jalur pendidikan.

Langkah ini bukan hanya bentuk kedermawanan, tetapi juga mekanisme redistribusi keadilan yang diakui dalam Islam. Dengan cara ini, pendidikan tidak lagi menjadi hak istimewa, tetapi amanah sosial yang harus dijaga bersama.

Baca Juga: Mensos Ajak Para Ulama Ikut Awasi Program Sekolah Rakyat di Bangkalan

Dalam kacamata filosofis, Sekolah Garuda dapat diibaratkan sebagai manifestasi modern dari “madrasah al-fadhilah” (sekolah kebajikan) yang diidealkan oleh para filsuf Muslim seperti Al-Farabi. Menurutnya, masyarakat yang ideal hanya dapat lahir dari sistem pendidikan yang menanamkan kebajikan dan pengetahuan secara seimbang. Ketika Sekolah Garuda menargetkan pembangunan sekolah unggul di setiap kabupaten hingga tahun 2029, ia sesungguhnya sedang berupaya mewujudkan masyarakat fadhilah—masyarakat berilmu yang berakhlak.

Dengan demikian, baik Sekolah Rakyat maupun Sekolah Garuda bukan sekadar proyek pendidikan, tetapi cerminan nilai-nilai Islam yang universal: pembebasan, keadilan, dan kemaslahatan. Pendidikan dalam Islam selalu berpijak pada keseimbangan antara kebutuhan dunia dan akhirat, antara kognitif dan moral, antara individu dan masyarakat.

Kesimpulannya, Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda dapat dipandang sebagai ikhtiar negara menuju tatanan pendidikan yang lebih adil dan berkarakter. Dalam perspektif Islam, kedua program ini selaras dengan prinsip tarbiyah yang mengembangkan potensi manusia secara menyeluruh—akal, hati, dan amal.

Selama pendidikan diarahkan untuk menumbuhkan akhlak, kemandirian, dan tanggung jawab sosial, maka ia telah menempuh jalan yang dikehendaki oleh Islam: jalan ilmu yang beradab. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Program pendidikan yang berpihak pada rakyat miskin dan menanamkan nilai-nilai moral adalah bagian dari jalan menuju surga itu—jalan ilmu yang mencerahkan, membebaskan, dan memanusiakan manusia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.