Skor Indonesia vs Arab Saudi, Bisakah Diprediksi dengan Perspektif Islam?

AKURAT.CO Menjelang pertandingan antara Timnas Indonesia dan Arab Saudi, antusiasme publik selalu memuncak. Para penggemar sepak bola berlomba-lomba membuat prediksi skor, menganalisis performa pemain, hingga menebak siapa yang akan mencetak gol pertama.
Di dunia digital, prediksi semacam ini menjadi hiburan tersendiri. Namun, jika dilihat dari sudut pandang Islam, muncul pertanyaan menarik: apakah memprediksi skor pertandingan bisa dibenarkan dalam ajaran agama?
Dalam Islam, prediksi atau ramalan memiliki batas yang sangat jelas. Islam membedakan antara takhmin (perkiraan rasional berdasarkan data dan pengalaman) dengan kahânah atau ‘irâfah (ramalan gaib tanpa dasar ilmiah).
Prediksi skor bola yang didasarkan pada analisis performa pemain, statistik pertandingan, strategi pelatih, atau kondisi lapangan masih tergolong takhmin, dan hal itu dibolehkan.
Sebaliknya, jika prediksi dilakukan dengan mengaitkannya pada hal-hal mistik, jimat, atau perhitungan supranatural, maka itu sudah termasuk dalam ranah yang dilarang.
Rasulullah SAW bersabda:
« مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ »
Artinya: “Barang siapa mendatangi tukang ramal lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad, Abu Dawud).
Baca Juga: Hukum Menunggak Pajak Kendaraan Bermotor dalam Islam
Hadis ini memberi batas tegas bahwa segala bentuk klaim mengetahui hal gaib—termasuk hasil pasti pertandingan—tidak dapat diterima secara syar’i. Hanya Allah yang mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Luqman ayat 34:
﴿ إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴾
Artinya: “Sesungguhnya hanya di sisi Allah sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; Dia-lah yang menurunkan hujan, mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan tiada seorang pun yang mengetahui apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34).
Ayat ini menjelaskan bahwa pengetahuan masa depan, termasuk hasil pertandingan yang belum terjadi, sepenuhnya berada di bawah kehendak Allah. Namun, Islam tidak menolak usaha analisis rasional yang berbasis data.
Dalam dunia olahraga modern, memprediksi hasil pertandingan berdasarkan performa dan statistik disebut forecasting, bukan fortune telling.
Maka, jika seseorang mengatakan “Indonesia punya peluang menang 2–1 karena performa lini depan sedang meningkat”, pernyataan itu bukan ramalan gaib, melainkan perkiraan logis yang sah-sah saja.
Masalah muncul ketika prediksi skor digunakan untuk taruhan (judi bola). Dalam Islam, segala bentuk taruhan yang mengandung unsur untung-untungan (maisir) hukumnya haram secara mutlak. Allah menegaskan dalam Surah Al-Maidah ayat 90:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamar, judi, berhala, dan undian panah adalah perbuatan keji dari perbuatan setan. Maka jauhilah agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 90).
Jadi, jika prediksi skor dilakukan dalam konteks hiburan, analisis, atau semangat kebersamaan tanpa taruhan, Islam tidak melarangnya. Namun, jika prediksi itu dijadikan alat berjudi, maka ia berubah menjadi perbuatan dosa yang mengikis keberkahan dan mencederai nilai sportifitas.
Menariknya, dalam perspektif akhlak Islam, olahraga seperti sepak bola bukan hanya ajang kompetisi fisik, tetapi juga wadah melatih nilai-nilai spiritual seperti kerja sama (ta’awun), kejujuran (sidq), dan tanggung jawab (amanah). Nabi Muhammad SAW sendiri menghargai kegiatan olahraga yang meningkatkan kekuatan fisik dan semangat ukhuwah. Beliau bersabda:
« الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ »
Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).
Spirit hadis ini dapat dimaknai bahwa mendukung tim nasional juga bisa menjadi bentuk ghirah kebangsaan dan solidaritas sosial, selama tidak berlebihan dan tetap menjaga adab. Islam menolak fanatisme buta yang memicu permusuhan, tetapi mendorong semangat sportif dan optimisme.
Baca Juga: Hari Ini Tanggal Berapa Hijriah? Cek Kalender Islam 7 Oktober 2025
Dari perspektif teologis, hasil pertandingan seperti antara Indonesia dan Arab Saudi adalah bagian dari takdir Allah yang disebut irâdah kauniyyah—kehendak Allah yang terjadi di alam semesta, baik disukai manusia atau tidak.
Namun, manusia tetap memiliki peran dalam ikhtiar, yaitu berusaha maksimal dengan strategi, latihan, dan disiplin. Dalam konteks ini, kemenangan bukan hanya soal takdir, tetapi juga buah dari usaha yang sungguh-sungguh.
Dengan demikian, skor pertandingan Indonesia vs Arab Saudi tidak bisa dipastikan secara gaib, tetapi bisa diprediksi secara rasional. Islam memberi ruang bagi analisis berbasis data, bukan ramalan. Kemenangan tetap bergantung pada izin Allah, tetapi upaya manusia tidak boleh diabaikan.
Kesimpulannya, prediksi skor pertandingan dalam perspektif Islam boleh dilakukan selama tidak dikaitkan dengan hal-hal mistik dan tidak disertai taruhan. Ia hanya sebatas analisis atau hiburan, bukan keyakinan tentang hal gaib.
Seorang Muslim dapat mendukung timnas dengan semangat dan doa, bukan dengan spekulasi berlebihan. Karena dalam Islam, kemenangan sejati bukan hanya tentang hasil di lapangan, tetapi juga tentang kejujuran, sportivitas, dan adab dalam berkompetisi.
Jadi, apakah skor Indonesia vs Arab Saudi bisa diprediksi? Secara ilmiah—ya, sejauh analisis rasional masih bisa dilakukan. Tetapi secara spiritual, hasil akhir tetap menjadi rahasia Allah. Yang pasti, setiap gol, kemenangan, dan perjuangan di lapangan hanyalah bagian kecil dari skenario besar yang telah Allah tulis dalam lauhul mahfuzh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









