Akurat

Meyakini Kalender Jawa Weton dalam Perspektif Hukum Islam

Fajar Rizky Ramadhan | 22 September 2025, 09:00 WIB
Meyakini Kalender Jawa Weton dalam Perspektif Hukum Islam

AKURAT.CO Kalender Jawa, khususnya tradisi weton, sampai hari ini masih punya tempat istimewa di hati sebagian masyarakat Indonesia. Weton bukan sekadar catatan hari lahir, tetapi dipercaya bisa memengaruhi watak, keberuntungan, bahkan keharmonisan rumah tangga.

Dalam budaya Jawa, menentukan tanggal pernikahan, pindahan rumah, atau memulai usaha, sering dikaitkan dengan “hari baik” menurut perhitungan weton. Pertanyaannya, bagaimana sebenarnya hukum Islam memandang keyakinan terhadap weton ini?

1. Kalender sebagai Produk Budaya

Kalender Jawa lahir dari proses akulturasi panjang antara budaya Hindu-Buddha, Islam, dan tradisi lokal Nusantara. Sultan Agung dari Mataram (abad ke-17) mengintegrasikan penanggalan Saka dan Hijriah untuk menciptakan sistem kalender Jawa.

Secara historis, kalender ini berfungsi sebagai sarana mengatur waktu, musim, dan kegiatan sosial-keagamaan.

Dari perspektif Islam, kalender sebagai alat administrasi waktu adalah hal yang mubah, selama tidak bertentangan dengan syariat. Namun, masalah muncul ketika kalender (terutama weton) diyakini sebagai penentu nasib, jodoh, atau rezeki.

2. Weton dan Keyakinan akan “Hari Baik”

Sebagian orang percaya bahwa kombinasi hari lahir (weton) membawa sifat tertentu. Misalnya, “Senin Pahing” dianggap pekerja keras, tapi introver. Keyakinan ini sering meluas ke penentuan hari baik atau hari buruk. Misalnya, menikah di hari tertentu dianggap membawa keberkahan, sementara hari lain bisa membawa celaka.

Baca Juga: 5 Hal yang Sebaiknya Dijauhi saat Terjadi Fenomena Gerhana Matahari Menurut Islam

Dalam hukum Islam, keyakinan seperti ini perlu ditimbang dengan hati-hati. Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Tidak ada thiyarah (takhayul tentang sialnya suatu hewan, bulan, atau hari). Yang terbaik adalah fa’l (optimisme/pertanda baik).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini jelas menolak anggapan adanya “hari sial” atau “weton tertentu” yang membawa celaka. Semua hari adalah baik, karena Allah-lah penentu takdir.

3. Batas Antara Tradisi dan Akidah

Dalam fiqh, keyakinan terhadap sesuatu bisa dikategorikan:

  • Mubah (boleh): Jika sekadar menjadikan kalender Jawa untuk penanda waktu atau simbol budaya, tanpa keyakinan gaib di baliknya.

  • Makruh bahkan Haram: Jika meyakini bahwa weton menentukan nasib, jodoh, atau rezeki secara absolut, karena ini masuk kategori tathayyur (menyakini kesialan) atau khurafat.

Ulama kontemporer seperti KH Ali Mustafa Yaqub pernah menegaskan bahwa adat boleh dijalankan selama tidak melanggar tauhid. Prinsipnya: al-‘adah muhakkamah (adat bisa dijadikan pertimbangan hukum) dengan syarat tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

4. Antara Psikologi dan Mistisisme

Kalau diteliti lebih jauh, kepercayaan terhadap weton sebenarnya punya unsur psikologis. Orang yang diberi label sifat tertentu sejak kecil bisa terdorong untuk menyesuaikan diri dengan label itu. Ini dikenal dalam psikologi sebagai self-fulfilling prophecy. Jadi, bukan weton yang menentukan watak, melainkan sugesti sosial-budaya yang membentuknya.

Islam bisa menerima aspek psikologis atau kultural selama tidak jatuh ke syirik. Misalnya, menjadikan weton sekadar sarana introspeksi diri, sama seperti membaca zodiak untuk hiburan. Tapi jika sampai menggantungkan takdir hidup pada hitungan weton, itu jelas bertentangan dengan tauhid.

Baca Juga: Doa Saat Melihat Fenomena Gerhana Matahari

5. Sikap Moderat dalam Menghadapi Tradisi

Islam tidak anti tradisi. Justru, tradisi bisa menjadi sarana dakwah jika disikapi dengan bijak. Dalam konteks weton, sikap moderat yang bisa diambil adalah:

  • Menghargai weton sebagai warisan budaya Jawa.

  • Menolak keyakinan bahwa weton menentukan nasib atau membawa sial.

  • Mengarahkan masyarakat untuk menjadikan doa, istikharah, dan ikhtiar sebagai jalan menentukan pilihan hidup.

Meyakini kalender Jawa weton sebagai penanda waktu dan bagian budaya masih bisa ditoleransi dalam Islam. Tetapi, jika diyakini sebagai penentu takdir, jodoh, atau rezeki, maka masuk kategori khurafat yang harus ditinggalkan. Islam mengajarkan bahwa nasib manusia tidak ditentukan oleh tanggal lahir, melainkan oleh usaha, doa, dan takdir Allah SWT.

Sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Dengan begitu, alih-alih mencari “hari baik” lewat hitungan weton, umat Islam seharusnya mencari keberkahan dengan memperbanyak amal baik, doa, dan tawakal kepada Allah. Karena sejatinya, semua hari adalah baik bila digunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.