5 Mitos Terkait dengan Fenomena Gerhana Matahari, Nomor 3 Banyak Orang Percaya!

AKURAT.CO Gerhana matahari selalu menjadi fenomena langit yang memikat perhatian manusia. Dalam catatan sejarah, banyak masyarakat di berbagai belahan dunia menafsirkan peristiwa ini dengan cara yang unik.
Ada yang mengaitkannya dengan kejadian gaib, ada pula yang menaruh ketakutan berlebihan karena dianggap pertanda buruk.
Padahal, ilmu astronomi menjelaskan secara sederhana: gerhana terjadi karena posisi bulan berada di antara bumi dan matahari, sehingga cahaya matahari terhalang.
Meski begitu, mitos-mitos tetap berkembang dan diwariskan lintas generasi. Berikut adalah lima mitos populer tentang gerhana matahari yang sering dipercaya masyarakat:
1. Gerhana Pertanda Akan Terjadi Bencana Besar
Di banyak budaya, gerhana dianggap sebagai isyarat musibah. Ada yang percaya akan datangnya gempa, banjir, bahkan perang. Narasi ini muncul karena gerhana dianggap “mengganggu keteraturan” alam semesta.
Dalam pandangan Islam, Nabi Muhammad SAW justru menegaskan bahwa gerhana bukan pertanda kematian atau kelahiran seseorang, melainkan tanda kebesaran Allah semata.
Baca Juga: Doa Saat Melihat Fenomena Gerhana Matahari
2. Hewan-Hewan Bisa Berubah Menjadi Ganas Saat Gerhana
Sebagian masyarakat pedesaan pernah meyakini bahwa hewan ternak akan bertingkah aneh, liar, bahkan berbahaya saat gerhana. Padahal, secara ilmiah, hewan memang bisa menunjukkan perubahan perilaku karena perubahan cahaya mendadak, misalnya ayam kembali ke kandang karena mengira hari sudah malam. Namun, itu murni respons biologis, bukan kesaktian.
3. Ibu Hamil Dilarang Keluar Rumah Saat Gerhana
Inilah mitos yang paling banyak dipercaya! Beberapa tradisi lokal di Asia, termasuk Indonesia, menyebutkan bahwa ibu hamil dilarang keluar rumah ketika terjadi gerhana karena khawatir bayinya lahir cacat atau “tergigit kala” (istilah Jawa: ketaman gerhana).
Ilmuwan menegaskan bahwa tidak ada hubungan medis antara gerhana dan kesehatan janin. Yang benar-benar harus diwaspadai adalah paparan langsung ke mata saat melihat gerhana tanpa alat pelindung, karena bisa merusak retina.
4. Gerhana Disebabkan oleh Hewan Raksasa yang Memakan Matahari
Di mitologi Tiongkok kuno, gerhana diyakini terjadi karena naga raksasa sedang melahap matahari. Masyarakat kala itu membunyikan genderang keras-keras untuk “mengusir” naga. Sementara di Skandinavia, gerhana dikaitkan dengan serigala langit bernama Sköll yang mengejar matahari. Kisah-kisah ini menarik dari sisi antropologi, tetapi jelas tidak ilmiah.
5. Melihat Gerhana Membawa Kesialan
Ada pula yang percaya bahwa menyaksikan gerhana akan mendatangkan nasib buruk, misalnya sakit atau kehilangan rezeki. Mitos ini lahir dari rasa takut terhadap kegelapan mendadak.
Faktanya, gerhana sama sekali tidak membawa sial. Justru, dengan kacamata khusus atau metode pantulan air, kita bisa mengamati gerhana dengan aman sekaligus memperkaya pengetahuan astronomi.
Baca Juga: Musim Hujan Datang Lebih Cepat, Ini Doa Menghadapi Musim Hujan
Fenomena gerhana matahari memperlihatkan bagaimana manusia merespons alam dengan imajinasi dan kepercayaan. Dari sisi budaya, mitos-mitos ini memperkaya sejarah pemikiran manusia.
Namun, dari sisi ilmiah, semua bisa dijelaskan dengan hukum gravitasi dan pergerakan benda langit. Islam mengajarkan agar umatnya menjadikan gerhana sebagai momen memperbanyak doa, zikir, dan salat gerhana—bukan terjebak dalam mitos.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










