Apa Makna Kalender Jawa Weton Hari ini Menurut Keyakinan Islam?

AKURAT.CO Kalender Jawa dengan hitungan weton hingga kini masih menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat. Setiap hari dianggap punya makna tertentu, bahkan dipercaya dapat memengaruhi watak seseorang dan menentukan jalan hidupnya.
Pada hari ini, Senin Pahing, masyarakat Jawa menggambarkan sifat-sifat khusus seperti introvert, tertutup, namun tekun dan penuh kreativitas. Pertanyaan yang sering muncul kemudian adalah bagaimana Islam memandang keyakinan semacam ini?
Dalam tradisi Islam, waktu memang punya posisi penting. Al-Qur’an banyak menyebut tentang pergantian siang dan malam sebagai tanda kebesaran Allah. Namun, Islam tidak pernah menetapkan bahwa hari tertentu membawa keberuntungan atau kesialan.
Justru Rasulullah pernah mengingatkan bahwa tidak ada hari sial, tidak ada bulan sial, dan tidak ada tanda buruk yang bisa memengaruhi nasib manusia.
Baca Juga: 5 Hal yang Sebaiknya Dijauhi saat Terjadi Fenomena Gerhana Matahari Menurut Islam
Yang ada hanyalah kebaikan jika manusia memilih berbuat baik. Hadis Nabi menyebutkan bahwa fa’l atau optimisme lebih utama daripada thiyarah atau keyakinan pada pertanda buruk.
Dengan perspektif ini, keyakinan terhadap weton tidak boleh sampai menyalahi akidah. Menjadikannya sebagai budaya atau sarana introspeksi boleh saja, sejauh tidak diyakini sebagai penentu takdir.
Masalah muncul bila seseorang menikah, memulai usaha, atau pindah rumah hanya berpatokan pada perhitungan weton.
Hal itu bisa menyeret pada keyakinan bahwa selain Allah ada kekuatan gaib yang mengatur nasib, padahal Islam menegaskan hanya Allah-lah penentu segala urusan.
Menariknya, fenomena weton juga bisa dipahami dari sudut pandang psikologi. Label yang diberikan sejak kecil, misalnya anak berweton Senin Pahing dianggap tekun atau cerdas, dapat memengaruhi cara ia memandang dirinya.
Lama-kelamaan sifat itu terbentuk bukan karena weton, melainkan karena sugesti dan pengaruh lingkungan. Dengan demikian, aspek budaya ini lebih tepat dilihat sebagai konstruksi sosial ketimbang sesuatu yang bersifat gaib.
Dalam Islam, semua hari hakikatnya baik jika diisi dengan amal baik. Jika seseorang memulai hari dengan doa, dzikir, dan niat yang lurus, maka hari itu akan membawa kebaikan baginya. Sebaliknya, jika hari digunakan untuk maksiat, maka hari itu akan menjadi buruk meskipun disebut hari baik menurut weton.
Allah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa nasib manusia bergantung pada ikhtiar dan perubahan diri mereka sendiri, bukan pada hitungan tanggal lahir.
Baca Juga: Doa Saat Melihat Fenomena Gerhana Matahari
Dengan demikian, makna kalender Jawa weton dalam perspektif Islam terletak pada sikap bijak kita menghadapinya. Ia bisa menjadi bagian dari identitas budaya yang patut dihargai, tetapi tidak boleh dipercaya sebagai penentu takdir.
Yang menentukan hanyalah Allah, sedangkan weton hanyalah catatan waktu yang lahir dari tradisi. Maka, yang seharusnya dijaga adalah doa, usaha, dan tawakal, karena hanya dengan itulah kehidupan memperoleh keberkahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








