Tuntunan Al-Qur’an saat Pejabat dan Wakil Rakyat Tidak Pro Kepada Rakyat

AKURAT.CO Kekecewaan masyarakat terhadap pejabat atau wakil rakyat yang tidak berpihak kepada kepentingan publik bukanlah fenomena baru.
Dalam banyak peristiwa, rakyat sering merasa ditinggalkan, sementara mereka yang dipilih justru sibuk dengan kepentingan pribadi, politik, dan kelompok.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: apa sikap yang seharusnya diambil umat Islam ketika menghadapi penguasa atau wakil rakyat yang tidak pro kepada rakyat?
Al-Qur’an memberikan sejumlah tuntunan moral yang jelas dalam menghadapi kondisi seperti ini. Pertama, Allah menekankan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58).
Baca Juga: Demonstrasi di Zaman Rasulullah SAW, Ini Etika dan Aturannya dalam Islam
Ayat ini menegaskan bahwa pejabat publik wajib bersikap adil. Bila mereka gagal, maka itu adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah. Namun Al-Qur’an juga mengajarkan bagaimana umat harus menyikapinya, bukan dengan keputusasaan, melainkan dengan tetap berpegang pada prinsip keadilan dan menegakkan amar ma‘ruf nahi munkar.
Kedua, umat Islam diperintahkan untuk tetap bersabar dan tidak terjerumus pada kekacauan sosial. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah, kuatkanlah kesabaran kalian, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (QS. Ali Imran: 200).
Ayat ini menjadi pengingat bahwa sekalipun pejabat bersikap zalim atau tidak berpihak, umat tidak boleh kehilangan kesabaran, melainkan memperkuat ikatan sosial, menjaga solidaritas, dan terus berjuang dengan jalan yang benar.
Ketiga, Al-Qur’an memberi bimbingan untuk tetap menyampaikan kebenaran kepada penguasa. Rasulullah SAW menegaskan dalam hadis:
أفضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kata-kata kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi).
Dengan demikian, kritik yang konstruktif, penyampaian aspirasi secara damai, dan sikap berani mengingatkan pejabat adalah bagian dari tuntunan Islam. Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan umatnya untuk diam terhadap kezaliman, melainkan tetap aktif menegakkan kebenaran dengan cara yang bijaksana.
Keempat, umat juga diingatkan untuk tidak meniru keburukan pejabat yang korup dan zalim. Allah memperingatkan dalam firman-Nya:
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tidak mempunyai penolong selain Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud: 113).
Ayat ini adalah peringatan keras agar rakyat tidak ikut terjerat dalam sistem zalim, misalnya dengan mendukung kebijakan yang jelas merugikan masyarakat, atau bersikap apatis terhadap praktik korupsi.
Baca Juga: Membaca Maulid Diba’i, Budaya Islam atau Syariat?
Dengan semua pedoman tersebut, jelas bahwa Al-Qur’an tidak membiarkan rakyat kehilangan arah saat pemimpin dan wakil rakyat gagal menjalankan amanahnya. Justru dalam kondisi seperti ini, umat dituntun untuk:
-
Tetap menjaga iman dan kesabaran.
-
Menyuarakan kebenaran secara etis.
-
Tidak ikut mendukung kezhaliman.
-
Menguatkan solidaritas sosial dan memperjuangkan keadilan.
Artinya, meskipun pejabat tidak pro kepada rakyat, umat tetap punya pegangan. Al-Qur’an mengarahkan agar umat tidak berhenti berjuang, tetapi melakukannya dengan cara yang bermartabat. Pada akhirnya, tanggung jawab moral kita bukan hanya kepada negara, tetapi terutama kepada Allah SWT, Sang Hakim yang Maha Adil.
Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









