Akurat

Tata Cara dan Urutan Pembacaan Diba’i dan Barzanji dalam Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw

Fajar Rizky Ramadhan | 25 Agustus 2025, 12:00 WIB
Tata Cara dan Urutan Pembacaan Diba’i dan Barzanji dalam Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw

AKURAT.CO Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw di berbagai daerah di Nusantara sering diwarnai dengan lantunan syair pujian kepada Nabi. Dua karya yang paling populer adalah Diba’i dan Barzanji.

Kedua kitab ini berisi riwayat hidup Nabi Muhammad Saw yang ditulis dengan indah dalam bentuk prosa dan syair, dilengkapi dengan doa serta shalawat.

Tradisi membacanya bukan hanya menjadi bentuk ekspresi cinta kepada Rasulullah, tetapi juga menjadi sarana pendidikan keagamaan dan perekat sosial masyarakat.

Asal-usul Kitab Diba’i dan Barzanji

Kitab Diba’i disusun oleh al-Imam Abdurrahman ad-Diba’i (w. 944 H/1537 M), seorang ulama besar asal Yaman. Sedangkan Barzanji ditulis oleh Sayyid Ja’far al-Barzanji (w. 1177 H/1764 M), seorang ulama keturunan Rasulullah Saw yang lahir di Madinah.

Keduanya sama-sama berisi riwayat kehidupan Nabi Muhammad Saw sejak sebelum kelahiran, masa kanak-kanak, diutus menjadi Rasul, hingga wafat.

Baca Juga: Akidah Islam: Hukum Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam Islam

Di Nusantara, karya-karya ini diperkenalkan oleh para ulama dan habaib dari Hadramaut yang berdakwah di pesisir Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Hingga kini, pembacaan Diba’i dan Barzanji menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Maulid Nabi.

Tata Cara dan Urutan Pembacaan

Pembacaan Diba’i dan Barzanji dalam perayaan Maulid biasanya mengikuti urutan tertentu, meski ada perbedaan kecil antar daerah. Secara umum, tata cara dan urutannya adalah sebagai berikut:

  1. Pembukaan Acara
    Acara biasanya dibuka dengan basmalah, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, atau dzikir bersama. Pemandu acara kemudian menjelaskan tujuan dan hikmah Maulid Nabi.

  2. Pembacaan Shalawat dan Doa
    Jamaah membaca shalawat secara bersama-sama, terkadang diiringi rebana atau hadrah. Suasana menjadi penuh semangat dan khidmat, menandakan awal acara inti.

  3. Pembacaan Syair Pujian
    Bagian awal kitab Barzanji atau Diba’i berisi doa dan pujian kepada Allah serta shalawat kepada Nabi. Dibacakan secara tartil dengan irama khas.

  4. Riwayat Hidup Nabi Muhammad Saw
    Dilanjutkan dengan kisah kelahiran Nabi, masa kecil, pengangkatan sebagai Rasul, perjuangan dakwah, hingga akhlak mulia beliau. Bagian ini sering diselingi dengan shalawat yang dinyanyikan bersama.

  5. Bagian Mahallul Qiyam
    Inilah momen paling khidmat. Jamaah berdiri (qiyam) sambil melantunkan shalawat sebagai simbol penghormatan kepada Nabi. Suasana penuh haru, bahkan ada yang meneteskan air mata sebagai tanda cinta.

  6. Penutup dengan Doa dan Tahlil
    Acara ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan umat, keberkahan hidup, serta syafaat Nabi Muhammad Saw. Tidak jarang ditambahkan tahlil atau doa khusus untuk para leluhur.

Baca Juga: Begini Tradisi Orang Arab Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW

Makna Spiritualitas dalam Tradisi Ini

Pembacaan Diba’i dan Barzanji bukan sekadar ritual. Ada pesan pendidikan yang mendalam di dalamnya. Jamaah diajak mengenal sejarah hidup Nabi, memahami perjuangannya, dan meneladani akhlak beliau.

Selain itu, tradisi ini juga berfungsi sebagai media perekat sosial: masyarakat berkumpul, bergotong royong, dan berbagi kebahagiaan.

Dengan demikian, tata cara dan urutan pembacaan Diba’i serta Barzanji dalam Maulid Nabi Muhammad Saw menjadi salah satu warisan budaya Islam Nusantara yang kaya makna.

Ia mempertemukan dimensi cinta kepada Nabi, pendidikan agama, dan persaudaraan sosial dalam satu rangkaian tradisi yang penuh berkah.

Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.