Akurat

Sejarah Awal Mula Adanya Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw

Fajar Rizky Ramadhan | 25 Agustus 2025, 10:00 WIB
Sejarah Awal Mula Adanya Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw

AKURAT.CO Bulan Rabiulawal memiliki tempat khusus dalam hati umat Islam, karena di bulan inilah Nabi Muhammad SAW dilahirkan.

Namun, tradisi memperingati kelahiran beliau—yang kita kenal sebagai Maulid Nabi—tidak serta-merta ada sejak zaman Rasulullah SAW masih hidup. Justru, perayaan ini muncul jauh setelah beliau wafat, melalui dinamika sejarah panjang umat Islam.

Menelusuri asal usul perayaan Maulid Nabi memberikan gambaran bagaimana umat Islam berusaha mengekspresikan cinta kepada Rasulullah SAW dalam bentuk ritual keagamaan maupun budaya.

Pada masa Rasulullah ﷺ dan para sahabat, tidak ada catatan yang menunjukkan adanya perayaan khusus untuk memperingati hari kelahiran beliau. Kehidupan beragama kala itu lebih terfokus pada ibadah yang telah ditetapkan, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.

Para sahabat mengekspresikan cinta kepada Nabi dengan mengikuti sunnah, berpegang pada Al-Qur’an, dan menjaga ajaran Islam yang murni. Dengan demikian, Maulid dalam bentuk seremonial belum dikenal pada generasi pertama Islam.

Seiring berjalannya waktu, umat Islam mengalami perkembangan politik, sosial, dan budaya. Sejarawan mencatat bahwa perayaan Maulid pertama kali populer pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir, sekitar abad ke-10 Masehi.

Dinasti yang berhaluan Syiah Ismailiyah ini menjadikan Maulid Nabi sebagai bagian dari tradisi istana sekaligus sarana politik untuk memperkuat legitimasi kekuasaan. Perayaan tersebut dikemas dalam bentuk jamuan besar, pembacaan doa, dan berbagai acara meriah yang melibatkan rakyat.

Baca Juga: Akidah Islam: Hukum Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam Islam

Kemudian, pada abad ke-12 Masehi, tradisi Maulid semakin meluas di dunia Islam. Salah satu tokoh yang terkenal memopulerkannya adalah Raja al-Muzhaffar Abu Sa‘id Kukburi, penguasa Irbil di Irak. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang saleh dan dermawan.

Perayaan Maulid di bawah kepemimpinannya digelar dengan sangat meriah: masyarakat berkumpul, mendengar kisah hidup Nabi, membaca shalawat, bersedekah, dan menghidangkan makanan.

Dari sinilah bentuk perayaan Maulid yang kita kenal sekarang mulai terbentuk, yakni kombinasi antara ibadah, doa, dan ekspresi budaya.

Seiring penyebaran Islam, tradisi Maulid pun berkembang ke berbagai belahan dunia dengan warna lokal masing-masing. Di Nusantara, misalnya, perayaan Maulid hadir dengan sebutan berbeda seperti "Sekaten" di Jawa atau "Maudu Lompoa" di Sulawesi.

Tradisi tersebut menggabungkan nilai keislaman dengan budaya masyarakat setempat, sehingga Maulid bukan hanya perayaan spiritual, tetapi juga menjadi perekat sosial.

Tentu saja, munculnya perayaan Maulid tidak lepas dari perdebatan di kalangan ulama. Sebagian menilai bahwa Maulid adalah bid‘ah karena tidak pernah dicontohkan Rasulullah SAW.

Namun, sebagian besar ulama menyatakan bahwa Maulid adalah bentuk bid‘ah hasanah—perkara baru yang baik—karena isinya penuh dengan kebaikan seperti shalawat, doa, dan sedekah.

Imam Jalaluddin al-Suyuthi, misalnya, menyebutkan bahwa Maulid adalah sarana untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad Saw. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 31, “Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku (Nabi Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”

Baca Juga: Kapan Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 2025? Ini Jadwal Resminya

Dengan demikian, sejarah awal mula adanya perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw menunjukkan bahwa perayaan ini lahir dari kerinduan umat untuk meneladani dan memuliakan Rasulullah.

Dari Mesir hingga Irak, dari Timur Tengah hingga Nusantara, Maulid menjadi medium spiritual sekaligus sosial untuk memperkuat cinta umat kepada Nabi.

Meskipun bentuk perayaannya berbeda-beda, esensinya tetap sama: meneguhkan kecintaan kepada sosok yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.