80 Tahun Merdeka, Ini Sejumlah Ulama yang Ikut Berperang Melawan Belanda

AKURAT.CO Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80 bukan hanya menjadi momen perayaan kebangsaan, tetapi juga ruang untuk kembali menengok sejarah panjang perjuangan bangsa.
Di balik kisah heroik para pejuang bersenjata, terdapat pula peran besar para ulama yang ikut mengangkat senjata, memimpin perlawanan, dan membakar semangat umat untuk melawan penjajahan Belanda.
Perjuangan mereka membuktikan bahwa ulama tidak hanya mengajar di pesantren, tetapi juga tampil sebagai garda terdepan dalam mempertahankan kehormatan tanah air.
Salah satu tokoh penting adalah Pangeran Diponegoro, seorang bangsawan sekaligus ulama yang memimpin Perang Jawa (1825–1830).
Perang ini menjadi salah satu perang terbesar melawan Belanda dengan basis spiritualitas Islam. Diponegoro melihat penjajahan bukan hanya penindasan politik, tetapi juga bentuk pelecehan terhadap agama dan budaya bangsa.
Baca Juga: Klik Langsung Pakai! Daftar Twibbon HUT RI ke-80 Gratis
Semangat jihad yang ia kobarkan berhasil menggerakkan rakyat dari berbagai lapisan untuk bertahan hampir lima tahun menghadapi kekuatan kolonial.
Tokoh lain yang tidak kalah berpengaruh adalah Tuanku Imam Bonjol, ulama sekaligus pemimpin Perang Padri di Sumatra Barat (1803–1837).
Dengan semangat pemurnian agama dan penegakan keadilan, Imam Bonjol menggerakkan pasukan rakyat melawan dominasi Belanda.
Walaupun pada akhirnya ditangkap dan dibuang ke Manado, namanya tetap harum sebagai pejuang yang gigih memperjuangkan kemerdekaan bangsanya.
Dari Jawa Barat, ada nama KH Zainal Musthafa, ulama Tasikmalaya yang memimpin perlawanan pada tahun 1940-an. Ia dengan tegas menolak kerja paksa dan berbagai kebijakan kolonial yang menindas rakyat.
Keberaniannya berujung pada penangkapan dan eksekusi oleh Belanda, tetapi perjuangan beliau menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya.
Selain itu, KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, juga memainkan peran penting dalam menanamkan semangat cinta tanah air.
Beliau mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang mendorong rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Belanda. Resolusi ini kemudian memicu pertempuran besar di Surabaya, yang dikenal sebagai Hari Pahlawan.
Tidak dapat dilupakan pula peran KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang meskipun lebih dikenal dengan gerakan pendidikan dan sosial, turut membangun kesadaran nasional di kalangan umat Islam. Pemikirannya mengenai pentingnya kebebasan dan kemajuan umat menjadi bagian dari pondasi perjuangan bangsa.
Baca Juga: Kalender Jawa Weton 17 Agustus 2025: Momentum Kemerdekaan dan Makna Spiritual
Keterlibatan ulama dalam perjuangan melawan penjajah menunjukkan bahwa agama dan nasionalisme bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan saling menguatkan.
Ulama hadir sebagai penggerak spiritual sekaligus pemimpin perlawanan yang mengorbankan jiwa dan raganya demi Indonesia merdeka.
Pada peringatan Hari Ulang Tahun RI ke-80 ini, mengenang jasa mereka menjadi bentuk penghormatan sekaligus pengingat agar semangat perjuangan itu tetap hidup di dalam diri setiap generasi penerus bangsa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










