Banyak Negara Islam Dukung Israel Daripada Gaza, Ini Alasan Mereka!

AKURAT.CO Dalam lanskap politik global yang semakin kompleks, fakta bahwa sejumlah negara Islam secara terbuka maupun diam-diam menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Israel telah menjadi ironi tersendiri bagi perjuangan Palestina, khususnya Gaza.
Dukungan yang dulunya bersifat ideologis atas dasar solidaritas keislaman kini tampak semakin ditinggalkan demi kepentingan nasional masing-masing.
Mengapa negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim—yang seharusnya terpanggil membela hak-hak rakyat Palestina—justru terlihat condong berpihak pada Israel, bahkan saat serangan brutal terjadi di Gaza?
Normalisasi yang Menggeser Arah
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari perjanjian Abraham Accords yang difasilitasi Amerika Serikat pada 2020. Negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko menandatangani kesepakatan untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.
Langkah ini menandai perubahan tajam dari posisi historis Liga Arab yang dulu berpegang pada prinsip "tidak ada perdamaian, tidak ada pengakuan, tidak ada negosiasi" dengan Israel sebelum Palestina merdeka.
Namun, kini prinsip tersebut nyaris kehilangan relevansinya. Negara-negara Islam yang dulu vokal membela Palestina tampaknya lebih sibuk mengejar kepentingan ekonomi, stabilitas keamanan, dan akses teknologi dari kerja sama dengan Israel.
Baca Juga: Berpeluang Gabung PSI, Budi Arie Lebih Pilih Ikut Prabowo
Iran sebagai Musuh Bersama
Salah satu pengikat paling kuat antara Israel dan sejumlah negara Arab adalah kekhawatiran terhadap Iran. Rezim Syiah di Teheran dianggap sebagai ancaman eksistensial oleh negara-negara Arab Teluk, terutama Arab Saudi dan UEA.
Dalam banyak hal, Israel dianggap sebagai sekutu strategis yang dapat membantu menahan pengaruh Iran dan proksinya di wilayah Timur Tengah, seperti Hizbullah di Lebanon dan milisi Houthi di Yaman.
Bagi mereka, konfrontasi dengan Iran lebih urgen daripada solidaritas simbolik dengan Gaza. Dalam kalkulasi geopolitik, Israel menjadi partner yang lebih menguntungkan secara militer dan intelijen, termasuk dalam bidang pertahanan siber, pengawasan, hingga peralatan militer.
Realitas Politik vs Romantisme Agama
Mesir dan Jordania adalah dua contoh paling awal dari negara-negara Islam yang menjalin perjanjian damai dengan Israel. Meski secara resmi menolak agresi Israel di Gaza, pada kenyataannya kedua negara tersebut tetap menjaga saluran kerja sama erat dengan Tel Aviv, termasuk koordinasi keamanan dan ekonomi.
Kritik terhadap normalisasi ini kerap dianggap sebagai bentuk idealisme kosong oleh para elit penguasa di dunia Arab. Dalam pandangan mereka, dukungan terhadap Gaza tidak membawa keuntungan strategis, sementara kedekatan dengan Israel menawarkan peluang pertumbuhan ekonomi dan pengaruh global.
Konsekuensi terhadap Palestina
Yang menjadi korban dari realitas ini adalah rakyat Palestina sendiri. Tanpa dukungan nyata dari sesama negara Muslim, mereka kian terisolasi secara diplomatik dan militer. Gaza, yang dikendalikan Hamas, dianggap oleh beberapa negara Arab sebagai aktor yang terlalu dekat dengan Iran dan tidak mewakili seluruh aspirasi bangsa Palestina.
Situasi ini memperlemah posisi tawar Palestina dalam forum internasional dan membiarkan Israel bergerak lebih leluasa tanpa tekanan serius dari dunia Islam. Bahkan, beberapa negara menutup mata terhadap blokade kemanusiaan, serangan udara, dan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Israel terhadap warga sipil di Gaza.
Apakah Ini Pengkhianatan?
Pertanyaan etis kemudian muncul: apakah ini bentuk pengkhianatan terhadap semangat ukhuwah Islamiyah? Ataukah ini sekadar realisme politik yang dingin dan logis?
Jawabannya tergantung pada perspektif. Dalam kerangka politik realis, negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional, bukan ideologi. Namun, dalam pandangan Islam yang memerintahkan solidaritas terhadap sesama Muslim yang tertindas, posisi negara-negara tersebut patut dipertanyakan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."
(Q.S. Al-Hujurat: 10)
Baca Juga: Genosida di Gaza Terus Berlanjut, Protes Global dan Bantuan Kemanusiaan dari Indonesia
Ketika solidaritas kepada saudara seiman dikorbankan demi pragmatisme politik, maka wajar jika umat Islam di akar rumput merasa dikhianati oleh para pemimpin mereka sendiri.
Dunia Islam saat ini sedang menghadapi ujian besar: apakah akan tetap berdiri sebagai satu umat yang bersatu membela yang tertindas, atau akan larut dalam kalkulasi geopolitik yang menafikan nilai-nilai dasar Islam. Dalam konflik Gaza-Israel, pilihan ini bukan hanya soal diplomasi, tetapi cerminan dari jati diri moral dan spiritual umat Muslim di era modern.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










