Situasi Palestina Jadi Fokus Utama pada Hari Kedua ZGTC Malang

AKURAT.CO Isu kemanusiaan di Palestina kembali mengemuka dalam rangkaian Zakat Goes to Campus (ZGTC) Chapter Malang hari kedua di Universitas Brawijaya, Selasa (25/11/2025).
Melalui diskusi bertema “Urun Rembuk: Bangun Kembali Gaza”, tiga narasumber — aktivis kemanusiaan Wanda Hamidah, Branch Manager Rumah Zakat Elwien Roosdhianna, serta akademisi FEB UB Aji Purba Trapsila,— mengajak ratusan mahasiswa memperluas kepedulian dari rasa simpati menjadi gerakan konkret untuk membantu warga Gaza.
Aji Purbra mengawali sesi dengan penjelasan mengenai konsekuensi ekonomi dari gerakan boikot terhadap produk yang dinilai berafiliasi dengan Israel. Ia menilai boikot sebagai ekspresi moral masyarakat, namun mengingatkan bahwa dampaknya perlu dipahami secara menyeluruh.
Penutupan gerai dan perusahaan turut mempengaruhi tenaga kerja lokal, sehingga menurutnya ZISWAF dapat menjadi penyangga ekonomi yang penting untuk menyerap tenaga kerja dan mendorong UMKM. Ia juga menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi melalui inovasi teknologi serta pengembangan wakaf produktif.
“Kita punya kekuatan ekonomi. Tapi solusi tidak bisa instan. Ini butuh perencanaan dan peran lembaga zakat untuk memberdayakan masyarakat,” ujarnya.
Elwien Roosdhianna dalam paparannya menjelaskan proses panjang dan penuh tantangan untuk menyalurkan bantuan ke Palestina. Ia menyebut bahwa jalur darat, udara, hingga rencana lewat laut semuanya menghadapi hambatan berupa izin, biaya, dan situasi keamanan yang tidak stabil. Lembaganya juga bekerja sama dengan FOZ, Baznas, hingga TNI dalam beberapa operasi airdrop.
“Kami tidak bisa memastikan semua bantuan tiba 100 persen, tetapi usaha untuk memastikan donasi masyarakat Indonesia sampai kepada saudara-saudara kita di Gaza tidak pernah berhenti,” kata Elwien.
Ia ikut menekankan perlunya dukungan jangka panjang untuk pendidikan darurat, penyediaan tenda belajar, air bersih, serta program pendampingan anak-anak yang sangat bergantung pada para donatur.
Wanda Hamidah kemudian menyampaikan penjelasan historis dan emosional mengenai panjangnya penderitaan rakyat Palestina. Ia menilai dunia internasional kerap melihat Palestina melalui kacamata narasi yang dibentuk kekuatan global.
“Kita terlalu lama termakan propaganda. Dunia melihat apa yang diizinkan untuk terlihat,” ujarnya.
Wanda mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami konflik dari sisi militernya, tetapi juga mengkritisi struktur ekonomi, perbankan, dan sistem global yang menurutnya mempertahankan ketidakadilan.
Dalam diskusi interaktif, sejumlah mahasiswa menanyakan cara berkontribusi selain memberikan donasi finansial. Elwien menjawab bahwa kontribusi bisa diwujudkan dalam bentuk ilmu, pendidikan, maupun penyebaran informasi yang akurat.
Wanda menambahkan bahwa keberanian intelektual dan advokasi publik adalah upaya awal yang dapat dilakukan siapa pun. “Kita bisa mulai dari petisi, aksi damai, dan kritik akademik. Bebaskan dulu pikiran kita dari sistem yang menjerat,” ujarnya.
Aji Purbra menambahkan bahwa gerakan solidaritas memerlukan dukungan data, penelitian, dan kebijakan yang menguatkan ekonomi nasional. Ia menilai bahwa UMKM perlu mendapatkan perhatian lebih dari lembaga zakat nasional, sementara mahasiswa harus dibekali literasi ekonomi agar aksi solidaritas tidak sekadar menjadi simbol.
Pada penutupan acara, ketiga narasumber menyerukan agar kepedulian terhadap Palestina terus dijaga. Aji Purbra menyuarakan “Free Palestine” yang langsung disambut gema serupa dari para peserta.
Baca Juga: Zakat Awards 2025 Hadirkan 85 Praktik Baik dalam Online Showcase Nasional
Elwien mengimbau mahasiswa untuk memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya di media sosial dan berdonasi melalui lembaga resmi walau dengan jumlah kecil.
Wanda menegaskan bahwa keberpihakan pada Palestina juga tercermin dari sikap membela masyarakat sekitar yang mengalami ketidakadilan. “Jika Palestina dibiarkan, ketidakadilan yang sama akan menyusul kita. Ini bukan isu jauh. Ini isu dunia yang saling terhubung,” tegasnya.
Rangkaian ZGTC hari kedua memperlihatkan bahwa mahasiswa memiliki peran besar dalam isu kemanusiaan global. FOZ berharap kegiatan tersebut dapat mendorong aksi nyata, memperkuat solidaritas sosial, serta meningkatkan peran zakat sebagai instrumen pemberdayaan dan kemandirian umat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










