Akurat

Benarkah Indonesia Akan Jadi Pusat Budaya Islam Dunia?

Fajar Rizky Ramadhan | 3 Agustus 2025, 08:10 WIB
Benarkah Indonesia Akan Jadi Pusat Budaya Islam Dunia?

AKURAT.CO Dalam sambutan pembukaan Kongres Diaspora Indonesia ke-8 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Wakil Menteri Luar Negeri Muhammad Anis Matta menyampaikan visi besar: menjadikan Indonesia sebagai pusat budaya Islam dunia.

Visi ini, yang dimaksudkan sebagai tonggak baru diplomasi budaya Indonesia, dihadirkan bersamaan dengan rencana penyelenggaraan festival film negara-negara Islam pada September mendatang.

Namun, sejauh mana visi tersebut realistis? Apakah masyarakat, institusi, dan ekosistem budaya Islam di Indonesia sudah siap menyongsong amanah sebesar itu?

Secara historis, Indonesia memiliki modal kuat. Ia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, kaya akan keragaman budaya Islam lokal yang tumbuh dari interaksi panjang antara dakwah, adat, dan modernitas.

Dari pesantren, batik, hingga seni kaligrafi dan musik religi—semuanya merupakan warisan budaya Islam Nusantara yang tidak bisa diabaikan.

Namun, menjadikan Indonesia sebagai pusat budaya Islam dunia tidak hanya soal warisan masa lalu atau jumlah pemeluk Islam, melainkan kesiapan struktural, institusional, dan ideologis untuk mengelola representasi Islam secara global.

Pertama, secara internal, kesadaran kolektif tentang identitas budaya Islam Indonesia sendiri belum kokoh. Istilah "budaya Islam" kerap mengalami reduksi: disamakan dengan budaya Arab, atau sebaliknya, ditolak mentah-mentah dengan alasan primordialisme lokal.

Dalam kurikulum pendidikan, porsi pembelajaran seni dan budaya Islam seringkali bersifat normatif, tidak mengakar pada sejarah lokal. Akibatnya, generasi muda Muslim di Indonesia tumbuh tanpa pemahaman mendalam tentang warisan budaya Islam dari tanah airnya sendiri.

Baca Juga: Arti Welas Asih dalam Perspektif Islam, Tidak Bertentangan dengan Nilai Agama

Kedua, praktik beragama di Indonesia belum sepenuhnya mencerminkan kebudayaan Islam yang inklusif dan kosmopolit.

Alih-alih memperkuat budaya Islam yang rahmatan lil ‘alamin, seringkali justru muncul praktik sektarianisme, eksklusivisme, bahkan kekerasan simbolik antar-umat Islam sendiri. Wacana moderasi beragama yang digaungkan negara belum sepenuhnya menembus ranah kebudayaan secara praktis.

Dalam kondisi ini, pertanyaan kritis muncul: bagaimana bisa Indonesia menjadi pusat budaya Islam dunia jika kehidupan budaya Islam dalam negeri masih diliputi konflik simbolik dan identitas yang terpecah?

Ketiga, secara institusional, posisi Indonesia dalam diplomasi kebudayaan Islam global masih belum menonjol. Negara-negara seperti Turki, Iran, dan Arab Saudi telah lama memainkan peran strategis sebagai representasi budaya Islam masing-masing versi.

Turki, misalnya, dengan agresif mempromosikan serial televisi dan arsitektur Ottoman sebagai soft power. Iran dengan pendekatan filsafat Islam dan sinema ideologisnya.

Arab Saudi dengan kendali atas situs-situs suci dan narasi keislaman klasik. Jika Indonesia ingin bersaing, maka perlu strategi yang tidak hanya simbolik, tetapi juga bersifat struktural dan berkelanjutan.

Sayangnya, hingga kini belum ada kerangka kebijakan nasional yang mengintegrasikan diplomasi budaya Islam dalam sebuah grand strategy jangka panjang. Festival film negara-negara Islam, meski merupakan inisiatif baik, tetap hanya berfungsi sebagai permulaan.

Tanpa kesinambungan dan visi kebudayaan yang kuat, festival itu bisa jadi hanya akan menjadi perayaan sesaat yang tidak menghasilkan daya tawar global.

Di sisi lain, peran diaspora yang disebutkan sebagai "agen pembangunan dan peradaban global" juga patut ditinjau ulang. Apakah diaspora Indonesia saat ini telah terfasilitasi untuk mengartikulasikan identitas budaya Islam Nusantara dengan baik di kancah internasional?

Banyak diaspora yang justru mengalami disorientasi identitas, terjebak antara kultur lokal negara setempat dan minimnya dukungan dari negara asal. Dalam kondisi seperti ini, ekspektasi bahwa mereka akan menjadi duta budaya Islam Indonesia terasa terlalu berat.

Realitas di akar rumput juga tidak kalah penting. Sebagian besar umat Islam di Indonesia lebih berkutat pada persoalan ekonomi, akses pendidikan, dan stabilitas sosial.

Kesenjangan sosial dan ketimpangan antarwilayah masih besar. Dalam situasi ini, wacana besar menjadikan Indonesia sebagai pusat budaya Islam dunia bisa terdengar elitis dan tidak membumi.

Siapa yang akan menikmati proyek besar ini? Apakah komunitas pesantren tradisional, seniman lokal, dan akademisi Islam di daerah juga akan dilibatkan dalam perumusan arah kebudayaan nasional?

Lebih jauh, tantangan globalisasi dan penetrasi budaya digital juga mengancam eksistensi budaya Islam lokal. Generasi muda lebih banyak mengonsumsi konten dari luar negeri, dari K-pop hingga serial Netflix, ketimbang memahami simbol-simbol kebudayaan Islam lokal.

Tanpa digitalisasi budaya yang masif dan kreatif, promosi budaya Islam Indonesia akan tenggelam dalam kompetisi konten global yang sangat ketat.

Dengan segala tantangan ini, pernyataan bahwa Indonesia akan menjadi pusat budaya Islam dunia mungkin masih terlalu prematur.

Visi besar perlu dibarengi kesiapan sistemik: mulai dari reformulasi pendidikan budaya Islam, pembentukan lembaga kebudayaan Islam nasional, revitalisasi seni tradisional, hingga kerja sama lintas negara yang strategis. Tidak cukup dengan semangat saja, tapi juga perlu roadmap yang konkret dan inklusif.

Baca Juga: Dedi Mulyadi: Pemimpin yang Anti-Islam adalah yang Tidak Berpihak pada Kepentingan Rakyat

Indonesia memang memiliki potensi besar. Tapi potensi bukan jaminan. Ia hanya akan bermakna bila dikelola dengan perencanaan matang, kepemimpinan visioner, dan partisipasi masyarakat luas. Tanpa itu semua, ambisi menjadi pusat budaya Islam dunia bisa jadi hanya akan menjadi jargon diplomatik yang kehilangan substansi.

Indonesia tidak boleh terjebak dalam retorika. Dunia sedang menanti representasi Islam yang progresif, kreatif, dan damai. Jika Indonesia ingin menjadi pusatnya, maka ia harus mulai dari dalam: membangun kebudayaan Islam yang hidup, toleran, dan berpihak pada kemanusiaan. Bukan sekadar simbolik, tetapi transformatif.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.