Dedi Mulyadi: Pemimpin yang Anti-Islam adalah yang Tidak Berpihak pada Kepentingan Rakyat

AKURAT.CO Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membantah tudingan yang menyebut dirinya anti-Islam. Isu ini mencuat setelah perubahan nama RSUD Al-Ihsan menjadi RSUD Welas Asih, yang dianggap sebagian kalangan sebagai bentuk penghilangan identitas keislaman.
Menanggapi hal tersebut, Dedi menjelaskan bahwa penilaian terhadap seseorang sebagai anti-Islam seharusnya dilihat dari sikap dan kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat, bukan dari simbol atau nama lembaga.
“Pemimpin yang anti Islam adalah pemimpin yang tidak berpihak pada kepentingan publik,” ujar Dedi dalam keterangan kepada wartawan, Kamis (31/7/2025).
Ia juga menyebutkan bahwa tindakan seperti membiarkan fakir miskin kelaparan, menyakiti anak yatim, hingga melakukan korupsi, jauh lebih mencerminkan sikap anti-Islam daripada sekadar pergantian nama.
Baca Juga: Hukum Memasang Bendera Merah Putih dengan Bendera One Piece menurut Islam
Terkait perubahan nama RSUD, Dedi menjelaskan bahwa langkah itu dilakukan untuk memperjelas status rumah sakit tersebut sebagai milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Al-Ihsan itu ada pejabat zaman itu, membuat yayasan namanya Yayasan Al-Ihsan, di mana uang untuk buat yayasannya pun pakai uang dana pemerintah, padahal yayasan. Nah, itu kan ada di putusan pengadilannya,” ungkap Dedi.
Menurutnya, penggantian nama menjadi Welas Asih tidak bermotif keagamaan, melainkan administratif dan legal. Nama baru itu dipilih sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah terhadap pengelolaan fasilitas publik, sekaligus menghindari ambiguitas terkait kepemilikan.
Dedi menegaskan bahwa kepemimpinannya berpihak pada nilai-nilai publik dan sosial, terlepas dari simbol-simbol keagamaan yang kerap dipolitisasi.
Baca Juga: Profesor Prancis Sebut Islam Dianggap Musuh Nyata oleh Barat
Artikel ini menjadi bagian dari respons terhadap narasi yang berkembang di media sosial dan sejumlah kelompok yang mengaitkan kebijakan pemerintahan daerah dengan isu agama.
Dedi Mulyadi, yang selama ini dikenal dengan pendekatan populis dan dekat dengan masyarakat, menegaskan bahwa pelayanan publik harus menjadi prioritas utama pemimpin yang menjunjung nilai-nilai keadilan sosial.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 4Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 7Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 8Kalender Jawa 23 September 2026: Watak Weton Rabu Pon Dikenal Cerdas dan Mudah Bergaul
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK







