Ramai Kasus Selingkuh dengan Teman Sekantor, Hati-Hati Dosa Besar!

AKURAT.CO Beberapa bulan terakhir, publik dikejutkan dengan banyaknya kasus perselingkuhan di lingkungan kerja yang terungkap melalui media sosial.
Mulai dari pengakuan istri yang diselingkuhi, hingga viralnya foto-foto tak pantas antara rekan kerja yang seharusnya menjaga profesionalisme.
Fenomena ini menyentil nurani masyarakat, terutama kaum Muslim, untuk kembali merenungi batas-batas etika dalam pergaulan serta kehormatan institusi pernikahan dalam Islam.
Perselingkuhan, apalagi dengan teman sekantor, adalah bentuk pengkhianatan yang sangat serius. Bukan hanya melanggar etika kerja dan kepercayaan keluarga, tetapi juga merupakan perbuatan dosa besar dalam pandangan syariat.
Banyak yang berdalih bahwa kedekatan muncul karena “nyaman” atau “sering bertemu”, tapi justru di situlah ujian keimanan bermula.
Nabi Muhammad ﷺ telah mengingatkan agar kita tidak meremehkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, karena bisa membuka pintu zina.
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra’: 32).
Baca Juga: Isu Jurusan Filsafat Akan Dihapus, Tahukah Ada Filsafat Islam?
Ayat ini tidak hanya melarang zina, tetapi bahkan melarang mendekati zina, yaitu semua bentuk aktivitas yang dapat menggiring seseorang menuju perzinaan.
Dalam konteks kantor, bentuk "pendekatan zina" bisa berupa chating pribadi yang terlalu intens, curhat berdua, duduk berdekatan tanpa keperluan, atau pergi berdua di luar jam kerja.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
ما خلا رجل بامرأة إلا كان الشيطان ثالثهما
"Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat (berduaan) dengan seorang wanita, melainkan yang ketiganya adalah setan." (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahaya khalwat, bahkan dalam ruang yang dianggap publik seperti kantor. Setan tidak pernah libur menggoda manusia, apalagi ketika ada kesempatan dan kelengahan iman.
Sebagian besar kasus perselingkuhan bermula dari hal-hal kecil: candaan berlebihan, perhatian yang tidak sepantasnya, hingga terbukanya ruang untuk saling mengeluh tentang masalah rumah tangga.
Dari situ, rasa simpati berubah menjadi empati yang salah arah, lalu menjadi ikatan emosional yang akhirnya menjurus pada hubungan terlarang.
Padahal, Allah telah menekankan pentingnya menjaga pandangan dan kesucian diri:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya'; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. An-Nur: 30)
Begitu pula kepada para perempuan, Allah memerintahkan hal serupa agar tidak menjadi pemicu fitnah di tempat kerja.
Di era modern ini, di mana tempat kerja menjadi ruang interaksi harian yang padat dan intens, umat Islam dituntut untuk lebih waspada menjaga batasan.
Baca Juga: Cara Mengendalikan Hawa Nafsu di Era Digital menurut Islam
Jangan sampai profesionalisme dicampur dengan rasa suka yang tidak seharusnya, hingga berujung pada keretakan rumah tangga dan dosa besar di hadapan Allah. Selingkuh itu bukan "takdir cinta", tapi pilihan yang bisa dicegah — dengan iman, adab, dan kontrol diri.
Karena itu, setiap Muslim harus punya komitmen bukan hanya untuk setia pada pasangan, tetapi juga setia pada Allah yang Maha Melihat. Jika kita takut ketahuan atasan, mestinya lebih takut lagi karena Allah selalu tahu — bahkan saat kita hanya “berniat”.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









