7 Hal Orang Tua Bisa Dinilai Durhaka pada Anak, Nomor 3 Sering Dilakukan!
AKURAT.CO Selama ini, konsep durhaka lebih sering ditujukan kepada anak yang tidak berbakti kepada orang tua. Padahal, relasi antara orang tua dan anak dalam Islam bersifat timbal balik. Ada hak dan ada kewajiban.
Dalam konteks ini, tidak sedikit orang tua yang secara tidak sadar telah melakukan tindakan yang bisa dikategorikan sebagai bentuk kedurhakaan kepada anak—baik secara psikologis, spiritual, maupun sosial.
Era digital memperjelas ketimpangan relasi ini. Banyak anak mengalami tekanan mental, kehilangan arah, hingga krisis harga diri akibat perilaku orang tua yang seharusnya menjadi pelindung utama mereka.
Artikel ini akan mengurai tujuh bentuk “kedurhakaan” orang tua kepada anak, berdasarkan prinsip-prinsip Islam dan pendekatan ilmu psikologi perkembangan.
1. Mengabaikan Hak Anak atas Pendidikan dan Pengasuhan yang Baik
Islam menekankan bahwa anak adalah amanah, bukan sekadar titipan tanpa tanggung jawab. Orang tua yang lalai mendidik anak, membiarkannya tumbuh tanpa panduan, bahkan menyerahkan total pendidikan kepada sekolah atau gawai, sejatinya telah melakukan pengabaian serius.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pengasuhan yang abai—baik dalam aspek keimanan, moral, atau literasi digital—merupakan bentuk kedurhakaan terselubung.
Baca Juga: Fenomena Tren S Line 'Pamer Aib Sendiri' dalam Perspektif Al-Qur'an
2. Berlaku Kasar, Merendahkan, atau Menghina Anak
Kekerasan verbal dan emosional adalah bentuk kekerasan yang paling sering terjadi dalam relasi orang tua dan anak. Kalimat seperti “kamu bodoh,” “malu punya anak kayak kamu,” atau “cuma jadi beban” bisa meninggalkan luka batin jangka panjang.
Dalam QS. An-Nahl: 125, Allah memerintahkan:
ادْعُ إِلِىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik…”
Jika dakwah saja disuruh dengan kelembutan, bagaimana mungkin mendidik anak dilakukan dengan hinaan?
3. Membanding-bandingkan Anak dengan Orang Lain
Inilah bentuk kedurhakaan yang paling sering dilakukan dan sering dianggap remeh. Orang tua membandingkan anak dengan saudara kandungnya, anak tetangga, atau bahkan idola di media sosial. Ini adalah racun psikologis yang dapat menghancurkan rasa percaya diri dan memicu kecemasan atau iri hati dalam diri anak.
Psikologi perkembangan menyatakan bahwa anak membutuhkan validation dari figur otoritatif (Bandura, 1986). Membandingkan anak bukan hanya tidak mendidik, tapi juga menggerus harga diri anak secara perlahan.
4. Tidak Menjadi Teladan dalam Perilaku dan Akhlak
Kehidupan digital memperbesar inkonsistensi orang tua. Orang tua yang melarang anak bermain HP berjam-jam tapi dirinya sendiri larut dalam gawai, atau mengajarkan kejujuran tapi justru sering berdusta, menjadi ironi besar dalam pendidikan.
Al-Qur’an mengecam keras perilaku tidak konsisten:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ، كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
(QS. Ash-Shaff: 2-3)
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
5. Memaksakan Pilihan Hidup tanpa Ruang Diskusi
Banyak orang tua menekan anak untuk mengikuti keinginan pribadi mereka: memilih jurusan, pekerjaan, pasangan, bahkan cara berpakaian, tanpa memberi ruang dialog. Ini menegasikan kebebasan anak sebagai individu yang merdeka.
Padahal, Islam memuliakan musyawarah dan kesepakatan dalam pengambilan keputusan. Dalam QS. Asy-Syura: 38 disebutkan bahwa orang beriman adalah “wa amruhum syuraa bainahum”—urusan mereka diputuskan lewat musyawarah.
Baca Juga: Viral Tren S Line dengan Pamer Aib Sendiri, Begini Hukumnya dalam Islam
6. Tidak Memenuhi Hak Emosional Anak
Anak tidak hanya butuh makan dan sekolah. Mereka juga butuh kasih sayang, pelukan, pengakuan, dan perhatian. Banyak orang tua merasa cukup dengan memberi fasilitas, padahal hati anak kosong dari kehangatan rumah.
Nabi Muhammad ﷺ dikenal sangat lembut pada anak. Bahkan beliau mencium cucunya di depan para sahabat. Ketika ada sahabat merasa aneh, beliau bersabda:
مَنْ لا يَرْحَمْ لا يُرْحَمْ
“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari)
Ketidakpekaan terhadap kebutuhan emosional anak bisa menjadi bentuk kekerasan yang tak kasat mata.
7. Mendoakan Keburukan atau Melaknat Anak
Kadang dalam kondisi marah, orang tua bisa tergelincir mendoakan keburukan atau melaknat anaknya, seperti “semoga kamu susah hidupnya!” atau “jangan harap sukses!” Ini sangat berbahaya dalam Islam.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ… لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ
“Janganlah kalian mendoakan keburukan terhadap diri kalian, terhadap anak-anak kalian... karena bisa jadi bertepatan dengan waktu mustajab doa, lalu dikabulkan oleh Allah.” (HR. Muslim)
Ucapan orang tua adalah doa. Maka, orang tua harus menjaga lisan meski dalam kondisi emosi.
Durhaka tidak hanya bisa dilakukan anak kepada orang tua, tetapi juga sebaliknya. Ketujuh poin di atas bukan untuk menyalahkan, tapi sebagai cermin evaluatif agar relasi antara orang tua dan anak tetap sehat, adil, dan Islami. Jika anak wajib berbakti, maka orang tua juga wajib bersikap amanah dan bijaksana.
Dunia modern membutuhkan generasi yang kuat jiwa dan akalnya. Dan itu hanya akan terwujud jika orang tua sadar bahwa tanggung jawab mereka tak berhenti di lahirnya anak, tetapi terus berlangsung sampai anak tumbuh menjadi manusia yang merdeka dan bertakwa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









