Fenomena Tren S Line 'Pamer Aib Sendiri' dalam Perspektif Al-Qur'an

AKURAT.CO Fenomena sosial yang sedang viral di TikTok bernama Tren S Line kembali menyadarkan kita bahwa batas antara hiburan dan dekadensi moral semakin kabur.
Tren ini memperlihatkan pengguna media sosial menambahkan garis merah di atas kepala mereka, yang diklaim mewakili jumlah hubungan seksual yang telah mereka lakukan.
Terinspirasi dari sebuah drama Korea, simbol ini menjadi semacam “status sosial seksual” yang justru dipertontonkan dengan bangga.
Bukan hanya terjadi di negara asal tren tersebut, di Indonesia—negara dengan mayoritas penduduk Muslim—fenomena ini juga banyak diikuti oleh anak-anak muda, bahkan oleh mereka yang memiliki latar belakang religius.
Lantas, bagaimana sebenarnya pandangan Al-Qur'an terhadap perilaku semacam ini, yang secara sadar memamerkan aib diri sendiri?
Al-Qur’an Menyeru untuk Menutup Aib
Salah satu prinsip dasar dalam ajaran Al-Qur’an adalah menjaga kehormatan dan menutup aib, bukan mempublikasikannya. Aib dalam Islam bukan hanya sesuatu yang memalukan secara sosial, tetapi juga pelanggaran terhadap kesucian diri sebagai makhluk yang dimuliakan oleh Allah. Dalam Surah An-Nur ayat 19, Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang suka tersebarnya perbuatan keji di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Ayat ini secara tegas mengutuk siapa pun yang berusaha menyebarkan atau mempopulerkan perbuatan keji (fāḥisyah) di tengah masyarakat beriman. Maka, bukan hanya pelaku maksiat, tetapi juga mereka yang menyebarkan, membuatnya tren, bahkan menormalisasikan perilaku tersebut, juga terancam oleh peringatan ini.
Baca Juga: Viral Tren S Line dengan Pamer Aib Sendiri, Begini Hukumnya dalam Islam
Identitas Seksual sebagai Aib yang Harus Dijaga
Al-Qur’an juga memberikan perhatian besar terhadap kehormatan diri dalam aspek seksual. Dalam Surah Al-Mu’minun ayat 5–7, Allah menyebutkan salah satu ciri orang beriman:
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ • إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ • فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ
Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Siapa pun yang mencari di balik itu, maka mereka adalah orang-orang yang melampaui batas.
Teks Al-Qur’an secara eksplisit menggunakan kata حَافِظُونَ (menjaga), yang menunjukkan bahwa orientasi seksual bukanlah sesuatu yang dipamerkan, tetapi dijaga dengan penuh kehormatan dan hanya ditampakkan dalam ikatan yang sah secara syariat.
Maka pamer pengalaman seksual di ruang publik—apalagi dalam bentuk candaan—jelas bertentangan dengan prinsip menjaga kemaluan yang merupakan bagian dari iman.
Jangan Banggakan Dosa Masa Lalu
Al-Qur’an juga memberikan petunjuk bahwa ketika seseorang pernah melakukan dosa, maka jalan yang benar adalah bertobat dan menyembunyikan aib tersebut. Dalam Surah Al-Furqan ayat 70:
إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka akan diganti Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat ini menegaskan bahwa masa lalu bisa dimaafkan dan bahkan diubah menjadi kebaikan oleh Allah, jika seseorang bertaubat dan berhenti dari perbuatan buruknya. Namun sebaliknya, jika masa lalu itu justru dijadikan bahan kebanggaan, apalagi konten publik, maka ini bukanlah tobat, melainkan pengulangan dosa dengan cara yang lebih vulgar dan berbahaya.
Kebebasan Ekspresi dalam Batas Moral
Sebagian pihak mungkin berargumen bahwa tren seperti ini adalah bentuk dari kebebasan berekspresi. Namun dalam pandangan Al-Qur’an, kebebasan bukan berarti bebas dari nilai. Al-Qur’an memandu manusia untuk menggunakan akalnya, tapi juga hatinya, agar tetap berada di jalan yang lurus.
Allah berfirman dalam Surah Al-Isra’ ayat 36:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.
Tren S Line jelas tidak lahir dari pengetahuan yang mendidik, tapi dari dorongan sosial untuk tampil, dilihat, dan diterima oleh publik tanpa pertimbangan nilai dan akibat. Dalam perspektif Qur’ani, setiap tindakan yang menyangkut kehormatan pribadi harus melewati penyaringan moral, bukan sekadar dorongan algoritma dan kebutuhan eksistensi semu.
Baca Juga: 5 Fakta Menarik Drakor S Line, Tayang di Wavve dan Diangkat dari Webtoon Populer
Fenomena S Line adalah cermin krisis identitas dan hilangnya rasa malu dalam masyarakat modern, termasuk di kalangan Muslim. Al-Qur’an secara eksplisit menuntun umatnya untuk menjaga kehormatan, menutup aib, serta menjauh dari segala bentuk promosi maksiat, baik secara langsung maupun simbolik.
Kontenmu adalah cerminan siapa dirimu. Maka berhati-hatilah dalam mengikuti tren. Jangan sampai demi eksistensi sesaat, kita justru kehilangan nilai paling mendasar yang membuat kita manusia: rasa malu, rasa takut kepada Tuhan, dan rasa hormat pada diri sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










