5 Nilai Pendidikan Profesi Guru yang Disebut dalam Al-Qur’an

AKURAT.CO Guru dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat tinggi, bukan hanya karena ia menyebarkan ilmu, tetapi karena ia turut membentuk karakter dan peradaban manusia. Al-Qur’an memberi fondasi yang jelas tentang nilai-nilai yang seharusnya menjadi ruh dalam profesi guru.
Nilai-nilai ini bukan sekadar etika profesional, tetapi juga pedoman spiritual yang menjadikan proses pendidikan sebagai ibadah. Berikut lima nilai utama pendidikan profesi guru yang disebut dan diilhami dari Al-Qur’an.
Pertama, nilai keikhlasan. Dalam pandangan Islam, keikhlasan adalah inti dari setiap amal, termasuk dalam mendidik. Guru yang ikhlas tidak mengajar demi pengakuan atau keuntungan pribadi, melainkan karena Allah semata. Ia memahami bahwa mengajarkan ilmu adalah bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)
Guru yang mengajarkan ilmu dengan hati yang ikhlas akan merasakan ketenangan batin, dan ilmu yang diajarkan pun akan menjadi berkah bagi murid-muridnya. Keikhlasan membuat guru tetap semangat meski menghadapi kesulitan, dan tidak mudah kecewa ketika hasilnya tidak segera tampak.
Baca Juga: Begini Pendidikan Profesi Guru yang Sesuai dengan Nilai-Nilai Islam
Kedua, nilai ilmu sebagai cahaya dan amanah. Dalam Al-Qur’an, ilmu digambarkan sebagai cahaya yang menyingkirkan kegelapan. Guru, dengan demikian, adalah pembawa cahaya bagi umat. Allah berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar [39]: 9)
Ayat ini menegaskan bahwa ilmu mengangkat derajat manusia. Namun, bagi guru, ilmu bukan hanya kehormatan, melainkan amanah besar yang menuntut tanggung jawab moral.
Guru yang sejati tidak akan menyalahgunakan ilmunya untuk kepentingan duniawi, dan tidak akan menyembunyikan kebenaran dari murid-muridnya. Ia sadar bahwa setiap kata yang disampaikan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Ketiga, nilai keadilan dalam membimbing dan menilai. Guru harus adil terhadap semua muridnya, tanpa membeda-bedakan latar belakang sosial, ekonomi, atau tingkat kecerdasan. Keadilan adalah salah satu nilai tertinggi dalam Islam, sebagaimana firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl [16]: 90)
Guru yang adil akan menumbuhkan rasa percaya dan penghargaan di hati murid-muridnya. Ia tidak sekadar menilai dengan angka, tetapi memahami proses dan usaha setiap anak. Dalam pendidikan profesi, keadilan inilah yang menjaga marwah guru dan membuat hubungan antara pendidik dan peserta didik berjalan dengan sehat dan penuh kepercayaan.
Keempat, nilai kasih sayang dan kelembutan. Dalam Islam, guru adalah pewaris sifat kasih sayang Rasulullah SAW terhadap umatnya. Metode Nabi dalam mendidik tidak pernah keras, tidak menghina, dan tidak mempermalukan. Allah menegaskan tentang sifat Rasulullah:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)
Guru yang meneladani sifat lembut ini akan lebih mudah menyentuh hati murid-muridnya. Ia tidak mendidik dengan ketakutan, melainkan dengan cinta dan keteladanan. Pendidikan yang berlandaskan kasih sayang akan melahirkan generasi yang percaya diri, sopan, dan berakhlak mulia.
Kelima, nilai tanggung jawab moral dan sosial. Mengajar bukan hanya soal menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk manusia yang bertanggung jawab terhadap diri dan lingkungannya. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌۭ
“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al-Muddatsir [74]: 38)
Guru memiliki tanggung jawab ganda: terhadap dirinya, terhadap murid-muridnya, dan terhadap masyarakat. Ia dituntut untuk menjaga integritas, menjadi teladan, serta memastikan bahwa ilmu yang diajarkannya membawa kemaslahatan bagi umat. Guru yang sadar akan tanggung jawab moralnya tidak akan berhenti belajar, karena ia tahu bahwa kejahilan seorang pendidik dapat menyesatkan generasi.
Baca Juga: 5 Tips Bijak Memanfaatkan Momen Harga Emas Antam Logam Mulia dalam Islam
Dari kelima nilai tersebut — keikhlasan, ilmu sebagai amanah, keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab — kita memahami bahwa pendidikan profesi guru dalam Islam bukan sekadar pelatihan keterampilan mengajar. Ia adalah proses pembentukan kepribadian yang luhur, yang berakar dari Al-Qur’an dan teladan Rasulullah.
Guru sejati dalam pandangan Islam bukan hanya penyampai pelajaran, tetapi pembangun jiwa dan peradaban. Ia tidak hanya mengajarkan huruf, tetapi menyalakan cahaya iman dalam hati murid-muridnya. Dan selama nilai-nilai Qur’ani itu dijaga, profesi guru akan selalu menjadi jalan mulia menuju ridha Allah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









