Akurat

Fenomena Cuaca Panas di Indonesia, Sudah Tertulis dalam Al-Qur’an?

Fajar Rizky Ramadhan | 16 Oktober 2025, 07:30 WIB
Fenomena Cuaca Panas di Indonesia, Sudah Tertulis dalam Al-Qur’an?

AKURAT.CO Beberapa pekan terakhir, masyarakat di berbagai wilayah Indonesia merasakan suhu udara yang sangat menyengat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa suhu udara mencapai kisaran 34 hingga 37 derajat Celsius di sejumlah daerah seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali.

Fenomena ini disebut sebagai efek dari pergeseran posisi semu matahari ke arah selatan yang menyebabkan sinar matahari jatuh lebih tegak lurus di wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan.

Meski secara ilmiah dijelaskan sebagai akibat pergerakan orbit bumi dan perubahan arah sinar matahari, sebagian umat Islam bertanya-tanya: apakah fenomena panas seperti ini juga pernah disebutkan atau disinggung dalam Al-Qur’an? Apakah Al-Qur’an memuat tanda-tanda tentang perubahan iklim dan suhu ekstrem yang kini terjadi di dunia modern?

Pertanyaan ini menarik, karena Islam memandang bahwa seluruh fenomena alam merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Alam bukan sekadar latar kehidupan manusia, tetapi juga “ayat kauniyah” — tanda-tanda kebesaran Tuhan yang dapat dibaca sebagaimana kita membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

1. Al-Qur’an Menyebut Panas Sebagai Salah Satu Unsur Ujian Kehidupan

Dalam QS. Al-Anbiya ayat 35, Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan hanya kepada Kami kamu akan dikembalikan.”

Panas ekstrem, kekeringan, dan perubahan cuaca termasuk bentuk ujian yang menguji kesabaran manusia. Dalam tafsir klasik Al-Qurthubi, dijelaskan bahwa ujian bisa datang dalam bentuk kesulitan alamiah, seperti bencana, kelaparan, atau panas terik yang menguji ketahanan iman dan akhlak manusia.

Dengan demikian, fenomena panas yang melanda Indonesia bukanlah hal baru dalam sejarah umat manusia. Al-Qur’an menegaskan bahwa perubahan alam adalah bagian dari sistem ujian kehidupan yang bertujuan agar manusia tidak lalai dan tetap sadar akan ketergantungan pada Sang Pencipta.

Baca Juga: Cuaca Panas Melanda Indonesia, Ini Doa agar Selamat

2. Fenomena Panas dan Kekeringan Dikisahkan pada Kaum Terdahulu

Dalam beberapa ayat, Al-Qur’an menggambarkan kondisi panas ekstrem yang menimpa umat terdahulu. Salah satunya dalam kisah kaum ‘Ad yang dibinasakan dengan angin panas yang sangat kering:

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ

Artinya: “Adapun kaum ‘Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat kencang lagi sangat dingin.” (QS. Al-Haqqah: 6)

Dalam tafsir Ibn Katsir, disebutkan bahwa “rih sharsar” adalah angin panas kering yang merusak tumbuhan dan menghanguskan kulit. Meski konteksnya adalah azab, ayat ini menunjukkan bahwa perubahan cuaca ekstrem — panas atau dingin — sudah dikenal sejak masa lampau dan menjadi bagian dari dinamika alam yang diciptakan Allah sebagai peringatan bagi manusia.

3. Al-Qur’an Menjelaskan Keseimbangan Matahari dan Bumi

Fenomena cuaca panas di Indonesia sesungguhnya mencerminkan keseimbangan tata surya yang telah diatur dengan presisi oleh Allah. Dalam QS. Yasin ayat 38–40, Allah menegaskan:

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ
لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۚ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Artinya: “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Itulah ketetapan (aturan) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga ia kembali seperti tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan, dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.”

Ayat ini menunjukkan keteraturan kosmik yang menjadi dasar dari semua fenomena iklim di bumi. Pergeseran orbit matahari yang kini dijelaskan secara ilmiah oleh BMKG ternyata sudah disinggung Al-Qur’an sejak lebih dari 14 abad yang lalu.

Matahari dan bumi berjalan pada orbit yang tetap, dan perubahan posisi keduanya menghasilkan variasi musim, suhu, serta intensitas cahaya yang kita rasakan.

4. Peringatan tentang Ketidakseimbangan Alam akibat Ulah Manusia

Selain menjelaskan sistem alam yang seimbang, Al-Qur’an juga memperingatkan bahwa kerusakan di bumi — termasuk perubahan iklim ekstrem — dapat terjadi akibat tangan manusia. Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Ayat ini terasa sangat relevan dengan kondisi saat ini. Penebangan hutan, polusi udara, urbanisasi yang tidak terkendali, dan penggunaan energi fosil berlebihan menjadi penyebab naiknya suhu global.

Maka, panas ekstrem yang dirasakan manusia tidak hanya akibat alami, tetapi juga refleksi dari kerusakan ekologis yang diakibatkan oleh kelalaian manusia menjaga bumi.

5. Pesan Spiritual: Panas Dunia Sebagai Pengingat Panas Akhirat

Rasulullah ﷺ bersabda, “Panas yang kalian rasakan adalah hembusan dari neraka Jahannam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyadarkan bahwa panas dunia hanya sebagian kecil dari panas akhirat.

Ketika seseorang merasa gerah, ia diingatkan agar memperbanyak doa dan amal kebaikan sebagai bentuk perlindungan diri, baik di dunia maupun di akhirat. Doa yang diajarkan Nabi ketika merasakan panas antara lain:

اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنْ حَرِّ نَارِكَ

Allāhumma ajirnī min ḥarri nārik.

Artinya: “Ya Allah, lindungilah aku dari panasnya api neraka-Mu.”

Doa ini mengandung makna simbolik: bahwa panas dunia bisa menjadi peringatan agar manusia tidak lengah terhadap kehidupan setelah mati.

Baca Juga: Mengenal Mediasi dalam Islam: Apa yang Boleh dan yang Tidak Boleh dalam Perdamaian

Dengan demikian, fenomena cuaca panas di Indonesia memang dapat dibaca sebagai bagian dari ayat-ayat kauniyah yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Kitab suci ini tidak hanya menjelaskan aspek spiritual kehidupan, tetapi juga mengandung isyarat ilmiah tentang sistem alam semesta yang teratur dan saling bergantung.

Panas yang menyengat hari ini seharusnya tidak sekadar dihadapi dengan kipas dan air minum, tetapi juga dengan introspeksi, doa, dan kesadaran ekologis. Karena pada akhirnya, setiap fenomena alam adalah pesan Tuhan agar manusia kembali bersyukur, menjaga bumi, dan tidak melampaui batas dalam memperlakukan ciptaan-Nya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.