Cuaca Ekstrem dalam Al-Qur'an, Ini Hikmah di Dalamnya

AKURAT.CO Fenomena cuaca ekstrem yang kini sering terjadi—seperti hujan lebat disertai banjir, angin kencang, kekeringan, dan panas terik—bukanlah hal baru dalam pandangan Al-Qur’an.
Kitab suci umat Islam telah mencatat berbagai peristiwa alam serupa sebagai bentuk peringatan, ujian, sekaligus tanda kebesaran Allah.
Dalam pandangan Islam, cuaca ekstrem bukan semata-mata gejala alam, melainkan bagian dari sunnatullah, yakni hukum alam yang Allah tetapkan agar manusia belajar mengambil hikmah.
Al-Qur’an menyebutkan banyak kisah umat terdahulu yang diuji dengan bencana alam karena kedurhakaan mereka. Salah satunya kisah kaum ‘Ad yang ditimpa angin sangat kencang dan dingin sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Haqqah ayat 6:
وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ
Artinya: “Adapun kaum ‘Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang.” (QS. Al-Haqqah: 6)
Ayat ini menunjukkan bahwa bencana bisa menjadi bentuk peringatan agar manusia tidak sombong terhadap kekuasaan Allah. Namun, tidak semua peristiwa alam yang keras bermakna azab. Dalam banyak ayat lain, Al-Qur’an menegaskan bahwa angin, hujan, dan petir adalah tanda kebesaran-Nya. Firman Allah dalam Surah Ar-Rum ayat 48:
اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ
Artinya: “Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut kehendak-Nya.” (QS. Ar-Rum: 48).
Baca Juga: 5 Tips Mediasi agar Sukses dan Membuahkan Hasil dalam Perspektif Islam
Ayat ini menegaskan bahwa dinamika cuaca sepenuhnya berada di bawah kendali Allah, dan dari proses itulah hujan—sumber kehidupan—diturunkan. Artinya, di balik cuaca ekstrem sekalipun, ada hikmah dan rahmat yang tersembunyi.
Hikmah utama dari fenomena cuaca ekstrem adalah mengingatkan manusia agar tidak lalai dan kembali kepada Allah. Dalam keadaan genting, manusia biasanya lebih sadar akan keterbatasannya dan berserah diri kepada Sang Pencipta.
Selain itu, cuaca ekstrem mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Ketika manusia mengeksploitasi alam tanpa kendali, maka keseimbangan itu rusak dan efeknya kembali kepada manusia sendiri.
Oleh karena itu, Islam menuntun umatnya untuk menghadapi cuaca ekstrem dengan sikap sabar, tawakal, dan introspeksi diri. Rasulullah SAW mengajarkan agar setiap kali muncul tanda-tanda cuaca berat, seperti angin kencang atau petir, seorang Muslim hendaknya berdoa, memperbanyak istighfar, serta memperkuat amal saleh.
Baca Juga: Apa Itu Mediasi dan Urgensinya dalam Perspektif Islam?
Cuaca ekstrem bukan semata ancaman, melainkan cermin bagi manusia agar memahami hakikat kehidupan: bahwa di balik badai ada rahmat, dan di balik ketakutan ada pelajaran spiritual yang mendalam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









