Akurat

Sholawat Asyghil: Doa Perlindungan dari Kezaliman dan Simbol Cinta kepada Rasulullah

Herry Supriyatna | 17 Juli 2025, 00:00 WIB
Sholawat Asyghil: Doa Perlindungan dari Kezaliman dan Simbol Cinta kepada Rasulullah

AKURAT.CO Sholawat Asyghil bukan sekadar untaian pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Lebih dari itu, ia menjadi bentuk doa yang sarat makna spiritual dan sosial.

Sholawat ini diyakini mampu menghadirkan ketenangan batin sekaligus perlindungan dari kezaliman, sehingga banyak diamalkan di berbagai majelis taklim, pesantren, hingga sebagai wirid harian umat Islam.

Sholawat Asyghil populer melalui jalur sanad para ulama Ahlussunnah wal Jamaah.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal sebagai Gus Baha’, menjelaskan bahwa sholawat ini berasal dari doa-doa para orang saleh terdahulu—sebuah munajat yang lahir dari kegelisahan sosial dan keinginan akan keadilan.

Dalam teksnya, terdapat permohonan kepada Allah SWT agar menyibukkan para pelaku kezaliman dengan sesama mereka, dan menyelamatkan umat dari jeratan kekuasaan yang menindas.

Dengan kata lain, Sholawat Asyghil adalah bentuk ikhtiar batin agar kezaliman tidak lagi merajalela.

Baca Juga: KPK Telusuri Aliran Uang Korupsi ASDP untuk Beli Properti, Emas, Valas hingga Kripto

Lafal Sholawat Asyghil dan Artinya

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammadin wa asyghilidz dzâlimîna bidz dzâlimîna wa akhrijna min bainihim sâlimîn, wa ‘ala âlihi wa shahbihi ajma’în.

Artinya: "Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad. Sibukkanlah orang-orang zalim dengan sesamanya, dan keluarkanlah kami dari tengah-tengah mereka dalam keadaan selamat. Limpahkan pula rahmat kepada keluarga dan sahabat beliau seluruhnya."

Sholawat Asyghil memiliki kekuatan yang melampaui dimensi ritual. Dalam pandangan para ulama, ia merupakan bentuk perlawanan spiritual terhadap ketidakadilan.

Membacanya bukan hanya bermakna doa, melainkan juga manifestasi solidaritas terhadap sesama yang tertindas.

Gus Baha’ menekankan bahwa kekuatan doa ini bisa menjadi benteng moral di tengah fitnah kekuasaan dan tekanan hidup.

Dalam konteks kekinian, Sholawat Asyghil dapat menjadi medium kontemplatif yang menyatukan semangat keagamaan dan kepedulian sosial.

Lebih dari Sekadar Doa

Banyak majelis ilmu, pesantren, hingga komunitas Muslim menjadikan Sholawat Asyghil sebagai bacaan rutin. Hal ini mencerminkan keyakinan bahwa sholawat tersebut mampu:

  • Menguatkan jiwa dalam menghadapi kezaliman,

  • Menumbuhkan empati sosial,

  • Membangun solidaritas,

  • Menanamkan cinta yang tulus kepada Nabi Muhammad SAW.

Sholawat Asyghil adalah doa yang hidup—mengalir dari hati yang merindukan keadilan, tertuju kepada Sang Nabi tercinta, dan membangun harapan akan dunia yang lebih damai.

Baca Juga: Wamendagri: Mitigasi dan Koordinasi Jadi Kunci Sukses PSU dan Pilkada Ulang

Di tengah situasi yang tak menentu, membacanya bukan hanya membawa ketenangan, tetapi juga menyuarakan harapan: agar cahaya kebenaran senantiasa menang atas kegelapan kezaliman.

 

Laporan: Salsabilla Nur Wahdah/magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.