Akurat

5 Tradisi 10 Muharram di Indonesia yang Jarang Banyak Orang Tahu

Lufaefi | 6 Juli 2025, 13:59 WIB
5 Tradisi 10 Muharram di Indonesia yang Jarang Banyak Orang Tahu

AKURAT.CO Hari ke-10 dalam bulan Muharram, yang dikenal sebagai Hari Asyura, bukan sekadar momentum ritual ibadah semata bagi umat Islam.

Di Indonesia, hari ini berkembang menjadi tradisi budaya yang mempertemukan nilai-nilai keagamaan dengan kearifan lokal yang kaya makna sosial.

Tradisi 10 Muharram di berbagai daerah Nusantara menunjukkan betapa agama dan budaya bisa bersinergi membentuk identitas keislaman yang ramah dan membumi.

Secara teologis, Hari Asyura memang memiliki kedudukan istimewa. Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan puasa di hari itu:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Artinya: “Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim)

Namun, tradisi Asyura di Indonesia tak sekadar diisi dengan ibadah puasa. Berbagai daerah memaknainya dengan ragam kegiatan sosial dan budaya yang memperkuat ukhuwah Islamiyah dan solidaritas sosial. Inilah beberapa contoh tradisi 10 Muharram di tanah air:

1. Lebaran Anak Yatim (Idul Yatama)

Di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta, dan Banten, 10 Muharram kerap disebut sebagai Lebaran Anak Yatim. Pada hari ini, masyarakat mengadakan acara santunan, memberikan hadiah, dan merayakan kebahagiaan bersama anak-anak yatim. Ini merujuk pada sabda Rasulullah SAW:

مَنْ مَسَحَ رَأْسَ الْيَتِيمِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً فِي الْجَنَّةِ

Artinya: “Barang siapa mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, maka Allah akan mengangkat derajatnya di surga sebanyak rambut yang diusap.” (Riwayat dengan sanad dhaif, namun diamalkan sebagai motivasi amal sosial)

Baca Juga: Hadits Keutamaan Puasa Tasu’a dan Asyura, Amalan Sunnah yang Keutamaannya Luar Biasa

2. Bubur Asyura

Di Sumatera Barat, Aceh, Kalimantan Selatan, dan beberapa daerah lain, warga bergotong royong memasak Bubur Asyura—sejenis bubur khas yang terbuat dari berbagai bahan pangan sebagai simbol syukur atas nikmat Allah SWT. Tradisi ini melatih kebersamaan warga, sekaligus menjadi media berbagi rezeki kepada sesama.

3. Tabuik Pariaman

Di Pariaman, Sumatera Barat, peringatan 10 Muharram dikenal dengan tradisi Tabuik, berupa arak-arakan menara besar berbentuk kuda bersayap yang merepresentasikan Buraq.

Tradisi ini merupakan akulturasi budaya Persia yang menghormati perjuangan Sayyidina Husain di Karbala. Meski ada unsur budaya lokal, pesan moralnya tetap tentang penghormatan dan duka cita atas perjuangan keluarga Nabi Muhammad SAW.

4. Zikir dan Doa Bersama

Di berbagai daerah seperti Madura, Banyuwangi, dan Lombok, malam Asyura diisi dengan zikir, pembacaan doa akhir dan awal tahun Hijriah, serta tausiyah. Acara ini kerap ditutup dengan makan bersama dalam suasana kekeluargaan yang hangat.

5. Mandi Asyura

Di wilayah pesisir seperti Bima dan beberapa kawasan NTB, ada tradisi mandi bersama di sungai atau laut pada pagi hari 10 Muharram. Masyarakat percaya bahwa mandi ini membawa berkah dan membersihkan diri dari dosa, meski tidak ada dalil khusus yang mewajibkan hal tersebut. Ulama lokal umumnya membolehkan tradisi ini selama tidak diyakini sebagai ibadah wajib.

Baca Juga: Bolehkah Umat Muslim Hanya Menjalankan Puasa Asyura Tanpa Tasua?

Semua tradisi ini pada dasarnya merupakan wujud ekspresi syukur dan solidaritas. Ulama menegaskan bahwa selama tradisi tersebut tidak bertentangan dengan syariat dan tidak mengandung keyakinan yang keliru—seperti mempercayai bahwa 10 Muharram adalah hari sial atau mengharuskan ritual tertentu yang tidak diajarkan Nabi—maka tradisi itu sah-sah saja sebagai bentuk budaya lokal yang memperkaya Islam Nusantara.

Hari Asyura mengajarkan kita banyak hal: tentang perjuangan, tentang pengorbanan, tentang kepedulian kepada yang lemah, serta tentang pentingnya mempererat tali silaturahmi di tengah keberagaman umat Islam Indonesia.

Inilah warisan spiritual sekaligus budaya yang seharusnya terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Dengan semangat ini, 10 Muharram menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, membangun solidaritas sosial, serta mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat yang majemuk.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.