Akurat

Asyura: Arti, Sejarah, dan Hikmah Hari Ke-10 Bulan Muharram

Fajar Rizky Ramadhan | 5 Juli 2025, 16:59 WIB
Asyura: Arti, Sejarah, dan Hikmah Hari Ke-10 Bulan Muharram

AKURAT.CO Dalam kalender Hijriah, bulan Muharram memiliki kedudukan istimewa sebagai salah satu bulan haram, yaitu bulan yang dimuliakan oleh Allah.

Di antara hari-hari yang paling dikenal dalam bulan ini adalah tanggal 10 Muharram, yang disebut sebagai Hari Asyura.

Asyura bukan sekadar tanggal dalam kalender Islam, melainkan memiliki makna historis dan spiritual yang mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia.

Secara etimologis, kata Asyura berasal dari bahasa Arab عَاشُورَاء yang berarti “hari kesepuluh”. Nama ini merujuk langsung pada tanggal 10 bulan Muharram.

Hari Asyura telah dikenal bahkan sebelum Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad, sebagai hari penting bagi kaum Yahudi yang merayakannya sebagai hari kemenangan Nabi Musa dan kaum Bani Israil dari kejaran Firaun.

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda ketika beliau hijrah ke Madinah dan melihat kaum Yahudi berpuasa di hari Asyura:

نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ

“Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.”

Lalu Rasulullah SAW pun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa.

Namun, sejarah Asyura tidak berhenti di sana. Dalam perjalanan sejarah Islam, Hari Asyura juga dikenang sebagai hari syahidnya cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husain bin Ali, dalam tragedi Karbala pada tahun 61 Hijriah.

Peristiwa ini menjadi luka mendalam dalam sejarah umat Islam, khususnya bagi kalangan Syiah, yang memperingatinya dengan duka dan refleksi.

Baca Juga: 3 Alasan Islam Mengharamkan Sound Horeg: Mengganggu, Simbol Fasik, dan Picu Kemaksiatan

Selain sejarahnya yang penuh makna, Asyura juga menyimpan banyak hikmah. Salah satu amalan utama pada hari ini adalah berpuasa. Dalam hadis riwayat Muslim, disebutkan bahwa puasa pada hari Asyura dapat menghapus dosa-dosa kecil setahun yang lalu.

Puasa Asyura juga dianjurkan untuk dikombinasikan dengan puasa sehari sebelumnya, yaitu tanggal 9 Muharram (Tasua), sebagaimana disebutkan dalam hadis:

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

“Jika aku masih hidup tahun depan, aku akan berpuasa juga pada hari kesembilan (Tasua).” (HR. Muslim)

Selain puasa, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak sedekah, menyantuni anak yatim, mempererat silaturahmi, serta memperbanyak zikir dan doa pada hari Asyura. Semua ini bertujuan untuk memperkuat hubungan dengan Allah dan memperbaiki hubungan antarsesama manusia.

Hikmah utama dari Hari Asyura adalah mengingatkan umat Islam tentang pentingnya kesabaran dalam menghadapi ujian hidup, keteguhan dalam memperjuangkan kebenaran, dan keikhlasan dalam mengabdi kepada Allah. Nabi Musa, dengan izin Allah, berhasil keluar dari kezaliman Firaun. Imam Husain, meski syahid, menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.

Melalui Asyura, umat Islam diajak merenungkan bahwa kemenangan sejati bukan semata-mata tentang keberhasilan duniawi, tetapi tentang keteguhan hati dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran.

Baca Juga: Doa Hari Asyura 10 Muharram untuk Umat Islam Agar Hidup Tambah Berkah

Hari ini menjadi ajang refleksi spiritual agar umat Islam tidak sekadar terjebak dalam rutinitas ibadah, tetapi mampu mengambil pelajaran hidup yang relevan untuk zaman sekarang.

Dengan memahami arti, sejarah, dan hikmahnya, semoga Hari Asyura tidak hanya menjadi momentum seremonial tahunan, tetapi menjadi inspirasi hidup yang menggerakkan hati dan perbuatan menuju kehidupan yang lebih berkah dan bermakna.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.