AKURAT.CO Tahun Baru Islam dan 1 Suro kerap dirayakan secara bersamaan oleh masyarakat Indonesia, terutama umat Muslim dan masyarakat Jawa. Namun, apakah kedua penanggalan tersebut benar-benar sama?
Tahun Baru Islam jatuh pada 1 Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah yang berdasarkan sistem qomariyah atau peredaran bulan. Pada malam 1 Muharram, umat Islam biasanya memanjatkan doa sebagai bentuk muhasabah, refleksi diri, dan permohonan ampun atas kesalahan selama satu tahun terakhir.
Sementara itu, 1 Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa yang juga menggunakan sistem qomariyah. Tradisi 1 Suro sering kali diisi dengan berbagai ritual budaya seperti kirab, doa bersama, hingga tapa brata atau laku prihatin.
Secara historis, kalender Jawa awalnya mengadopsi kalender Saka yang bersifat solar (matahari). Namun pada tahun 1633 Masehi, Sultan Agung dari Kesultanan Mataram menetapkan perubahan dengan menggabungkan kalender Hijriah dan kalender Saka. Sejak saat itu, kalender Jawa resmi menggunakan sistem qomariyah, namun tetap melanjutkan penomoran tahun Saka. Hal ini membuat angka tahun Jawa biasanya lebih besar dibanding Hijriah.
Walau sistem dasar keduanya serupa, siklus tahun kabisat dalam kalender Hijriah dan Jawa berbeda. Kalender Hijriah memiliki 11 tahun kabisat setiap 30 tahun, sedangkan kalender Jawa memiliki 3 tahun kabisat dalam satu windu (8 tahun), atau 45 tahun kabisat setiap 120 tahun. Perbedaan ini menyebabkan 1 Muharram dan 1 Suro tidak selalu jatuh pada tanggal yang sama.
Baca Juga: Apakah Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H Ditetapkan Sebagai Tanggal Merah?
Contohnya pada tahun 2024, 1 Muharram 1446 H jatuh pada 7 Juli, sedangkan 1 Suro 1958 Je jatuh sehari setelahnya, 8 Juli. Namun pada tahun 2025, keduanya kembali bertepatan. Baik 1 Muharram 1447 H maupun 1 Suro 1959 Dal jatuh pada Jumat Kliwon, 27 Juni 2025.
Baik Tahun Baru Islam maupun 1 Suro memiliki makna yang dalam bagi masyarakat. Muharram, dikenal sebagai "bulan Allah", merupakan salah satu bulan suci dalam Islam. Pada bulan ini, umat dianjurkan meningkatkan ibadah, memperbanyak amal, serta menjauhi pertumpahan darah. Di antara amalan utama dalam Muharram adalah puasa Asyura pada tanggal 10.
Sedangkan 1 Suro, dalam budaya Jawa, adalah momentum sakral yang penuh makna spiritual. Tradisi seperti kirab kerbau bule Kyai Slamet di Keraton Surakarta atau ritual mubeng beteng di Yogyakarta menunjukkan cara masyarakat Jawa memaknai awal tahun sebagai saat yang tepat untuk menjaga harmoni antara manusia dan alam semesta.
Menariknya, istilah "Suro" berasal dari kata "Asyura" dalam bahasa Arab, yang berarti sepuluh. Kata ini kemudian dilafalkan dan diadaptasi oleh masyarakat Jawa menjadi "Suro". Ini menjadi salah satu bukti akulturasi Islam dan budaya lokal yang berkembang harmonis selama berabad-abad.
Pemerintah Indonesia menetapkan 1 Muharram sebagai hari libur nasional melalui SKB 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2025. Tahun Baru Islam 2025 yang jatuh pada Jumat, 27 Juni, bertepatan pula dengan akhir pekan, menciptakan libur panjang selama tiga hari berturut-turut.
Baca Juga: Naskah Khutbah Jumat: Muharram dan Masa Depan Dunia Islam
Masyarakat umumnya mulai memperingati Tahun Baru Islam dan 1 Suro sejak petang hari sebelumnya, yakni Kamis, 26 Juni 2025, karena penanggalan Hijriah dan Jawa sama-sama dimulai sejak terbenam matahari.
Dengan latar belakang yang berbeda, namun nilai spiritual yang serupa, 1 Muharram dan 1 Suro menjadi momen penting yang tidak hanya dirayakan secara religius, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 8Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 9Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 10Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik









